Home » Inspirasi » Riwayat

Ratna Sari Dewi, First Lady atawa Makelar?

print this page Selasa, 5/12/2017 | 22:21

FOTO: YouTube

CERITA tentang Presiden Soekarno tak pernah ada habisnya. Terutama kisah asmaranya dengan sejumlah perempuan yang kemudian jadi istrinya seperti Ratna Sari Dewi Soekarno yang memiliki nama asli Naoko Nemoto. Ratna Sari Dewi disebut-sebut sebagai perempuan paling cantik yang dinikahi Bung Karno.

Cerita kehidupan Naoko sebelum memutuskan menikah dengan Bung Karno bisa dikatakan sebagai sebuah drama tersendiri. Naoko yang dikenal sebagai penghibur pertama kali mengenal Bung Karno saat mengisi sebuah acara di Hotel Imperial Tokyo, tempat Presiden Soekarno menginap selama lawatannya di Negeri Sakura. Dan, Naoko salah satu penampil yang menyambut kedatangan tamu agung seperti Bung Karno pada 16 Juni 1959.

Bung Karno hampir selalu jatuh cinta pada pandangan pertama. Begitu juga saat matanya tertuju pada seorang Naoko. Dari pandangan dan pertemuan pertama yang berkesan ini kemudian berlanjut pada pertemuan berikutnya.

Bung Karno dikenal sebagai pria romantis. Cerita tentang pujian dan kangen selalu dicurahkannya lewat surat. Saat berkirim pesan untuk istri berikutnnya seperti Yurike Sanger misalnya Bung Karno selalu didahului dengan sapaan 'Dear Yury' atau 'Yury Darling' dan diakhiri 'Love' atau 'Love Yours' dalam kertas berlogo Sekretariat Negara Kabinet Presiden.

Begitu juga surat sejenis dikirim untuk Naoko. Baru, ketika berkunjung ke Jepang Bung Karno yang kala itu berunding soal pampasan perang meluangkan waktu khusus untuk bertemu dengan Naoko.

Seperti disitat dari buku Kisah Istimewa Bung Karno yang ditulis wartawan senior Julius Pour, hubungan asmara Bung Karno dan Naoko itu sangat meresahkan petinggi ABRI. Mereka khawatir percintaan Bung Karno dengan seorang penghibur dan mantan agen asuransi itu menjadi bulan-bulanan pemberitaan media. Apalagi saat itu Indonesia tengah berkonfrontasi dengan Malaysia.

Sampai-sampai sampai dua perwira ABRI, Ahmad Yani dan Soenarso dikirim khusus ke Jepang untuk menjemput Bung Karno agar segera pulang. Diceritakan, di antara perwira itu tidak ada yang berani untuk mengajak Bung Karno pulang agar segera meninggalkan perempuan cantik kelahiran Tokyo 6 Februari 1940.

Rupanya Soenarso yang lebih bernyali dan berusaha meyakinkan Bung Karno agar segera pulang dan segera memutuskan tali kasihnya dengan Naoko. Tentu, dengan risiko didamprat. Tapi cerita menjadi lain dari bayangan semula.

“Lha, cara untuk memutuskan (Nemoto) bagaimana?” tanya Bung Karno lugu seperti ditulis Intisari.

“Gampang, Pak. Sekarang saja Bapak kembali ke Jakarta, tanpa memberitahu siapa pun, kecuali protokol pemerintah Jepang,” saran Soenarso.

Rupanya Presiden Soekarno manut saja dan saat itu juga terbang ke Jakarta tanpa kabar sedikit pun kepada Naoko.

Hanya berselang beberapa jam, malam itu rupanya Naoko datang ke hotel untuk menemui sang kekasih pujaan hatinya. Begitu kecewanya, saat Bung Karno raib tanpa kabar. Naoko sangat kecewa dan putus asa sehingga sempat berencana harakiri namun diselamatkan petugas hotel.

Kabar Naoko mencoba bunuh diri sampai juga kepada Bung Karno. Merasa bertanggung jawab dan juga rindu sangat, Bung Karno menyusul ke Jepang dan 3 Maret 1962 menikah secara Islam. Mengenai persis pernikahan ada perbedaan pendapat karena ada juga yang menyebutkan mereka menikah Mei 1964.

Pernikahan itu dikabarkan membuat ibunda Naoko sakit dan meninggal. Sementara kakaknya memilih bunuh diri karena merasa harga dirinya rusak lantaran Naoko dianggap menjadi selir dari seorang pemimpin dari negara miskin. Padahal Naoko sendiri berasal dari keluarga miskin.

Selama menjadi istri Bung Karno, Naoko tinggal di Wisma Yasso yang kala itu disebut-sebut sebagai rumah yang sangat besar dan menjadikan perempuan Jepang ini menjadi sosok First Lady dengan caranya sendiri.

Dalam buku Sukarno, Ratna Sari Dewi dan Pampasan Perang karya Masashi Nishihara, Naoko menjelma menjadi pusat perhatian publik dan sangat berpengaruh. Untuk sampai ke Bung Karno, para pengusaha Jepang, China dan juga Indonesia harus sowan dulu kepada Ratna Sari Dewi. "Sowan ke Dewi" menjadi istilah sinis yang populer kala itu.

"Berbagai perusahaan Jepang, pedagang China dan pejabat Indonesia saling berlomba untuk mendapatkan bantuan istimewanya," tulis Masashi. "Meskipun menyangkalnya, banyak pengusaha Jepang dan Indonesia di Jakarta mengatakan kepada saya bahwa Dewi pun telah menerima sejumlah komisi."

Disebutkan juga, Dewi sempat ke Jepang pada awal Januari 1966 melobi Perdana Menteri Sato dan memintanya mengalokasikan sebagian dana pampasan perang digunakan untuk membangun rumah sakit dengan nilai kontrak senilai 3,3 juta dolar Amerika Serikat. 

Tapi, proyek itu tak sampai terwujud karena kerusuhan politik tahun 1966 yang berlanjut pada tumbangnya rezim Soekarno.

Penulis Yayat R Cipasang

Tags:

riwayat ratna sari dewi naoko nemoto soekarno pampasan perang