logo rilis
Puluhan Buku Puisi Esai se-Indonesia Kini Bisa Diunduh
Kontributor

05 Agustus 2018, 13:16 WIB
Puluhan Buku Puisi Esai se-Indonesia Kini Bisa Diunduh
ILUSTRASI. RILIS.ID/Hafidz Faza

RILIS.ID, Jakarta— Sebanyak 34 buku puisi esai yang mewakili masing-masing provinsi se-Indonesia bisa diakses, dibaca, bahkan diunduh oleh siapa pun di Facebook dengan akun Perpustakaan Puisi Esai.

Menurut penggagas gerakan nasional puisi esai, Denny JA, lebih dari 200 penyair, penulis, aktivis memotret batin isu sosial di 34 Provinsi dalam 34 buku melalui puisi esai.

Denny JA bahkan menyebarkan meme di media sosial dengan tagline "Dan Penyair Pun Membuat Sejarah". 

"Ini bukan sekedar membuat buku puisi, tapi menjadi gerakan budaya dilihat dari banyak sisi," katanya dikonfirmasi di Jakarta, Minggu (5/8/2018). 

Dari sisi isi puisi, kata Denny, masyarakat akan memahami aneka isu sosial dan kearifan lokal di setiap provinsi. 

Ia mencontohkan di Aceh, tergambar suasana batin dinamika individu yang pro NKRI dan pro Aceh Merdeka. 

Di Papua, ada kisah seorang ayah yang membawa anaknya berobat pada klinik kesehatan terdekat, tapi harus berjalan kaki berhari-hari.

Sementara di Jogjakarta, dikisahkan sebuah konflik keluarga akibat kemungkinan pewaris tahta kerajaan seorang wanita dan di Jawa Tengah, tentang penduduk yang cemas karena tersingkir industri. 

"Semua kisah adalah kisah nyata, dengan catatan kaki yang merujuk sumber informasi. Namun aneka kisah itu difiksikan agar lebih menyentuh. Dengan membaca 34 buku ini kita menyadari betapa kayanya kearifan lokal bumi nusantara," lanjutnya.

Menurut Denny, jika dulu masyarakat mengenal budaya Indonesia dari aneka buku ilmiah, maka akan bisa masuk ke batin Indonesia melalui puisi esai.

Sebanyak lebih dari 170 puisi esai dalam 34 buku adalah puisi panjang yang berbabak. 

Uniknya, ada catatan kaki yang melampirkan fakta dan data menunjang kisah yang difiksikan.

"Jadi kita tak hanya mendapatkan drama tapi juga informasi tentang sejarah atau isu sosial," kata Denny.

Puisi esai diklaim sebagai genre baru puisi. 

Denny JA tak hanya berhenti sebagai klaim namun diwujudkan dalam ratusan puisi dan puluhan buku.

Dari sisi program, ini gerakan nasional yang murni berasal dari gerakan masyarakat. 

Tak ada sepeser dana berasal dari pemerintah atau lembaga asing atau pabrik rokok. 

Gerakan ini sepenuhnya dibiayai oleh kalangan komunitas puisi esai sendiri.

"Gerakan ini juga menunjukkan bahwa kita bisa mandiri mengerjakan program nasional tanpa harus membebani APBN atau APBD," kata Denny JA. 

Denny menambahkan dirinya dibantu oleh sepuluh editor nasional, tiga koordinator wilayah dan team administrasi yang militan dan cinta berkarya. 

Kerja ini memakan waktu kurang lebih satu tahun.

"Di era media sosial, saya mencari cara paling mudah agar seluasnya publik bisa mengakses, membaca bahkan mengunduh 34 buku puisi esai. Cara paling jitu dan nge-trend 34 buku itu bisa diakses di Facebook Perpustakan Puisi Esai. Data menunjukkan sebanyak 100 hingga 150 juta populasi Indonesia punya akun Facebook," ucapnya.

Dua hal yang akan ia dan komunitasnya upayakan ke depan, yaitu tim akan memilih 34 puisi esai yang mewakili 34 provinsi untuk dibuatkan film pendek kerjasama dengan TV nasional. 

Puisi esai akan mengawali betapa puisi dapat menjadi basis untuk divisualkan dalam film.

Kedua, karena begitu banyak ruang dalam puisi esai untuk diiisi oleh kisah moral, Denny dan komunitasnya berikhtiar membawa puisi esai masuk ke sekolah.

"Saatnya karakter siswa ikut juga dibentuk melalui sastra," pungkas Denny JA. 




Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID