Home » Ragam

Puisi Pamflet Fadli Zon, untuk Siapa?

print this page Kamis, 7/12/2017 | 18:28

ILUSTRASI: Hafiz

FADLI Zon adalah politisi cum budayawan atawa sastrawan. Dia sudah terlebih dahulu jadi budayawan dan penyair sebelum jadi wakil rakyat di Senayan.

Karena itu tidak aneh bila periode DPR sekarang lebih berwarna dan bercita rasa seni dan lebih humanis. Kompleks Parlemen, belakangan ini menjadi pusat kegiatan budaya dan seni mulai dari pameran seni lukis, baca puisi, pameran batu akik, buku tua alias langka, filateli dan pameran keris khas nusantara serta kujang Jawa Barat.

Fadi Zon yang alumnus sastra Rusia ini memang manusia multidimensi dan pemilik aneka talenta. Bagi yang tidak tahu latar belakangnya, banyak yang terkejut ketika Fadli Zon beberapa kali menyebarkan puisi-puisi pamfletnya.

Sebelumnya, Fadli Zon telah meluncurkan buku puisinya yang bertajuk Memeluk Waktu yang diterjemahkan ke dalam delapan bahasa (Bahasa Indonesia, Inggris, Arab, Prancis, China, Rusia, Sunda dan Jawa).

Bila sedikit membuka buku dan menelisik sejumlah jurnal sastra atau lembaran budaya koran lawas, Fadli Zon juga dikenal sebagai penulis esai yang mumpuni. Keponakan sastrawan Taufiq Ismail ini juga dikenal sebagai mantan Redaktur dan Dewan Direksi Majalah Sastra Horison (1993).

Ketika lagi panas-panasnya menjelang Pilkada DKI Jakarta saat mengunjungi warga korban penggusuran di Kampung Akuarium, Penjaringan, Jakarta Utara, Fadli Zon pun membackan puisinya, Jumat (23/9/2016.

Sajak Tukang Gusur

Tukang gusur tukang gusur
Menggusur orang-orang miskin
Di kampung-kampung hunian puluhan tahun
Di pinggir dan bantaran kali Ciliwung
Di rumah-rumah nelayan Jakarta
Di dekat apartemen mewah dan mall yang gagah
Semua digusur sampai hancur
 
Tukang gusur tukang gusur
Melebur orang-orang miskin
Melumat mimpi-mimpi masa depan
Membunuh cita-cita dan harapan
Anak-anak kehilangan sekolah
Bapak-bapaknya dipaksa menganggur
Ibu-ibu kehabisan air mata
 
Tukang gusur menebar ketakutan di Ibu Kota
Gayanya pongah bagai penjajah
Caci maki kanan kiri
Mulutnya srigala penguasa
Segala kotoran muntah
Kawan-kawannya konglomerat
Centengnya oknum aparat
Meneror kehidupan rakyat
 
Ibu Kota katanya semakin indah
Orang-orangnya miskin digusur pindah
Gedung-gedung semakin cantik menjulang
Orang-orang miskin digusur hilang
 
Tukang gusur tukang gusur
Sampai kapan kau duduk di sana
Menindas kaum dhuafa
 
Tukang gusur tukang gusur
Suatu masa kau menerima karma
Pasti digusur oleh rakyat Jakarta

Berikutnya, publik di Tanah Air juga sempat dibikin ribut terutama di kalangan warganet saat Fadli Zon mengirimkan puisinya dari Yerevan, Armenia, Minggu (3/8/2017). Mereka yang terusik berang dan menebar sumpah serapah sedangkan kelompok yang di sebelahnya menikmati dengan riang.

Kaos dan Sepeda

dimanakah kesejahteraan?
ketika ekonomi susah 
lapangan kerja makin punah
kesenjangan kaya miskin mewabah 
kau lempar kaos di jalanan 
keluar dari mobil kebesaran jas lengkap penuh pengawalan
kaos berhamburan jadi rebutan 
inikah jalan menuju kemakmuran?

kemanakah kesejahteraan?
ketika utang terus bertambah 
daya beli rakyat makin lemah 
harga kebutuhan pokok meroket tajam 
kau buat sepeda jadi hiburan 
kuis pertanyaan asal-asalan hadiah sepeda bertaburan 
inikah jalan menuju kemakmuran?

seperti apakah kesejahteraan?
ketika kaos dan sepeda selalu ada dalam berita
dari soal ikan tongkol sampai Raisa 
inilah cerita negara keempat terbesar di dunia
tak ada derita apalagi sengsara 
karena dibunuh statistik angka-angka dan media digenggam kuasa

aku bayangkan Bung Karno dan Bung Hatta
pikiran-pikiran besar merekat Indonesia
narasi menyatukan tanah pusaka 
pidato dan tulisan heroik penuh makna 
perdebatan menyelami substansi wacana 
teladan kepemimpinan luar biasa 
mereka tak bagi kaos dan sepeda
kaos dan sepeda bukan sekadar tanda mata

ini ironi zaman penuh dagelan 
menjadikan kita bahan lawakan

Fadli Zon, Yerevan, 3 Sep 2017

Sajak yang dibuat Fadli Zon umumnya dibuat spontan. Misalnya puisi pamflet terbarunya dibuat hanya beberapa saat setelah mengikuti acara Indonesia Lawyers Club (ILC) tvOne yang membahas Reuni 212, Selasa (5/12/2017).

Menonton Kedunguan

berapa lama lagi kau pertontonkan kedunguan
dengan kepercayaan diri sempurna
sambil kau rebahkan otakmu di comberan
mulutmu mengeluarkan suara
penuh kekosongan begitu hampa
argumentasi sedangkal mata kaki
angka-angka menipulasi
berita bohong plus fitnah keji
kau jadikan senjata
mengotori dunia maya

berapa lama lagi kau pertontonkan kedunguan
di layar kaca atau di tengah kerumunan 
pameran kebodohan paripurna
kalimat-kalimat miskin tak berisi
berbaris caci maki
pesan tak mutu banyak prasangka
retorika nggak nyambung tuna logika

aku rindu perdebatan bermakna
polemik hebat di masa lalu
ketika orang masih membaca
mencari jalan kebenaran
meniti peradaban

5 Des 2017

Untuk siapa tiga puisi pamflet itu?

Penulis Yayat R Cipasang

Tags:

fadli zon dpr puisi