logo rilis
Rekonsiliasi, Bukan Menang-menangan
kontributor kontributor
Dadang Rhs
20 September 2017, 13:59 WIB
Dewan Guru Institut Publik Inisiatif, Redaktur Senior RILIS.ID
Rekonsiliasi, Bukan Menang-menangan

SEPTEMBER 2017. Ketegangan berulang. Ada yang belum terurai. Sejarah dipenuhi kabut. Setelah 50 tahun lebih, pada situasi yang memanas, sejarah negeri ini seolah kerap berhenti di bulan September.

Tragedi 1965. Orde Baru menyebutnya "Penghianatan G30S-PKI". Bung Karno menamainya dengan "Gestok", Gerakan Satu Oktober. Dan, ada juga yang menyebut peristiwa kelam itu dengan Gerakan 30 September (G30S) saja. Tanpa menyematkan nama Partai Komunis Indonesia (PKI) di belakang tragedi yang memilukan ini.

Baca Juga

Sejarah kadang tak lepas dari tafsir. Sebuah fakta yang ditafsirkan dari pelbagai sudut pandang. Ada yang mengatakan bahwa sejarah ditulis oleh para pemenang. Ada adagium yang bilang bahwa sejarah acap ditulis salah, karenanya ia harus ditulis ulang. Sedang menurut Yuval Harari, dalam buku Sapiens, "Sejarah penuh dengan miskalkulasi yang jauh lebih idiotik."

Sejarah September 65 dalam pelbagai tafsir inilah yang kini kembali berada dalam silang pendapat. Setidaknya, hingga hari ini persilangan pandangan atas peristiwa ini mengeras pada beberapa hal. Misalnya, selalu akan terjadi ketegangan saat muncul pertanyaan, siapa dalang peristiwa ini? Siapa yang menjadi korban atas tragedi ini?

52 tahun sudah rentang peristiwa September dengan kita hari ini. Ia menyisakan bara dalam sekam. Saat musim memanas, dengan mudah ia kembali terbakar. Apinya menjalarkan amarah.

Fakta akan tragedi ini berbaur dengan tafsir yang menjadi prasangka. Ada banyak desas-desus yang mengembus. Lalu, kemarahan, dendam, rasa luka menyaputi fakta akan peristiwa kelam ini. Semua menjadi abu-abu. Kadang fakta adalah tafsir atas kenyataan. Dan, tafsir acap bergantung pada konteks situasi ia dibuat. Lalu, sejarah tak lagi ditempatkan sebagaimana ia terjadi, tapi ia dibayangkan sebagai sesuatu yang seharusnya.

Lalu akankah, para pihak yang berseberangan pandangan ini, terus mendekap kelamnya masa silam? Kalau demikian silang pendapat ini seperti jalan yang tak berujung. Rekonsiliasi akan berhenti sebagai retorika.

"Kalau memang kita mau melakukan refleksi, lepaskan dari beban '65. Sudah selesai itu, lepaskan. Kalau kita masih mau ngotot-ngototan, tidak akan ada habisnya." Pernyataan Letjen Purnawirawan Agus Widjojo, menjadi penting. Agus Widjojo, Putra Mayjen Anumerta Sutoyo Siswomiharjo (Pahlawan Revolusi), adalah korban langsung dari Tragedi 65. Tapi ia mencoba berdamai dengan masa silam. Ia mengajak kita melangkah bersama ke depan. Menjadikan sejarah sebagai guru. Ibrah. Tempat belajar. Agar tak terjerembab dalam lumpur yang sama.

Mungkin sekarang waktu yang tepat untuk beranjak ke masa depan. Kembali ke pangkal soal. Mengurai benang kusut sejarah masa silam. Tidak mudah memang. Tapi, begini kata pepatah, "Kalau kusut di ujung, pergi ke pangkal."

Saatnya melerai, bukan memperhadap-hadapkan. Kembalilah ke akar: nalar. Terus bergantung di ranting ranggas masa lalu itu bisa jadi akan hanya memperparah luka. 

Alhasil, rekonsiliasi itu bukan menang-menangan, bukan pula mentang-mentang. Rekonsiliasi itu islah. Mengakui kesalahan, lalu saling memaafkan. Agar rekonsiliasi menemukan cara, ada baiknya memasukkan catatan kaki Letjen Purnawirawan Agus Widjojo ini, "Kalau cuma medioker saja, jangan coba-coba bicara rekonsiliasi."

Sekali lagi, ini memang tidak mudah. Tapi, bukan berarti mustahil. Dan, sekarang bukan September 1965. Demikian.


#Gestok
#G30S
#G30S-PKI
#Rekonsiliasi
#Tragedi 1965
Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID