logo rilis
​Produksi Beras Diyakini Capai Target, Kementan: Tak Perlu Impor
Kontributor
Fatah H Sidik
08 April 2018, 18:23 WIB
​Produksi Beras Diyakini Capai Target, Kementan: Tak Perlu Impor
Ilustrasi petani sedang memanen. FOTO: RILIS.ID/Fatah Sidik

RILIS.ID, Jakarta— Kementerian Pertanian (Kementan) berkeyakinan, produksi beras pada 2018 sesuai target, 46,5 juta ton. Jum??lah itu di atas konsumsi nasional sekira 33,47 juta ton.

"Dengan produksi ini, harga dipastikan stabil dan tidak perlu impor karena produksi beras surplus 13,03 juta ton. Apalagi, awal tahun 2019 nanti memasuki musim panen, jadi impor tidak perlu," ujar Kepala Biro Humas dan Informasi Publik Kementan, Kuntoro Boga Andri, di Jakarta, Minggu (8/4/2018).

Dia menambahkan, produksi padi dalam 10 tahun terakhir berada di "jalur hijau", sebagaimana data Badan Pusat Statistik (BPS). Namun, lonjakan terbesar terasa di bawah pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla.

"Karena pemerintah konsisten pada program peningkatan produksi melalui bantuan benih, pendampingan, alat mesin pertanian, embung, dan jaminan harga untuk petani," urai alumnus Institut Pertanian Bogor (IPB) ini.

Adapun produksi padi tersebut sejak 2007 adalah 57,15 juta ton, 60,32 juta ton (2008), 2 64,39 juta ton (2009), 66,47 juta ton (2010), dan 65,75 juta ton (2011). Kemudian, 69,05 juta ton (2012), 71,28 juta ton (2013), 70,84 juta ton (2014), 75,39 juta ton (2015), 79,36 juta ton (2016), serta 81,38 juta ton (2017).

Terkait pertumbuhan konsumsinya, imbuh Boga, mengikuti jumlah penduduk. Diproyeksikan penduduk Indonesia di 2018 sebesar 265 juta jiwa atau bertambah 12,8 juta jiwa dibanding 2014 (252,2 juta jiwa).

"Ini berarti, setiap tahun penduduk bertambah 3,2 juta jiwa atau tumbuh 1,27 persen per tahun," kata mantan Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Riau itu.

Meski begitu, terjadi penurunan konsumsi per kapita di 2017. Tahun lalu, tingkat konsumsi beras menjadi 114,6 kilogram per kapita. Sebelumnya, 124,89 kilogram per kapita per tahun.

Boga melanjutkan, Kementan terus mendorong diversifikasi dalam rangka menjaga kedaulatan pangan. "Program ini melalui peningkatan produksi pangan lokal hingga pengolahanya," pungkas peraih gelar doktor dari Kagoshima University Jepang itu.


500
komentar (0)