logo rilis

Punya Sejuta Manfaat, Sagu Jadi Harapan Masa Depan
Kontributor

22 Maret 2018, 21:01 WIB
Punya Sejuta Manfaat, Sagu Jadi Harapan Masa Depan
FOTO: Humas Balitbangtan

RILIS.ID, Jakarta— Sampai saat ini, beras masih merupakan pangan utama, sumber karbohidrat bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Untuk menekan konsumsi beras, maka pemerintah mencanangkan program penganekaragaman konsumsi pangan berbasis sumber daya lokal.

Sagu merupakan salah satu pangan lokal sumber karbohidrat yang tersedia pada hampir seluruh wilayah di Nusantara. Ketersediaan sagu di Indonesia sangat melimpah, karena luas arealnya mencapai 5 juta hektare. Namun, potensi tersebut baru dimanfaatkan sekitar 5,0 persen. Rendahnya produksi sagu Nasional antara lain, karena pengelolaan sagu masih menggunakan teknologi sederhana dan tradisional.

Balai Penelitian Tanaman Palma (Balit Palma), Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan),  sebagai lembaga pemegang mandat penelitian sagu nasional, telah menghasilkan teknologi untuk mendukung pengembangan sagu seperti varietas unggul, alat penghancur empulur dan ekstraksi sagu, serta teknologi pengolahan produk pangan. Tiga varietas unggul sagu yang telah dilepas, dua di antaranya berasal dari Riau, lebih spesifik untuk iklim basah dan berair, yaitu sagu Bestari dan sagu Selatpanjang Meranti, serta varietas yang lebih sesuai pada lahan kering, yaitu sagu Baruq dari Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara (Sulut).

Sedangkan teknologi pasca panen yang telah dikembangkan yaitu, alat pengolah sagu mekanis sistem terpadu dengan kapasitas 190 kilogram empulur per jam, dan pengolahan produk pangan fungsional berbahan pati sagu, seperti biskuit, roti, papeda instan, beras analog, dan pemanfaatan edible film pati sagu sebagai kemasan aktif.

Bagi sebagian masyarakat di beberapa daerah seperti Papua, Maluku, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara dan Mentawai di Sumatera Barat, sagu telah menjadi makanan utama. Seiring dengan perubahan sosial di masyarakat, peran sagu sebagai pangan pokok mulai tergeser. Padahal, pati yang diekstrak dari batang sagu memiliki keunggulan yang tidak dimiliki sumber pati lainnya, yaitu kadar air sekitar 33 persen dalam keadaan basah dan dapat tahan simpan 2-3 bulan.

Pati sagu juga memiliki banyak manfaat untuk kesehatan, karena mengandung Resistant Starch (RS) atau pati tahan cerna. Resistant Starch sangat bermanfaat untuk saluran pencernaan, karena dapat memperbaiki kesehatan kolon dengan cara mendorong perkembangan sel-sel sehat yang kuat.

Selain itu, perannya sebagai prebiotik dapat menstimulasi pertumbuhan dan aktivitas bakteri menguntungkan seperti Bifidobacteria, serta menurunkan konsentrasi bakteri patogen Escherichia coli dan Clostridia. Pati sagu juga memiliki indeks glikemik yang rendah, sehingga sangat disarankan bagi penderita diabetes, maupun untuk mereka yang melakukan diet.

Selain itu, nilai kalorinya yang rendah hanya 1,9 kalori per gram, sehingga dapat dijadikan ingredient untuk pangan rendah kalori. Berdasarkan potensi dan ketersediaannya yang melimpah, maka sagu dapat menjadi pangan harapan masa depan untuk Indonesia sehat.

Sumber: (Rindengan Barlina dan Steivie Karouw/Balitbangtan


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)