logo rilis

Profesor UNJ Kritik Larangan Penonton Rekam Pertandingan Asian Games
Kontributor
Yayat R Cipasang
07 April 2018, 19:47 WIB
Profesor UNJ Kritik Larangan Penonton Rekam Pertandingan Asian Games
Guru Besar Psikometri Universtas Negeri Jakarta (UNJ) James Tangkudung. FOTO: RILIS.ID/Yayat R Cipasang

RILIS.ID, Jakarta— Guru Besar Psikometri Universitas Negeri Jakarta (UNJ) James Tangkudung mengkritik Indonesia Asian Games 2018 Organizing Committee (Inasgoc) yang akan membatasi gerak dan aktivitas penonton selama pertandingan olahraga tingkat Asia tersebut. Larangan seperti penonton tidak boleh merekam pertandingan dan mengunggahnya ke media sosial dengan alasan melanggar hak siar eksklusif, malah tidak produktif.

"Asian Games itu pesta empat tahunan dan belum tentu dalam 60 tahun ke depan akan kembali lagi mendatangi Indonesia. Seharusnya biarkan masyarakat menikmati semua olahraga tanpa pembatasan yang tidak substansial termasuk untuk merekam dan berswafoto," kata James dalam perbincangan dengan rilis.id, Sabtu (7/4/2018).

"Berapa lama sih kekuatan merekam penonton. Pertandingan olahraga sekelas Olimpiade atau Asian Games selain untuk melahirkan prestasi juga harus membuat masyarakat atau publik senang, gembira dan terhibur," tambah mantan Deputi Mepora ini.

Secara teknis, menurut James, larangan penonton untuk mereka atau mengabadikan bagian dari pertandingan hanya akan menyusahkan panitia pertandingan. Apalagi kalau sampai penonton dilarang membawa smartphone ke dalam balkon pertandingan.

"Bisa-bisa pertandingan diboikot penonton dan ini malah akan merugikan atlet Indonesia. Dampaknya emas yang ditargetkan pemerintah tak akan tercapai," ujarnya.

"Ingat, faktor penonton sangat penting untuk memberikan semangat dan sokongan moral kepada atlet yang tengah bertanding," kata James.

Menurut James, Asian Games yang didanai Anggaran Belanja Negara triliunan rupiah harusnya menjadi milik publik. "Seharusnya Inasgoc lebih fair agar semua stasiun televisi dan juga media dalam negeri mendapat hak siar tidak ekslusif milik tertentu. Kecuali untuk hak siar luar negeri," kata mantan dokter PSSI ini.

James juga mengingatkan, ajang Asian Games yang akan digelar di Jakarta dan Palembang 18 Agustus - 2 September 2018 ini juga akan menjadi bahan pelajaran bagi pelajar dan juga mahasiswa olahraga. Guru dan dosen akan memberikan tugas kepada pelajar dan mahasiswanya untuk menulis dan juga merekam pertandingan olahraga yang langka singgah di Indonesia sejak tahun 1962.

"Kalau dilarang, bagaimana hak pembelajaran mereka. Padahal mereka merekam pertandingan untuk bahan pelajaran dan bahan evaluasi di kelas," ujarnya.

Direktur Penyiaran Inasgoc Linda Wahyudi dalam pernyataannya di sebuah televisi partikelir menegaskan, hak siar ekslusif Asia Games menjadi milik Emtek, induk perusahaan yang menaungi SCTV, Indosiar, O Chanel, Nexmedia, Liputan6.com, Vidio.com  dan Bola.com.

"Penonton dilarang merekam pertandingan dan mempublikasikannya di media sosial. Kalau terbukti akan ditindak kendati sulit dalam pelaksanannya di lapangan," ujarnya.


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)