logo rilis
Risma Sebut Khofifah 'Keminter', Ada Apa?
Kontributor
Budi Prasetyo
23 Juni 2018, 15:30 WIB
Risma Sebut Khofifah 'Keminter', Ada Apa?
Pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa-Emil Elestianto Dardak. FOTO: RILIS.ID/Indra Kusuma

RILIS.ID, Surabaya— Konstalasi politik di hari-hari menjelang coblosan 27 Juni 2018 semakin menarik. Setelah secara tiba-tiba Walikota Surabaya Tri Rismaharini terlihat berhadap-hadapan dengan Khofifah Indar Parawansa. Salah satu pernyataan Risma yang viral adalah menyebut Calon Gubernur Jawa Timur Khofifah ‘Keminter’ atau dalam Bahasa Indonesia berarti ‘Sok Pandai’.

Fenomena politik apakah hal ini? Pengamat Politik Unair, Airlangga Pribadi PHd, menyebut, sebagai walikota perempuan pertama di Surabaya, Risma memiliki kekuatan elektabilitas cukup tinggi di dua kali pilwali. Sehingga, perannya cukup diperlukan untuk mendongkrak suara bagi paslon Saifullah Yusuf-Puti Guntur yang didukung PDI-P, tempat Risma berpartai. 
“Hanya saja, kalau power tersebut tidak di dikontrol dengan baik, malah bisa jadi boomerang bagi calon yang didukung,” ujar Airlangga, Sabtu (23/6/2018). 

Menurut akademisi yang akrab disapa Angga ini, pernyataan yang menggebu-nggebu dan dominasi Risma beberapa waktu belakangan ini belum tentu bermanfaat bagi Paslon Gus Ipul-Puti. Sebaliknya, malah menjadi kontraproduktif karena seakan-akan Risma berhadap-hadapan dengan Khofifah. Padahal Risma bukanlah calon gubernur yang sedang berlaga di Pilgub Jatim.

“Kita harus ingat yang bertarung di pilgub Jatim ini Gus Ipul melawan Khofifah, Bukan Risma versus Khofifah,” sebut dosen Ilmu Politik Universitas Airlangga ini. 
Karena, siapapun yang terpilih nanti Bu Risma tetap menjadi walikota Surabaya. 

“Artinya yang kita ingin saksikan adalah bagaimana antara KIP dan GI saling beradu argumen dan program,  bukan antara KIP dan Bu Risma,” imbuhnya lagi.

Apa yang dilakukan Tri Rismaharni, lanjut Angga, menjadi efektif ketika Risma menjadi kandidat calon gubernur Jatim. Namun pada realitasnya, Risma dari awal memilih enggan maju. “Kenapa waktu dulu mau dicalonkan PDIP untuk menjadi kandidat calon gubernur bu Risma tidak mau. Kalau Bu Risma maju, barulah bisa menggunakan cara-cara seperti itu,” terangnya.

Ditambahkan Angga, gerakan Risma dengan cara yang terlalu menggebu-nggebu yang pada puncaknya cenderung menyerang Khofifah menjadi tidak berdampak besar untuk mendulang suara kepada Gus Ipul. Ini bisa dilihat dari survey terakhir suara di Surabaya antara KIP dan GI imbang. Kemarin (22/6) Hasil survey dari Lembaga Saiful Mujani Research Centre di Kota Surabaya GI-Puti dan Khofifah-Emil sama-sama meraih 45 persen suara. Padahal Pilwali Surabaya 2015 lalu Risma memperoleh 86 persen suara. “Cara yang dilakukan Bu Risma ini, tidak terlalu signifikant berdampak pada tingkat keterpilihan Gus ipul,” sebutnya.

Sebagai akademisi yang banyak malang melintang dalam strategi politik di Jawa Timur dan nasional,  Angga memberikan saran agar Walikota Surabaya Tri Rismaharini tetap 'cool' dalam berkampanye.

Contoh yang lebih pas bisa dilihat dari seorang Pakde Karwo (Soekarwo, Gubernur Jatim). Meskipun Pakde Karwo adalah Ketua DPD Partai Demokrat Jawa Timur, namun tidak sekalipun ‘menyerang’ lawan politiknya di Pilgub Jatim 2018 ini. Pakde Karwo cenderung santai dan 'soft'. Tapi gerakan untuk memenangkan calon yang didukung partainya lebih terukur tepat sasaran.

“Saran saya Bu Risma tetap cool saja dalam berkampanye. Kampanye lebih santai tentu lebih bagus hasilnya. Coba bandingkan dengan Pakde Karwo, yang mendukung Khofifah tapi soft dalam kampanye. Tidak menggebu-nggebu,” pungkas peraih PhD dari the Asian Studies Centre, Murdoch University sekaligus Direktur Centre of Statecraft and Citizenship Studies, Universitas Airlangga tersebut.

Editor: Elvi R


komentar (0)