logo rilis
Produksi Benih Unggul, BPTP Kalteng Libatkan Petani Penangkar
Kontributor
Fatah H Sidik
12 Mei 2018, 13:12 WIB
Produksi Benih Unggul, BPTP Kalteng Libatkan Petani Penangkar
Tanaman padi dengan menggunakan benih varietas unggul. FOTO: Balitbangtan Kementan

RILIS.ID, Palangka Raya— Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Kalimantan Tengah memproduksi benih di sejumlah lokasi dalam rangka mempercepat diseminasi varietas unggul baru (VUB) 2018. Kegiatan melibatkan sejumlah penangkar.

Di antaranya, kelompok tani (poktan) penangkar Karau Mandiri di Desa Netampin, poktan penangkar Mugi Tuwuk di Talohen Hulu, Ampah Kota, Kecamatan Dusun Tengah, Barito Timur pada areal persawahan irigasi, serta poktan penangkar Desa Terusan Karya, Kecamatan Betaguh, Kapuas, pada lahan pasang-surut.  

Penanggung Jawab Perbenihan BPTP Kalteng, Dr. Twenty Liana, menerangkan, pengembangan penangkaran benih oleh petani merupakan upaya menjamin ketersediaan benih bermutu dari varietas unggul padi di lingkungannya.

"Badan Litbang Petanian melalui UPBS (Unit Pengelola Benih Sumber) menginisasi pengembangan penangkaran benih berbasis masyarakat ini, di mana masyarakat tani secara berkelompok atau perorangan didorong memproduksi sendiri kebutuhan benih pada hamparan kelompoknya," ujarnya.

Dengan demikian, lanjut Twenty, akan terpenuhi kebutuhan benih secara berkelanjutan, lebih menghemat waktu dan biaya, serta diharapkan ke depannya menjadi UPBS berorientasi agribisnis.

Ada beberapa VUB yang dikembangkan. Misalnya, Inpari 24, Inpari 30, Inpari 35, Inpari 38, Inpari 39, Inpari 40, Inpari 41, Inpari 42, Inpari 43, Inpari Blast, Inpari HDB, Inpago 8, Inpago 10, Inpago 11, Inpara 5, dan Inpara 82.

Sistem tanam menggunakan jajar legowo 2:1 yang diyakini memberikan hasil tinggi. Adapun target produksi VUB pada diseminasi 2018 sebanyak 65,03 ton.

Untuk meningkatkan kualitas benih padi, BPTP Kalteng pun bersinergi dengan Balai Pengawasan dan Serifikasi Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPSB-TPH) Kalteng. Tugasnya, menampingi, mengawasi, dan sertifikasi benih.

Diharapkan kemurnian dan mutu VUB terpelihara. Sehingga, secara kontinu bisa dengan mudah diperoleh petani.

Pasalnya, penggunaan benih VUB, berkualitas, dan bersertifikat merupakan mata rantai pertama dalam proses budi daya. Jika yang digunakan benih berkualitas rendah, tanaman takkan memberikan hasil yang tinggi.

Karenanya, benih menjadi faktor utama dalam budi daya padi dalam menentukan keberhasilan produksi. Benih bersertifikat menjadi syarat wajib, lantaran proses produksinya diterapkan cara dan persyaratan sesuai ketentuan sertifikasi yang diawasi petugas BPSB.

Sumber: Dedy Irwandi/Balitbangtan Kementan


500
komentar (0)