logo rilis
Rocky Gerung: Reformasi yang Tidak Tuntas
Kontributor
Fatkhurohman Akbar
13 Maret 2018, 22:58 WIB
Rocky Gerung: Reformasi yang Tidak Tuntas
ILUSTRASI: RILIS.ID/Hafidz F Kaliet

RILIS.ID, Jakarta— Dosen Filsafat Universitas Indonesia, Rocky Gerung, mengatakan, reformasi membawa harapan baru yang tak tuntas. Pasalnya, mental transaksional orde baru terbawa masuk ke dalam sistem politik sampai hari ini.

Hal tersebut dipaparkan Peneliti Perhimpunan Pendidikan Demokrasi itu, melalui akun resmi twitter-nya @rockygerung, Selasa (13/3/2018). Berikut kultwit lengkapnya:

1. Negeri ini didirikan dengan gagasan yang kuat: merdeka untuk kesejahteraan dan kecerdasan bangsa.

2. Keadilan sosial adalah ide yang melekat pada para pendiri bangsa. Kolonialisme dan sejarah penderitaan manusia mendasari ide itu. Sosialisme, terutama, adalah pengetahuan bersama mereka. Otodidak.

3. Bahkan dalam pandangan politik islam, sosialisme adalah dasar kuat keadilan. Ide sarekat islam, tumbuh dari pengalaman kongkrit penderitaan sosial manusia. Kolonialisme adalah perpanjangan kapitalisme.

4. Akumulasi pengetahuan, tumbuh bersama kritik intelektual yang keras antara para pemikir bangsa. Tapi tak ada permusuhan pribadi. Sangat dewasa.

5. Tapi ada masa menjelang kemerdekaan, ketika para pemikir bangsa ditangkap Belanda, diskursus intelektual berhenti. Ada kekosongan argumentasi dalam dunia politik. Akibatnya?

6. Kekosongan debat publik menyebabkan muncul kembali paham-paham doktriner: nasionalisme sempit, pandangan agama eksklusif, bahkan ide fasistis masuk dalam mental publik.

7. Debat konstituante untuk menghasilkan “pandangan bernegara” juga kurang maksimal karena beberapa pemikir tak ikut di dalamnya: tan malaka dan sutan sjahrir terutama. Mereka di bawah tanah.

8. Tapi debat bermutu tetap dapat dinikmati dalam sidang panjang konstituante itu. Sampai akhirnya kekuatan fasistis, nasionalisme sempit dan suasana frustrasi membalikkan situasi debat intelektual menjadi buntu.

9. Negeri ini lalu masuk dalam politik otoriter orde lama, berlanjut pada politik militeristik orde baru. Pada era itu, pikiran bebas dimusuhi. Teknokrasi mengefisienkan kampus dan media dengan satu slogan: “Stabilitas Nasional”. Tak ada oposisi.

10. Reformasi membawa harapan baru, tapi juga tak tuntas, karena mental transaksional orde baru terbawa masuk ke dalam sistem politik sampai hari ini. Ok, twips, segini dulu, nanti lanjut setelah gue ngopi… tks!


500
komentar (1)

Indrianti Ismunandar Rabu, 14 Maret 2018 | 00:01
Ngga ada lagi debat serius, selain soal rebutan posisi