Arif Budiman

Pemerhati sosial, penikmat kopi, bekerja sebagai pegiat kepemiluan.

Radikalisme dan Tiga Variabel Pembawa Sial

Senin, 4/12/2017 | 13:50

MENDEFINISIKAN radikalisme tidak mudah. Ia sudah politis sejak lahirnya. Ia tumbuh dalam pertarungan kekuasaan, berkembang dalam perebutan dominasi, dan mendarah daging dalam kepentingan. 

Radikalisme merupakan strategi. Kategorisasi yang dibuat sebagai bingkai. Menyemat setan pada tubuh lawan, sekaligus mendapuk surga pada diri sendiri. Dalam satu kali lontaran.

Mereka yang disebut kaum radikal tak pernah ada di samping penguasa. Mereka adalah pemberontak, perusuh, pengganggu keamanan, perongrong stabilitas. Tak lain dari setan yang harus dilawan. Musuh negara (penguasa) yang mesti dimusnahkan.

Radikalisme takkan tumbuh dalam sistem demokratis. Kebebasan dan keterbukaan meniadakan motif perlawanan. Kekerasan hanya terjadi pada penolakan. Luberan air muncul karena sumbatan. Sepanjang demokrasi berdiri tegak, saluran aspirasi tersedia, dan kebebasan berlaku bagi semua pihak, radikalisme takkan pernah mendapatkan alasan.

Tengoklah bagaimana FIS (Front Islamique du Salut, Front Penyelamatan Islam) di Aljazair bermetamarfosis. Mulanya muncul dengan wajah inklusif. Berbagai aliran tergabung di dalamnya. Salafiya, Jazaira, Afghan, dan Takfir wa al-Hijra. FIS menjadi melting pot faksi-faksi yang beragam. Memperjuangkan gagasan dan cita-cita melalui kanal konstitusional. Mengikuti Pemilu dan menaati setiap ketentuan yang disepakati. 

Namun, mereka berubah sejak militer melakukan kudeta. Merampas kekuasaan yang diraih FIS lewat mekanisme demokratis. Membunuh para pemimpinnya, memburu para pengikutnya. Sebagian aktivis FIS kemudian bergabung dengan Jama’ah al-Islamiyah al-Musalahah yang juga dikenal dengan nama Group Islamic Army (GIA). Kelompok perlawanan bersenjata yang awalnya mendapat simpati dan dukungan dari masyarakat, tetapi akhirnya menjadi musuh warga akibat sikapnya yang semakin eksklusif dan ekstrem. 

Radikalisasi tumbuh sebagai reaksi. Perlawanan atas represi. Jawaban atas kekejaman rezim yang mengkhianati demokrasi. 

Kondisi serupa terjadi pada Ikhwanul Muslimin di Mesir. Demokrasi yang mereka akomodasi tak mampu membelanya pada saat yang seharusnya. Demokrasi bungkam pada saat tubuhnya sendiri ditikam. Pengusungnya menyaksikan dalam diam. Pemilu tak lebih dari sekadar proforma. Jalan yang disediakan hanya untuk kawan, bukan untuk lawan.

Macetnya mobilitas sosial, pengapnya kebebasan politik, keputusasaan ekonomi, rasa kerentanan budaya dan penghinaan adalah keluhan mendasar yang menurut Imam Aziz dalam pengantar buku Gerakan Sosial Islam (2012) dapat memicu tindakan kolektif, termasuk radikalisasi gerakan. Kondisi yang tidak menguntungkan dibarengi dengan kapasitas organisasi yang memadai dan kemampuan membingkai opini yang mumpuni merupakan variabel yang menyempurnakan proses radikalisasi gerakan dan radikalisme pemikiran.

Dalam sejarah Aljazair, kemunculan kelompok radikal GIA tak bisa dilepaskan dari represi negara. Kekerasan oleh negara terhadap gerakan aktivisme Islam dan penyiksaan agen-agen negara terhadap para aktivisnya pada akhirnya memunculkan apa yang disebut sebagai ‘pengucilan diri yang berkelanjutan’. Demi alasan keamanan, anggota kelompok membatasi interaksinya hanya pada sesama anggota kelompoknya. Mereka melepaskan diri dari afiliasi eksternal dan mengidentifikasi dirinya hanya pada lingkaran sucinya. Akibatnya, peluang dialektika gagasan hilang, doktrinasi semakin menjadi. 

Eksklusivitas organisasi kemudian berkelindan dengan bingkai anti-sistem. Penguasa dicap sebagai bromocorah. Pembela ketidakadilan sosial, politik, dan ekonomi. Tak berhenti di situ, sasaran tembak juga diarahkan kepada siapa saja yang mendukung pemerintah. Tak peduli tentara, polisi, ataupun pegawai negeri. Bahkan, netralitas masyarakat biasa pun dianggap sebagai dosa. Alasan pembenar bagi tindak kekerasan, pembunuhan, hingga pembantaian.

Demikianlah tiga variabel itu—represi negara, organisasi eksklusif, dan bingkai antisistem—menjadi penyebab terjadinya kekerasan dan pembantaian oleh organisasi radikal GIA yang menyasar tidak hanya aparat negara, tetapi juga masyarakat sipil di Aljazair. Atas peranannya itu Mohammed M. Hafez (2012) sampai menyebutnya sebagai tiga variabel pembawa sial.

Mengetahui bahwa penyumbang kekerasan yang dapat mengancam stabilitas dan keutuhan negara tidak hanya organisasi eksklusif yang radikal tetapi juga kekuatan bingkai wacana dan represi negara, maka sudah sepatutnya jika radikalisme dipahami secara komprehensif dan proporsional. Mengerti ragam pemicu dan pemacunya. Juga langkah penanganannya. Jika penyikapan terhadap radikalisme dilakukan secara keliru dan spasial, maka selain tidak menyembuhkan penyakitnya, segala upaya deradikalisasi pun akan tiada guna. Percuma. Semoga Tuhan menyelamatkan kita dari perbuatan yang sia-sia.