logo rilis
Program Kemensos Ini Diyakini Tekan Kemiskinan Menjadi 1 Digit
Kontributor
Fatah H Sidik
29 Mei 2018, 22:03 WIB
Program Kemensos Ini Diyakini Tekan Kemiskinan Menjadi 1 Digit
Ilustrasi kemiskinan. FOTO: RILIS.ID/Indra Kusuma

RILIS.ID, Yogyakarta— Menteri Sosial, Idrus Marham, meyakini, Program Keluarga Harapan (PKH) akan menurunkan satu persen angka kemiskinan pada masa akhir pemerintahan Joko Widodo.

"Kita harapkan pada akhir periode pertama jabatan Pak Jokowi, turun menjadi sembilan persen. Berarti, kita akan turunkan satu persen lebih," ujarnya usai membuka acara "Bimbingan Pemantapan SDM Pelaksana PKH 2018" di Yogyakarta, Selasa (29/5/2018).

Sesuai data Badan Pusat Statistik (BPS), katanya, angka kemiskinan menjadi 26,58 juta pada 2017 dari 27 juta jiwa atau setawa 10,12 persen. Pengurangan itu, diklaim berkat implementasi PKH.

"Kami yakin bisa (turun kembali), sepanjang para pendamping-pendamping itu efektif menghadapi keluarga (penerima manfaat)," jelas politisi Partai Golkar ini.

Kementerian Sosial (Kemensos) pun akan meningkatkan penerimaan PKH. Untuk 2019, ditargetkan jumlah keluarga penerima PKH mencapai 10 juta keluarga atau setara 40 juta jiwa. Artinya, melampaui angka kemiskinan,

"Belum lagi rastra (beras sejahtera). Rastra itu 15.500 keluarga setara 65 juta jiwa. Berarti yang perlu kita lakukan, adalah meningkatkan indeks penerimaannya, bukan jumlah penerimanya," terang Idrus.

Karenanya, tugas para pendamping PKH dengan kualitas yang dimiliki akan diefektifkan kembali. Untuk daerah yang sulit dijangkau, satu pendamping akan menangani beberapa penerima manfaat. Sedangkan di daerah yang tergolong mudah akses komunikasinya, satu pendamping bisa menangani 200-250 keluarga.

Idrus pun mengingatkan pendamping PKH, agar tak terlibat politik praktis. Sebab, hal tersebut tertuang dalam pakta integritas yang ditandatangani.

"Apabila di antara mereka nyata-nyata terlibat politik praktis dalam pilkada, maka tentu kita akan memberikan SP (surat peringatan) 1, SP 2. Selama ini sudah ada temuan, tetapi belum terbukti," tukasnya.

Sumber: ANTARA


500
komentar (0)