logo rilis
PPI dalam Sejarah Kemerdekaan hingga Arah Baru Pergerakan Mahasiswa
Kontributor
RILIS.ID
25 Mei 2018, 08:02 WIB
PPI dalam Sejarah Kemerdekaan hingga Arah Baru Pergerakan Mahasiswa
FOTO: Istimewa

Oleh Putra Wanda
Direktur Pusat Kajian Strategis PPI China dan Mahasiswa Ph.D di kawasan Harbin.

PERHIMPUNAN Pelajar Indonesia (PPI), begitulah sebutan untuk organisasi pelajar/mahasiswa yang sedang menempuh kuliah di luar negeri. PPI sebenarnya sebuah wadah berkumpulnya mahasiswa Indonesia yang sudah ada sejak dahulu kala. Dalam sejarahnya PPI kala itu merupakan sebuah forum diskusi mahasiswa yang sedang menempuh kuliah di mancanegara khususnya Belanda.

PPI pada kala itu dipelopori para Tokoh bangsa mulai dari Bung Hatta, Ali Sostroamidjojo, Dr. Sukiman, Sutan Sjahrir, dan para tokoh bangsa lainnya.  Organisasi ini awalnya bernama Indonesisch Vereniging (Perhimpunan Indonesia) yang didirikan di Negeri Belanda tahun 1908. 

Sejak masa perjuangan kemerdekaan, PPI telah menjadi salah satu kekuatan penting dalam manuver politik serta mengkampanyekan Indonesia sebagai negara yang berhak memiliki kedaulatan. Pola gerakan pemuda kala itu bersifat intelektual seperti pemuatan kajian, tulisan, kampanye, serta lobi di forum terkemuka. 

Pada awal berdirinya Perhimpunan Indonesia, organisasi ini yang berdomisili di Belanda banyak memiliki peranan penting bagi kemerdekaan Indonesia. Gerakan pemuda  pada masa itu banyak dilakukan melalui pertemuan, diskusi hingga melalui gerakan literasi yang belum banyak diketahui oleh masyarakat Indonesia. Selama beberapa tahun aktifitas organisasi mahasiswa ini memiliki basis pergerakan diluar negeri.  

Kita tentu mengenal organisasi pemuda yang bernama Budi Utomo. Inilah awal Pergerakan Nasional pertama yang dirintis sekitar tahun 1908. Pada awalnya Budi Utomo belum bergerak dalam bidang politik. Namun, ketika mahasiswa di Belanda sudah banyak yang pulang ke Indonesia, pergerakan ini segera mengubah cara perjuangannya. Dan Dr. Soetomo sebagai pendiri Budi Utomo tercatat pernah menjadi Ketua PI (Perhimpunan Indonesia) kala itu.

Gerakan pelajar Indonesia pada masa perjuangan bukanlah sekadar melawan ‘kolonial’, tetapi lebih besar dari itu. Pemuda Indonesia ingin merdeka dari pengekangan intelektual, penjajahan sumber daya, penindasan kemanusiaan hingga perampasan kedaulatan. 

Perjuangan PPI bersifat intelek dalam artian segala aktivitas dibangun dengan fondasi pemikiran yang mendalam, bukan sekadar emosional. Selain itu gerakan ini bersifat ekspresif dalam artian bagaimana mengungkap kebenaran melalui beragam media. Dan bersifat bebas dalam artian gerakan PPI tidak berafiliasi dengan kepentingan tertentu, murni sebuah dedikasi untuk negeri. Kemerdekaan adalah hasil nyata dari perjuangan PPI.

Nah, setelah masa perjuangan kemerdekaan bagaimana karakter yang melekat dalam pengembangan organisasi PPI?  Saya akan coba mengulas lebih detail tentang arah gerakan baru PPI pascakemerdekaan.

Soft Diplomacy dan Kampanye Sosial 

Seluruh pelajar Indonesia di luar negeri adalah duta bagi Indonesia. Pelajar Indonesia secara langsung maupun tidak langsung mencerminkan  wajah Indonesia. Nilai-nilai keindonesiaan tercermin melalui tingkah laku kita dalam berinteraksi dengan masyarakat internasional. Interaksi antarmahasiswa adalah cara yang bisa dilakukan oleh setiap pelajar untuk menyebarkan nilai-nilai sosial dan budaya Indonesia.

Sebagai bagian dari masyarakat Indonesia,  pelajar tentu selayaknya memberikan  kesan baik kepada dunia bahwa orang-orang Indonesia merupakan pribadi yang menyenangkan dan terpercaya. Nah, Gerakan Diplomasi Sosial yang tumbuh akhir-akhir ini adalah ragam aktivitas sosial budaya yang dilakukan oleh organisasi pelajar Indonesia. 

Kegiatan sosial budaya seperti festival budaya Indonesia, pemutaran film bertema Indonesia, pentas seni, atau sekadar menggunakan batik di hari tertentu dapat mencerminkan nilai keindonesiaan. Melalui gerakan sosial budaya ini, kita tentu berharap mahasiswa dan masyarakat internasional bisa semakin mengenal Indonesia dengan ragam budaya dan seninya. 

Bagaimana cara untuk mencerminkan nilai-nilai sosial di lingkungan akademis? Cukup dimulai dengan sikap positif di kampus, ketekunan dalam kuliah dan kecerdasan yang ditunjukkan selama belajar, serta sikap ramah yang senantiasa jadi kekhasan Indonesia. Inilah yang meningkatkan nama dan nilai Indonesia di mata penduduk dunia dan menjadi cara  lain mempromosikan Indonesia. 

Gerakan Pena 

Sebagai masyarakat intelektual, kita tentu memiliki tanggung jawab moral yang perlu dijalankan. Sejak era perjuangan pelajar Indonesia, menulis adalah bagian tak terpisahkan dari kaum terpelajar. Pelajar  (PPI) pada kala itu aktif  memuat tulisan-tulisan tentang topik Indonesia. Ratusan makalah dan tulisan  dimuat untuk membahas konsep bernegara yang utuh. Inilah yang menimbulkan efek bola salju yang akhirnya berbuah kemerdekaan.

Ambil sebuah contoh, pada tahun 1927 sekelompok pelajar yang tergabung dalam Perhimpunan Indonesia percaya Indonesia akan merdeka. Bung Hatta menuliskan sebuah makalah berjudul ‘Vrije Indonesie’ atau Indonesia Merdeka. Kurang dari 20 tahun sejak makalah tersebut disampaikan, tahun 1945 Indonesia akhirnya mendeklarasikan kemerdekaan. 

Saat ini mahasiswa yang memiliki ide dan gagasan segar untuk kemajuan bangsa layakya harus dirangkum dalam tulisan. Tulisan sebaga sebuah ekspresi intelektual bisa berbentuk artikel di surat kabar, opini di portal organisasi, rekomendasi kebijakan kepada Pemerintah, hingga makalah akademik dalam forum internasional. Sudah menjadi karakternya bahwa ide dan gagasan ini perlu diekspresikan dalam ruang-ruang publik baik ruang akademik maupun ruang diskusi bebas. Inilah yang saya sebut sebagai kampanye intelektual kaum mahasiswa.

Belajar dari pengalaman, turun ke jalan, berbicara lantang di depan media mengkritisi kinerja pemerintah atau bahkan wakil rakyat tanpa memberikan solusi konstruktif tidaklah efektif. Sebagai kaum intelektual yang berintegritas, pelajar Indonesia di luar negeri layaknya menyampaikan saran dan kritik konstruktif disertai dengan data dan kajian yang baik terkait sebuah persoalan. Kita tentu ingin menawarkan solusi baru dan inovatif dalam menanggapi sebuah isu yang berkembang di masyarakat Indonesia.

Selain itu, jika kita berkaca dengan kondisi sekarang, gerakan pena pelajar yang berbentuk artikel-artikel  singkat di atas tidak menutup kemungkinan bisa menjadi kenyataan 20 atau 30 mendatang. Jika kita terus memiliki semangat untuk perbaikan dan pembaharuan bangsa, niscaya gagasan yang awalnya berbentuk tulisan tersebut akan terwujud secara nyata. 

Gerakan Moral dalam Bingkai Politik Kebangsaan

Sebagai organisasi mahasiswa yang menjunjung nilai-nilai kebenaran dan keadilan di tengah-tengah masyarakat, PPI layaknya terus menyuarakan argumen politik moral yang berbasis kepentingan masyarakat tanpa terkooptasi oleh kepentingan tertentu. Sejak berdiri puluhan tahun yang lalu, aktivitas PPI tentu ada kalanya berhubungan dengan aktifitas politik. Namun, politik dalam aktivitas PPI bukanlah politik praktis yang syarat kepentingan tertentu, melainkan politik moral, yaitu politik yang berlandaskan sebuah tanggung jawab sosial kepada rakyat Indonesia. 

Politik moral adalah gerakan yang bersumber dari kuatnya aspek intelektualitas dan integritas seorang pelajar. Tipe gerakan ini jauh dari motif politik praktis. Gerakan politik moral ini adalah dalam rangka mengingatkan pemimpin, mencerdaskan masyarakat, dan menyumbang  kontribusi pemikiran bagi bangsa. Berpolitik moral tidak perlu masuk ke arena politik, cukup memiliki ruang dalam menghimpun dan menyampaikan aspirasi masyarakat secara cerdas dan elegan. Apalagi dengan masifnya teknologi digital saat ini, tentunya akan lebih memudahkan gerakan semacam ini.

Dalam konteks saat ini, peran strategis pelajar adalah aktif menyampaikan pendapat dalam bahasa yang bisa dipahami oleh pengambil kebijakan. Misalnya penyampaian dalam bentuk policy paper¸ atau rekomendasi perundangan. Tentunya ‘pesan’ yang diutarakan oleh pelajar harus konstruktif dan memiliki bobot kualitas yang baik. Hal itu hanya bisa tercapai jika pelajar tersebut adalah seorang yang intelek dan berintegritas. 

Sebelum mengakhiri ulasan singkat ini, saya ingin merefleksi sejenak pentingnya menjaga ‘marwah’ PPI yang dicerminakan melalui gerakan dan program kerja organasi. Apakah kegiatan-kegiatan selama ini sudah memberikan kontrbusi bagi bangsa? Apakah menghabiskan ratusan juta rupiah untuk sekadar pertemuan seremoni merupakan suatu bentuk kontribusi nyata untuk Indonesia?  Jawabannya tentu tergantung dari bagaimana kita menjalankan peran sebagai kaum intelektual dan berintegritas yang tergabung dalam wadah PPI.

Nah, jika saya bisa merangkum uraian di atas, arah gerakan baru mahasiswa akan erat kaitannya dengan kampanye sosial budaya, literasi dan tulisan hingga gerakan politik moral. PPI adalah wadah kolaborasi  terbaik bagi pelajar Indonesia untuk tetap berkontribusi dalam membangun bangsa, bagi saya PPI adalah sebuah kawah candradimuka dan sumber inspirasi bagi para pemuda untuk  perubahan Indonesia yang lebih baik.

Salam Perhimpunan dan Salam Kebangkitan Nasional!


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)