Home » Fokus

Putus Nyambung ala Pabrik Setrum

print this page Kamis, 9/11/2017 | 12:48

RILIS.ID, Surabaya— Asriati, warga Gemurung, Sidoarjo, Jawa Timur kaget ketika melihat rekening listrik yang menempel di dinding depan rumahnya. Tagihan yang harus dibayar naik menjadi Rp270 ribu. 

"Ya memang naik, jadi penggunaannya harus lebih hemat," katanya beberapa waktu lalu.

Padahal, sebelumnya, meski pemakaian listrik di rumah itu cukup besar, tiap bulan hanya dikenakan tagihan di bawah Rp200 ribu. Meski tidak banyak, kenaikan listrik itu dianggap memberatkan karena pengeluaran rumah tangganya sudah cukup besar.

"Sekarang kalau pagi langsung dimatikan dan penggunaan AC juga tidak terus-menerus seperti dulu. Paling kalau malam saja," ujarnya.

Ibu dua anak itu sempat bertanya kepada petugas pencatat meteran yang rajin memelototinya sambil membawa surat peringtan bila lebih dari tanggal 20. Tapi, sayangnya jawaban yang diberikan tidak begitu memuaskan. 

"Katanya memang tarifnya naik. Ya mau gimana lagi," tambahnya.

Ya, daya listrik di rumah Asriati besarnya 900 VA. Dia mengaku, kenaikan tagihan sudah terjadi selama beberapa bulan ini sehingga terpaksa harus berhemat.

"Kalau dulu memang stabil di bawah Rp200 ribu, sudah bertahun-tahun nggak ada kenaikan. Baru beberapa bulan ini," tambahnya.

Di kompleks perumahan Asriati, beberapa keluarga memang menurunkan daya listrik di rumahnya. Pada pemasangan awal rata-rata sebesar 1.200 VA. 

"Memang banyak yang diturunkan agar bisa menghemat pengeluaran listrik. Tetapi akhirnya naik lagi," tambahnya.

Dia berharap agar pemerintah tidak menaikkan biaya listrik karena memberatkan. Pasalnya, pendapatan suaminya sebagai pegawai swasta juga pas-pasan.

"Pengeluaran kan banyak, anak-anak butuh biaya sekolah. Harga kebutuhan naik. Bayar cicilan motor, sekarang listrik juga dinaikkan," keluhnya.

Hal yang sama juga dialami Slamet warga Simokerto, Surabaya, yang menjadi sopir lepas. Dia mengaku kenaikan itu sangat memberatkan.

"Habisnya sekarang di atas dua ratus ribu lebih. Kalau dulu paling banter cuma Rp150 ribu saja," katanya.

Listrik di rumah Slamet memang menggunakan sistem token. Setiap akhir bulan, dia menyuruh istrinya untuk membeli pulsa di toko dekat rumahnya.

"Kalau pas uang tidak ada untuk membeli pulsa gimana? Kalau bisa ya jangan dinaikkan supaya nggak berat. Sekarang kan semua pada naik jadi pemerintah harus bisa melindungi rakyat kecil," tambahnya.

Sebagai sopir, pendapatan Slamet tidak menentu. Sedangkan, dirinya harus membiayai anaknya yang sudah memasuki jenjang SMA dan kuliah.

"Meski kenaikannya tidak banyak tetapi kan juga berat, karena kebutuhan lainnya juga tidak sedikit," tambahnya.

Sementara itu, Ayu, warga Gedangan, Sidoarjo lainnya, mengeluh karena kenaikan tagihan di rumahnya pada bulan lalu sempat melonjak tajam.

"Dulu sampai habis Rp700 ribu per bulan padahal pemakaian di rumah  saya sangat minim," bebernya.

Karena merasa tagihan terlalu tinggi, Ayu pun menanyakannya kepada petugas. Ketika itu, sebagai bentuk protes dia tidak mau membayar tagihannya. Petugas PLN langsung memutuskan jaringan listrik di rumahnya.

Beberapa hari kemudian, dia terpaksa membayar tagihan karena tidak sanggup bila listrik di rumahnya tak menyala dalam waktu yang lama. 

"Katanya penggunaanya yang banyak. Tetapi sekarang sudah turun cuma kena Rp200 ribu per bulan," terangnya. 

Penulis Budi Prasetiyo
Editor Yayat R Cipasang

Tags:

token listrik tarif listrik pln

loading...