logo rilis
Resiko Rizieq
Khairul Anom
Jumat, 27/04/2018 15.44
infografis

Bagi Jenderal Wiranto, mungkin tak pernah terbayangkan jika Rizieq Shihab akan sebesar itu. Panggung aksi 212 yang menjadi mercusuar gugatan isu penistaan agama oleh Ahok, telah melejitkan nama Sang Habib. Ia tidak lagi dikenal sebagai komandan Front Pembela Islam, tetapi episentrum berbagai kalangan muslim. Bahkan ia ditahbiskan sebagai Imam Besar Umat Islam.

Bukan cerita baru jika Wiranto dan Rizieq adalah sohib lama. Boleh di bilang, Wiranto adalah salah satu orang yang membuka jalan bagi ketokohan ulama petamburan ini. FPI yang terbentuk melalui rintisan Pam Swakarsa 1998, rupanya menemukan momentum dan positioning yang pas hingga tak terbendung. Kata "front pembela" adalah brand ciamik yang menjadi magnet bagi kelompok Islam yang merasa termarjinalkan. Meskipun tak bisa diabaikan jika eksistensi FPI ada juga faktor tukar-menukar kepentingan dengan pihak keamanan. 

Tapi Rizieq Shihab bukan ulama yang mudah dikuasai. Sikap kerasnya yang terus membentur Jokowi, akhirnya membikin gerah juga pihak penguasa. Dan pilihan untuk membungkan Rizieq pun ditempuh. Apalagi pihak keamanan yang selama ini kerap menjadi kawan seiring, merasa punya banyak "kartu as" atas putra Habib Hussein ini. Baik "kartu umum" maupun "kartu privat".

Rizieq pun terpaksa menyingkir ke Arab Saudi atas jeratan chat mesum dengan Firza Hussein. Sebenarnya para pendukungnya telah berusaha untuk memulangkan Rizieq dengan selamat dari pemolisian. Tapi selalu kandas sekalipun telah dilakukan upaya negosiasi dan menarik dukungan orang-orang berpengaruh. Penguasa terus bergeming tak mau memberikan "kartu selamat' bagi Rizieq.

Tapi kepergian Rizieq tampaknya tak jua membuat Jokowi lega. Serangan atas dirinya sebagai sosok anti Islam tak juga mereda. Dan ini akan berbahaya jika tak dituntaskan menjelang Pilpres 2019. Jokowi yang selama ini dingin menghadapi kelompok garis keras, menunjukkan tanda-tanda ingin melunak. Ia bersedia menemui petinggi Alumni 212. Jalan tengah perdamaian menunjukkan tanda-tanda terbuka. Apalagi Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko memberi sinyal adanya "pertimbangan presiden".


komentar (0)