logo rilis
RI Jadi Anggota Tidak Tetap DK PBB, JK: Fokusnya Perdamaian Dunia
Kontributor
Sukma Alam
11 Juni 2018, 11:46 WIB
RI Jadi Anggota Tidak Tetap DK PBB, JK: Fokusnya Perdamaian Dunia
Wapres JK. FOTO: RILIS.ID/Indra Kusuma

RILIS.ID, Jakarta— Wakil Presiden RI Jusuf Kalla (JK) mengatakan, peran Indonesia sebagai Anggota Tidak Tetap Dewan Keamanan (DK) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ialah mengutamakan penjagaan perdamaian negara-negara dunia.

"Fokusnya tentu perdamaian dunia, namanya saja Dewan Keamanan, itu bagaimana memberi kedamaian dan perdamaian di dunia ini. Jadi, atensi (perhatian) Indonesia adalah menjaga stabilitas dan keamanan daripada negara lain," kata Wapres Jusuf Kalla di Tokyo, Senin (11/6/2018).

Sejumlah persoalan terkait perwujudan perdamaian di negara-negara yang sedang berkonflik menjadi perhatian Indonesia, seperti rekonsiliasi semenanjung Korea, Afganistan dan juga Rohingya, Myanmar.

"Pertemuan antara Korea Utara dan Korea Selatan itu satu soal selesai. Upaya kita di Afghanistan kita harapkan juga bisa berjalan baik. Apa yang terjadi di Rohingya itu juga masalah-masalah yang dibicarakan di PBB," tambahnya.

Terpilihnya kembali Indonesia sebagai Anggota Tidak Tetap DK-PBB untuk keempat kalinya, salah satunya merupakan upaya lobi yang dilakukan Jusuf Kalla setiap kali hadir dalam sidang Majelis Umum PBB di New York.

Ia mengatakan Pemerintah telah bekerja keras dan melakukan yang terbaik sehingga Indonesia dapat kembali dipercaya untuk terlibat langsung dalam proses perdamaian negara-negara dunia.

"Semua bekerja dengan baik, Bu Menlu (Retno Marsudi) dan stafnya itu melobi. Saya juga tentu apabila hadir di PBB itu hampir semua acara-acara, kita hadir untuk melobi negara-negara anggota lain," katanya.

Terkait jumlah perolehan suara Indonesia yang mengalahkan Maladewa dalam pemungutan suara di PBB, ia mengatakan hal itu disebabkan oleh pengalaman Indonesia terlibat langsung dengan mengirimkan Kontingen Garuda bergabung dengan pasukan perdamaian PBB.

"Kalau di voting itu kan suara negara besar dan negara kecil sama saja. Kalau kita kalah dengan negara besar seperti Jepang, India mungkin ya tidak apa-apa. Tapi kalau kalah dengan Maladewa kan kelewatan. Tetapi Maladewa itu pintar juga, dia mengemukakan karena dia negara kecil maka minta kesempatan," ujarnya.

Sumber: ANTARA


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)