logo rilis
PSI dan Perempuan Korban Perdagangan Manusia di Cina
Kontributor
Zulhamdi Yahmin
19 September 2018, 16:15 WIB
PSI dan Perempuan Korban Perdagangan Manusia di Cina
Ketum PSI, Grace Natalie. FOTO: RILIS.ID/Zulhamdi Yamin

RILIS.ID, Jakarta— Jangkar Solidaritas DPP Partai Solidaritas Indonesia (PSI) menyebutkan sebanyak 16 perempuan asal Indonesia menjadi korban tindak pidana perdagangan manusia di Cina. 

Menurut perwakilan Jangkar Solidaritas DPP PSI, Muannas Alaidid, para perempuan itu bersedia diberangkatkan ke Cina karena diiming-imingi pekerjaan dan gaji besar sebagai penjual kosmetik di sana. 

Namun yang terjadi, mereka malah dinikahkan dengan para pria setempat, dengan surat izin orang tua yang dipalsukan.

"Berdasarkan pengakuan korban, mereka diperjualbelikan oleh calo atau agen perusahaan dengan nilai Rp400 juta per orang," kata Muannas saat konpres di DPP PSI, Jakarta, Rabu (19/9/2018). 

Berdasarkan pengakuan kepada orang tuanya, korban ini telah dipaksa melakukan pernikahan di bawah ancaman dan tekanan pihak agen. 

Bila tidak mengikuti perintah, mereka akan mengalami kekerasan secara fisik dan psikis.

“Sedihnya, ketika pernikahan terjadi pun, para korban juga tidak pernah dinafkahi. Lebih parah lagi, di antara mereka ada yang dipaksa minum obat penyuburan tiga kali sehari agar cepat hamil dengan target memproduksi banyak anak. Tidak berhenti di situ, kekerasan seksual secara terus-menerus dialami para korban," ujarnya.

Sebelumnya pada Mei 2018, 16 perempuan Indonesia dari Purwakarta, Subang, Bandung, Tangerang dan Tegal diberangkatkan ke China. 

Pihak keluarga sendiri telah melaporkan kasus ini ke Polda Jabar dan pelaku yang mengirimkan korban sudah ditangkap. 

Meski begitu, para korban belum bisa pulang ke keluarga. Ada kesulitan memulangkan karena lantaran terikat dalam status pernikahan. 

Ketua DPP PSI, Grace Natalie, memastikan akan berkoordinasi dengan pihak Bareskrim Polri, Interpol dan Kementerian Luar Negeri RI agar para korban bisa kembali ke keluarga secepatnya. 

"Ini sangat memprihatinkan. Mereka disekap, diberi makan lewat jendela. Tadi kami sempat video call dengan beberapa korban. Komunikasi ini rahasia, ngumpet-ngumpet. Memanfaatkan wifi gratis yang kebetulan ada di sana," ungkap Grace. 

Grace menilai, peristiwa itu merupakan penghinaan terhadap perempuan dan kemanusiaan. 

Semua pihak, menurutnya, harus memastikan agar kejadian tersebut menjadi yang terakhir kalinya. 

"Human trafficking adalah perbudakan perempuan dan anak pada zaman modern yang menyedihkan. Bayangkan jika hal ini terjadi pada anak atau keponakan kita," paparnya.

Editor:




Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID