logo rilis
Produktivitas Tinggi, Inpari 40 Jadi Primadona Petani Sumbawa
Kontributor
Fatah H Sidik
19 April 2018, 19:25 WIB
Produktivitas Tinggi, Inpari 40 Jadi Primadona Petani Sumbawa
Tanaman padi di Sumbawa yang menggunakan varietas Inpari 40, invoasi Balitbangtan Kementan. FOTO: Balitbangtan Kementan

RILIS.ID, Jakarta— Petani di Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB), gemar menanam padi dengan menggunakan varietas Inpari 40. Ini tercemin dari semakin meluasnya tanaman padi yang menggunakan varietas unggul baru (VUB), salah satu inovasi Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementerian Pertanian (Balitbangtan Kementan).

Kata Kepala Unit Pengelola Benih Sumber Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian (UPBS BB Biogen), Dr Dodin Koswanudin, hal tersebut dipengaruhi tingginya produktivitas Inpari 40. Bahkan, memiliki sifat amfibi.

"Hasil tinggi dan kesesuaian pada lahan sawah berpengairan cukup hingga terbatas, merupakan karakter yang cocok dengan lingkungan Pulau Sumbawa yang curah hujannya rendah dan pendek," ujarnya.

Sebagai informasi, hasil panen Inpari 40  menembus 10,5 ton gabah kering panen per hektare. Pada musim tanam Oktober 2017-Maret 2018, benih dasar (foundation seed/FS) ditanam di Kabupaten Sumbawa 27 hektare, Dompu 3 hektare, serta dan Bima 10 hektare. Hasil panennya, rata-rata 9,77 ton gabah kering panen per hektare.

Diseminasi Inpari 40 sendiri dilakukan di berbagai provinsi sejak 2018. Salah satunya NTB. Di sana, diseminasi bekerja sama dengan BPTP Balitbangtan NTB melalui demplot dan temu lapang. 

Pada musim tanam I 2017, benih sumber Inpari 40 ditanam H Amrullah selaku Ketua Kelompok Tani Buin Resong, Dusun Malili, Desa Berare, Kecamatan Moyo Ilir, Sumbawa, NTB. Penanaman Inpari 40 tersebut untuk demplot, temu lapang, sekaligus produksi benih dengan melibatkan BPSB.

Karena produksi melonjak, Dodi berharap, tingginya produktivitas ini turut berkontribusi terhadap peningkatan petani Sumbawa.

Dia menambahkan, hal tersebut kian menegaskan inovasi Balitbangtan Kementan, seperti padi dan kedelai, mendominasi areal tanam berbagai daerah. "Dengan kata lain, tingkat adopsi varietas unggul cukup tinggi," jelasnya.

Balitbangtan Kementan, lanjut Dodi, memanfaatkan bioteknologi in vitro, marka molekular, maupun rekayasa genetik dalam rangka mempercepat temuan VUB. Penerapan pemuliaan berbantuan marka molekular, bahkan telah menghasilkan beberapa varietas unggul, seperti Inpari 40 Agritan yang keunggulannya produktivitas tinggi dan adaptif lahan sawah tadah hujan.

Sumber: Dodin Kuswanuddin/Mastur/Balitbangtan Kementan


500
komentar (0)