logo rilis

PSI, Partai Sosialita Indonesia?
Kontributor
RILIS.ID
05 Maret 2018, 08:50 WIB
PSI, Partai Sosialita Indonesia?
FOTO: RILIS.ID/Indra Kusuma

Oleh Dikson Ringo
Ketua OKK DPP GAMKI dan Ketua DPP KNPI

ADA satu partai politik yang mengklaim diri sebagai partai para anak muda. Berusaha membangun persepsi ingin menyatakan bila yang lain partai para orang tua. Pertarungan persepsi penting dalam membentuk citra antara PSI dan partai lainnya dalam konteks kompetisi. Hal ini lazim dilakukan oleh partai-partai yang berkuasa dalam jagat perpolitikan Indonesia, seperti PDI Perjuangan, Partai Demokrat dan Partai Golkar.

Persepsi hal penting dalam politik untuk membentuk citra sebagai pesan yang dikirim kepada khalayak ramai agar publik mengenalnya demikian. Sebagai partai baru, PSI cukup melesat, mulai dari proses verifikasi administrasi dan dinyatakan lolos sebagai peserta Pemilu 2019.

Mereka menganggap strategi baru mereka mumpuni, hadirlah PSI dengan orang-orang dan tokoh baru. Lebih luar biasa menempatkan para petinggi partainya ada yang masih unyu-unyu. Kampanye udara sangat masif mereka lakukan melalui media sosial yang menyasar kawula muda milenial.

Partai ini menyajikan 'tontonan' menarik dalam panggung politik Indonesia. Dimulai rekrutmen anggota secara daring, menghimpun dana publik melalui acara yang asyik (setidaknya menurut sebagian orang) dan hingga rekurutmen calon legislatifnya dibuat live streaming di kanal YouTube.

Penggiatnya mampu menyampaikan pesan kepada publik bahwa anak muda saatnya berpolitik, pemilih pemula bisa ikut berpolitik merebut kekuasaan. Mereka ini mampu menyuguhkan sajian, seolah politik itu menyenangkan bagi anak muda bahkan bila tak paham sedikit pun soal politik dan hampa pengalaman berinteraksi dengan dinamika masyarakat, bisa berpolitik praktis.

Proses membentuk persepsi itu sejatinya merupakan praktek dalam berpolitik untuk membangun branding (citra). Mereka hendak menegaskan seolah-olah politik dapat 'dimainkan' oleh remaja 'cabe-cabean' sekalipun.

Seperti permainan badminton, beberapa hari ini PSI 'di-smash' banyak pihak dan akhirnya melambung, dibahas dalam dunia maya dan dunia nyata. Ada yang mencibir dan ada yang mendukung. 

Pambahasan itu berkaitan dengan aksi sok 'sosialita' saat mereka diterima Presiden Jokowi di Istana dan klaim mereka bila Istana memberikan tips atau mungkin nasihat khusus bagi PSI dalam menggalang dukungan bahkan cara-cara berpolitik yang bisa memenangkan hati pemilih pada Pileg 2019.

Mungkin nasehat tersebat cara merebut dan menguasai hati pemilih generasi milenial yang masih 'cabe-cabean' pula.
Aksi 'sosialita cabe-cabean' ini turut menyeret Presiden Jokowi dalam pembahasan publik beberapa hari ini.

Hal ini bisa mengganggu Presiden Jokowi menuju proses pendaftaran Pilpres dalam beberapa bulan ke depan. Sebab Presiden Jokowi kini sedang fokus menjajaki, menyeleksi bahkan akan memutuskan siapa pasangan Bakal Cawapresnya dalam waktu dekat.

Pembahasan publik perihal PSI diterima dan diberikan tips-tips oleh Istana tersebut akan menyita perhatian dan bisa menggangu fokus Presiden Jokowi menuju tahapan Pilpres 2019. Banyak pengamat menyampaikan bila salah memilih pasangan wakil presiden bisa berakibat serius bagi Joko Widodo.

Saran pun sudah disampaikan agar mulai mengubah strategi, semula fokus dari perang udara (Kampanye media sosial) menjadi perang darat (konsolidasi darat dan kaderisasi) sebelum arena peperangan (kampanye) digelar.

Karena dalam peperangan pasukan darat menentukan kemenangan dengan menguasai 'teritorial' basis massa, pasukan udara sesungguhnya untuk pembuka atau pendukung peperangan.

Mungkin karena petingginya yang masih 'cabe-cabean' itu merasa semua hal dalam pertemuan politik dapat diekspos demi popularitas di udara dan demi kesenangan jempol yang rajin menyentuh layar gawai dan memposting berita pertemuan terbatas tersebut. 

Presiden Jokowi ikut dibahas dalam pemberitaan beberapa hari ini, terkesan memberi keistimewaan bagi PSI. Situasi ini karena atraksi 'cabe-cabean' yang merasa mampu bermanuver politik. Partai ini wajib hukummnya banyak belajar dari sejarah kepartaian di republik ini.

Republik ini sesungguhnya adalah republik para aktivis dan pejuang; tubuh, jiwa dan raga terpatri semangat berjuang demi Tanah Air Ibu Pertiwi. Walau kadang banyak ditemukan kader KW7, kader-kader setiap Parpol bersikap anomali, antara mulut dan kelakuan sangat berbeda.

Politisi partai di republik ini selalu ada 'sang ideolog' yang mempersiapkan kader bukan sekadar pasukan jempol (pasukan udara). Bukan politisi yang bermodal jempol dan goodlooking saat tampil, sekadar public speaker, mestinya tampil dengan skill agitasi yang mumpuni, propaganda dalam agenda melawan korupsi, melawan intoleransi dan potong generasi politik?

Segeralah berubah layaknya Satria Baja Hitam, waktumu tidak banyak, bila tidak segera berbenah sebelum arena pertarungan dimulai bisa fatal akibatnya, publik pecinta Jokowi bisa menghukum kalian!

Menjadilah Partai Solid Indonesia menuju Partai Solidaritas Indonesia bukan menjadi Partai Sosialita Indonesia. Aku mengkritik karena mencintai kalian yang cantik nan ayu itu, tapi tidak mencintai yang masih 'cabe-cabean'! Karena aku mencintai yang dewasa, dan dewasa dalam atraksi politik. Politik adalah kedewasaan!

Kendari - Jakarta, Sabtu, 3 Maret 2018 | 23.30 WIB


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)