logo rilis
Ratusan Paket Makanan Didistribusikan ke Pengungsi Korban Merapi
Kontributor
Syahrain F.
23 Mei 2018, 16:05 WIB
Ratusan Paket Makanan Didistribusikan ke Pengungsi Korban Merapi
Warga korban letusan Gunung Merapi mengungsi sementera ke tempat aman. Foto: Dok. ACT

RILIS.ID, Yogyakarta— Tim dari lembaga kemanusiaan Aksi Cepat Tanggap bergerak lokasi pengungsian sementara korban letusan abu vulkanik Gunung Merapi, Yogyakarta, Selasa (22/5/2018).

Berdasarkan laporan tim ACT, suara dentuman yang disertai kilatan masih terdengar dari di puncak kawah Merapi sekitar pukul 01.47 dini hari. Sebagian besar warga yang berada di lereng Merapi itu sedang bergegas menyiapkan menu santap sahur.

Hingga Selasa dini hari, BPBD mencatat, jumlah pengungsian di sembilan titik aman mencapai 1.522 warga. Pergerakan pengungsi paling banyak tercatat berada di SD Sanjaya Tritis/Turgo mencapai 510 jiwa, kemudian juga di Desa Glagaharjo dengan jumlah pengungsi malam tadi mencapai 371 jiwa.

Jelang fajar hingga matahari terbit, hujan abu mulai turun di sekitaran lereng Merapi. Kondisi yang serupa juga dialami di tiga kecamatan di Kabupaten Sleman. Wilayah tersebut meliputi Kecamatan Cangkringan, Pakem, Ngemplak, dan jalan Kaliurang.

“Setelah subuh, Selasa pagi tadi Tim ACT telah bergerak menuju ke lereng Merapi untuk mendistribusikan masker bagi pengungsi di barak-barak. Hari ini, Humanity Food Van ACT juga akan merapat ke lereng Merapi, membawa ratusan paket makanan siap santap untuk berbuka puasa,” kata Kepala Cabang ACT Yogyakarta Agus Budi.

Humanity food Van ini merupakan dapur umum berjalan yang dimiliki ACT Yogyakarta guna melayani korban bencana alam dan kebutuhan pangan bagi masyarakat kurang mampu.

Seperti diketahui, sudah dua hari terakhir, warga dibuat khawatir dengan suara dentuman yang berasal puncak Merapi. Sejak Senin hingga Selasa dini hari, terhitung sudah empat kali erupsi meletup mengeluarkan abu vulkanik dari puncak Merapi.

Meski termasuk dalam erupsi freatik, erupsi terakhir sampai membubungkan abu hingga 3.500 meter dari mulut kawah.

Imbas rentetan erupsi berturut-turut di malam Ramadan ke-5 dan ke-6 itu adalah meningkatnya status Merapi dari normal menjadi waspada. Kenaikan status ini berarti masyarakat tak boleh beraktivitas sama sekali di dalam radius 3km dari puncak Gunung Merapi, termasuk aktivitas pendakian dan pertanian. 

Mengutip data dari BPBD DIY, Selasa malam menjelang sahur, sekitar pukul 01.47, letusan terakhir Merapi terjadi selama tiga menit. Tinggi kolom abu mencapai 3,5 kilometer di atas puncak Merapi. Abu vulkanik kemudian terbawa angin hingga ke arah barat.

Imbas erupsi cukup besar ini, terjadi dentuman dan kilatan terang. Jelang sahur suara dentuman cukup keras ini lantas memicu kepanikan warga. Hingga akhirnya Selasa dini hari tadi, ratusan warga melakukan pergerakan secara mandiri ke beberapa titik aman.


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)