logo rilis

Produksi Jagung Surplus sementara Harga Naik, Pengamat: Ini Anomali!
Kontributor
Yayat R Cipasang
11 Oktober 2018, 17:09 WIB
Produksi Jagung Surplus sementara Harga Naik, Pengamat: Ini Anomali!
Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS) Anthony Budiawan (kedua dari kanan). FOTO: RILIS.ID/Yayat R Cipasang

RILIS.ID, Jakarta— Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS) Anthony Budiawan heran dengan klaim pemerintah yang menyebutkan produksi jagung nasional surplus. Di sisi lain harga terus merangkak naik.

"Tidak mungkin surplus harga ikut naik. Ini anomali," kata Anthony dalam diskusi bertajuk Untung-Rugi 'Surplus' Jagung di Jakarta, Rabu (10/10/2018).

Pembicara lain dalam diskusi itu masing-masing Direktur Eksekutif Institute for Development of Economies and Finance (Indef) Enny Sri Hartati, Pengamat Ekonomi dan Pasar Modal Ferry Latuhinhin, Pengamat Pertanian Khudori, Peneliti Pusat Kajian Pangan Strategis, Tony J Kriatianto dan Agripreneur Jagung Dean Novel.

Menurut Anthony, sebut saja produksi jagung nasional pada 2017 sebesar 28 juta ton. Sedangkan kebutuhan nasional 15-16 juta ton. "Berarti ada surplus sekira 12-13 ton belum lagi produksi pada 2018 sebesar 30 juta ton berarti surplus lagi," ujarnya.

"Kalau pun ada ekspor, dieskpor ke mana? Harga jual di dalam negeri sekarang katakanlah Rp5.000 sedangkan harga internasional per September dengan kurs 15.00 per dolar adalah 2.300 per kilogram," ujarnya. "Bagaimana kita bisa ekspor?"

Katakalah ada ekspor, kata Anthony, itu pun sebanyak 500 ribu ton pada 2017. Dengan angka ekspor 500 ribu ton dan surplus 13 juta ton itu ke mana barangnya (sisanya). "Apakah menguap? Menyusut?"

Terkait adanya substitusi pakan ternak dari jagung ke gandum, kata Anthony, juga seharusnya permintaan untuk jagung itu menurun. Kalau permintaan itu turun harganya harus turun. "Gimana hitungannya, ada substitusi dari jagung ke gandum tetapi harga jagung masih naik," ujarnya.

Pengajar Institut Bisnis Dan Informatika Kwik Kian Gie ini juga mengingatkan pemerintah untuk tidak bermain-main dengan angka produksi jagung. Misalnya saja selama 2012 hingga 2015 produksi jagung nasional rata-rata 19 juta ton dan ekspor rata-rata 3 juta ton.

"Berarti kebutuhan nasional rata-rata 22 juta ton. Nah, sementara kebutuhan nasional sekarang rata-rata 15,5 juta ton per tahun. Tidak mungkin kebutuhan sekarang lebih sedikit dari kebutuhan tahun sebelumnya," ujarnya.

Anthony mengingatkan agar pemerintah tidak main-main dengan angka. "Pemerintah harus sadar jagan membohongi diri sendiri dengan angka. Tanpa data yang benar tidak mungkin dapat mengambil kebijakan yang benar. Kalau kita memanipulasi data kita sulit mengambil kebijakan dan solusi," tegasnya.


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)