logo rilis
Refleksi Pergerakan Milenial Indonesia dan Pancasila
Kontributor
RILIS.ID
04 Juni 2018, 13:56 WIB
Refleksi Pergerakan Milenial Indonesia dan Pancasila
FOTO: Istimewa

Oleh Fadlan Muzakki
Ketua Komisi Pendidikan PPI Dunia dan Ketua Umum PPI Tiongkok Periode 2018-2020

TEPAT 1 Juni 2018 atau 73 tahun lalu, Pancasila lahir dari judul pidato yang disampaikan Bung Karno pada sidang Dokuritsu Junbii Ch?sakai  atau yang lebih dikenal dengan Sidang Badan Penyidik Usaha Persiapan Kemerdekaan  (BPUPK) dalam bahasa Indonesia. 

Pancasila atau yang semulanya dinamai “Panduan Sila Yang Lima” merupakan sebuah gagasan bernegara yang disampaikan oleh Bung Karno di rangkaian terakhir pada sidang resmi BPUPKI yang pada saat itu dilaksankan di gedung Chuo Sangi In atau yang sekarang ini lebih dikenal dengan Gedung Pancasila di Pejambon, Jakarta Pusat. Sejak saat itu, Pancasila menjadi pedoman berbangsa dan bernegara bagi seluruh rakyat Indonesia. 

Pengamalan Pancasila

Pengamalan Pancasila dahulu dan kini telah mengalami pergeseran jika kita lihat dari sikap pengamalan milenialIndonesia dulu dan kini. Sebagai kaum milenial, kita perlu mengambil contoh dari perilaku saling membantu pada kisah Prawoto Mangkusasmito (tokoh Partai Masyumi dan Muhamadiyah) yang pernah menjadi Wakil Perdana Menteri (2 April 1952 – 31 Juli 1953). 

Hidup Prawoto yang sederhana membuat dirinya belum memiliki rumah hingga akhir dekade tahun 1950-an. Oleh karena itu, Kasimo (Ketua Partai Katolik) berinisiatif untuk membantu membeli rumah yang sudah enam tahun disewa oleh Prawoto. 

Walaupun berbeda pandangan politik yang tajam menyangkut Dasar Negara di Konstituante dan juga perbedaan agama, hal tersebut tidak melunturkan niat Kasimo untuk saling membantu. Hal ini menunjukkan pengamalan sila pertama dan rasa toleransi yang tinggi pada kedua tokoh tersebut. 

Contoh lain yang dapat kita teladani adalah peristiwa Sumpah Pemuda sebagai asal mula pengamalan sila ketiga. Sumpah Pemuda adalah tonggak penting dalam menumbuhkan persatuan dalam keberagaman. Berbagai organisasi pemuda berbasis etnis keagamaan berkumpul jadi satu seperti Jong Java, Ambon, Celebes, Batak, Sumatranenbon dan lain sebagainya termasuk Perhimpunan Peladjar – Peladjar Indonesia (PPPI). 

Selain itu juga hadir beberapa pemuda Tionghoa seperti Oey Kay Siang, Tjio Djien Kwie dan Kwee Thiam Hong. Semangat persatuan dan keberagaman yang ada dalam Sumpah Pemuda ini juga menjadi rumusan Bung Karno saat menyampaikan gagasannya di siding BPUPK.

Kondisi yang ada pada pergerakaan milenial saat ini adalah berlomba–lomba untuk mencapai kepentingan organisasi, kelompok, dan golongan masing-masing. 

Kita melihat persaingan perebutan kepentingan ada dimana-mana. Atas dasar kepentingan kelompok dan golongan, organisasi dan komunitas pemuda saat ini dengan mudah dibentuk. Membuat hal ini menjadi terkotak-kotak dalam rangka mengisi kemerdekaan Indonesia.

Memang tidak ada salahnya mendirikan berbagai komunitas dan organisasi baru untuk mencapai tujuan dan kepentingan kelompok. Namun, semangat Pancasila haruslah ditanamkan dalam bingkai kebhinekaan.

Milenial Pancasilais

Milenial pancasilais sudah semestinya merefleksi diri agar dapat mengamalkan Pancasila dalam kehidupan seharinya, baik dalam organisasi, kelompok, mapupun komunitasnya. Milenial masa kini haruslah menjadi milenial pancasilais yang mengedepankan lima sila yang sudah dipatrikan sebagai pedoman kehidupan berbangsa. Dengan demikian, setiap pergerakan yang dilakukan adalah dengan mengedepankan Pancasila.

Seperti asal muasal Pancasila yang sebenarnya sudah ada semenjak peradaban Indonesia lama sebelum abad XIV. Tercatat bahwa Pancasila berasal dari bahasa Sansekerta yang bermakna  “5 peraturan tingkah laku yang penting”. Dengan makna tersebut, Milenial Indonesia sudah sepatutnya menjadikan lima poin Pancasila sebagai dasar untuk berperilaku sehari-hari.

Mengamalkan sila pertama untuk hidup bertuhan dan mengormati sesama teman yang memiliki keyakinan berbeda dengan kita. Dengan demikian, maka akan terbina kerukunan hidup berbangsa antara sesama pemuda Indonesia

Mengamalkan sila kedua dengan cara saling mencintai sesama manusia, mengedepankan kebenaran dan membela keadilan, dan mengakui persamaan hak dan persamaan kewajiban antara sesama pemud Indonesia.

Mengamalkan sila ketiga dalam setiap kegiatan-kegiatan keorganisasian dan kepemudaan. Sehingga apapun organisasinya, apapun kepentingan kelompoknya, tetap mengedepankan persatuan Indonesia, menghidari perpecahbelahan antar kelompok dan golongan. Dengan demikian kesatuan, persatuan, kepentingan, dan keselamatan bangsa dan Negara berada di atas kepentingan pribadi dan golongan

Mengamalkan sila keempat dalam pengambilan keputusan dengan mengutamakan musyawarah untuk kepentingan bersama serta musyawarah yang diisi dengan semangat kekeluargaan. Selain itu juga menerima dan melaksanakan hasil musyawarah dengan itikad baik dan rasa tanggung jawab.

Mengamalkan sila kelima dalam mengembangkan perbuatan-perbuatan yang luhur sehingga mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan dan gotong royong. Hal ini dapat diimplementasikan dengan tidak bersikap boros dan tidak bergaya hidup mewah sehingga keadilan sosial secara prakondisi dalam kehidupan sehari–hari dapat dicapai.  

Jika pengamalan Pancasila yang telah dijelaskan dapat dijalankan dengan sebaik-baiknya oleh para kaum milenialIndonesia, maka segala bentuk pergerakan yang dilakukan para pemuda masa kini dapat merefleksikan nilai-nilai kuat yang ada dalam Pancasila.

Milenial di Luar Negeri

Tantangan terbesar milenial Indonesia di luar negeri sebenernya bukan pada mileniaal itu sendiri, namun lebih kepada pandangan masyarakat terhadap milenial Indonesia yang sedang ada di luar negeri. 

Pelajar, mahasiswa, dan  masyarakat Indonesia yang termasuk golongan milenial dan sedang berada di luar negeri sering dianggap sebagai pemuda bangsa yang rentan akan degredasi nilai-nilai Pancasila karena berada di negara – negara yang memiliki ideologi berbeda.

Contohnya, berita penanaman idelogi komunis kepada mahasiswa Indonesia di China. Berita miring ini yang mengecewakan dan menjadi viral di media sosial dan diketahui khalayak luas mengenai penanaman ideologi komunis pada milenial Indonesia. 

Hal tersebut mencipatakan pandangan negatif bagi para pelajar yang sedang menuntut ilmu di Negara Tirai Bambu.

Pada kenyataannya, mahasiswa Indonesia di China selalu memegang teguh nilai-nilai Pancasila dan mematrikannya dalam diri mereka dalam bingkai NRKI. Sehingga, pengamalan-pengamalan Pancasila selalu menjadi priotitas utama bagi para milenial di Indonesia.

Berita miring tentang beribadah pun menjadikan ini sebuah tantangan bagi para pelajar Indonesia di negara tersebut. 

Pada kenyataanya, milenial Indonesia di China tetap bisa mengamalkan sila pertama di negara itu selama sesuai dengan tempat dan mematuhi peraturan-peraturan lokal yang berlaku. Contohnya seperti shalat di masjid bagi yang Muslim atau ditempat ibadah masing–masing bagi yang non Muslim.

Walaupun demikian, tidak menutup kemungkinan bahwa belajar di luar negeri adalah sebuah tantangan besar bagi para milenial karena mudahnya arus informasi pemahaman-pemahaman ideologi lain masuk ke diri mereka.

Oleh karenanya, diperlukan pondasi yang kuat bagi para milenial di luar negeri untuk terus mengedepankan nilai-nilai Pancasila dan menjadi milenial pancasilais.


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)