logo rilis
Rentetan Aksi Teror Bom Cemaskan Pasar, Rupiah Sulit Menguat
Kontributor
Elvi R
17 Mei 2018, 11:51 WIB
Rentetan Aksi Teror Bom Cemaskan Pasar, Rupiah Sulit Menguat
Mata Uang Rupiah. FOTO: RILIS.ID/Elvi R

RILIS.ID, Jakarta— Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira menyebut teror bom turut menyumbang sulitnya penguatan rupiah. Menurutnya, meski Bank Indonesia diprediksi akan menaikkan bunga acuan 25 bps pada RDG pekan ini sehingga 7 days repo rate menjadi 4,5 persen dan hingga akhir tahun sangat mungkin ada dua kali penyesuaian BI 7 days repo rate secara bertahap sehingga menjadi 4,75 persen. Tapi, tetap tidak akan berpengaruh banyak pada penguatan rupiah.

Hal ini juga diakibatkan, langkah BI terlambat untuk naikan bunga acuan setelah rupiah dan IHSG melorot sejak Maret. Seharusnya, Maret lalu BI sudah menaikkan 25 bps sebagai respon naiknya Fed Rate sebagai upaya menekan keluarnya dana asing.

"Kenaikan bunga acuan efeknya kemungkinan kecil ke penguatan rupiah karena ekspektasi pasar masih cemas soal rentetan aksi terorisme, " ujar Bhima kepada rilis.id, di Jakarta, Kamis (17/5/2018).

"Apalagi, kemarin kan ada serangan lagi di Riau," imbuhnya.

Lebih lanjut, Bhima menyebut, teror bom jadi sentimen negatif  untuk pasar. Justru, sebaliknya, teror bisa meng-offset ekspektasi kenaikan bunga acuan. Belum lagi pelaku pasar mencermati data data fundamental ekonomi yang belum solid misalnya pertumbuhan di kuartal 1 2018 cuma 5,06 persen.

"Kemudian defisit perdagangan bulan April US$1,63 miliar terparah sejak 2014, dan defisit transaksi berjalan terus melebar," katanya.

Jadi, tutur Bhima, meski BI menaikkan 25 bps, Rupiah bisa menguat tapi hanya berkisar pada Rp100-200 per Dolar SD dan sifatnya temporer. 

"Sehingga kurs paska pengumuman RDG BI bergerak di Rp13.800-14.000. Jika ingin rupiah menguat signifikan maka kenaikan bunga acuan idealnya 50 bps. Toh bunga acuan yang naik prediksinya tidak langsung ditransmisikan ke kenaikan bunga kredit," tuturnya.

Kendati demikian, bank akan sangat hati-hati menaikkan bunga kredit karena kondisinya saat ini likuiditas bank masih cukup gemuk dengan CAR 22 persen dan LDR di 89,6 persen. Jadi tidak langsung memberatkan dunia usaha dan perbankan. Justru dengan bunga acuan yang dinaikan, investasi asing masih tertarik masuk ke Indonesia.

"Ada suplai modal asing yang akan kembali ke Indonesia terutama di pasar sekunder. Perusahaan bisa lebih banyak terbitkan obligasi dan saham untuk cari modal alternatif," pungkasnya.

Seperti diwartakan sebelumnya, Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Kamis pagi (17/5/2018) bergerak menguat sebesar 16 poin menjadi Rp14.070 dibanding posisi sebelumnya Rp14.086 per dolar AS.

Analis Binaartha Sekuritas Reza Priyambada mengatakan, pemerintah yang terus berupaya menjaga kesehatan APBN direspon positif sebagian pelaku pasar sehingga rupiah mengalami apresiasi terhadap dolar AS.

"Karena APBN yang sehat merupakan salah satu alat untuk menciptakan lapangan kerja dan mengurangi kemiskinan, dengan begitu ekonomi akan tumbuh berkelanjutan," kata Reza di Jakarta, Kamis (17/5/2018).

Dia menambahkan, harapan pasar terhadap kebijakan Bank Indonesia yang akan menaikan suku bunga acuan (BI 7 day repo rate) turut mempengaruhi pergerakan mata uang rupiah.

"Antisipasi terhadap kebijakan suku bunga acuan Bank Indonesia turut menjaga laju rupiah," kata Reza.


500
komentar (0)