Home » Fokus

'Power' Emak-emak Pengaruhi Pemilu

print this page Selasa, 9/1/2018 | 21:21

ILUSTRASI: RILIS.ID/Hafidz Faza.

Perempuan kayaknya punya peranan penting dalam proses perpolitikan di Indonesia. Melihat fenomena tersebut, tim rilis.id mewawancarai Pakar Psikologi Politik dari Universitas Indonesia, Hamdi Muluk dan Direktur Fasilitasi Kepala Daerah, DPRD dan Hubungan Antarlembaga, Kementerian Dalam Negeri, Akmal Malik Piliang. 

Bagaimana pandangan mereka dalam melihat persoalan ini? berikut kutipan wawancaranya.

Kasus skandal kerap jadi isu kerasi di pejabat publik, bahkan sampai bisa menghambat karir, mengapa demikian?

Hamdi Muluk
Nah ini faktor senitmen jangan sampai "menyakiti" wanita. Inikan yang marah emak-emak, waduh ini pemipin enggak bisa dipercaya jadi bupati atau gubernur kita. Yang marah emak-emak. Makanya, wajar kandidat tampil bisa menghadirkan rumah tangga harmonis, aktif, istrinya soleha. Iyah kan? pokoknya istri yang sempurna dan ikut kampanye juga.

Memahami prilaku pemilih kita ini kompleks. Ada beberapa indikator seperti, keterkaitan sosiologis contohnya ini kantongnya NU. Artinya, ada ikatan berdasarkan agama, termasuk tokoh agama di kampung-kampung. Lalu, mereka yang rasional. Ini biasanya di kota-kota besar terkait program, kualitas dan lainnya. Terakhir adalah masalah psikologis seperti sisi endorsement. Seperti Arumi Bachsin kedekatan ibu-ibu, seneng lebih emosional itu bisa mempengaruhi pemilih di sana.

Akmal Malik
Kita belum pernah menganalisis presepsi publik terhadap kepala daerah terkait moralitas. Karena, kita melihat itu berada dalam ranah pribadi. Tetapi, dalam regulasi, Undang-Undang No. 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah di Pasal 67 itu jelas, kepala daerah itu bisa diberhentikan kalau melakukan perbuatan tercela, di antaranya berzinah, mabok, narkoba.

Kita beri ruang kepada DPRD sebagai patner kerjanya untuk melakukan pengawasan. Jadi, silahkan DPRD mencari bukti-buktinya. Jika terbukti ada pelanggaran, maka selanjutnya bisa diuji ke MA.

Bagaimana sih peranan wanita dalam politik?

Hamdi Muluk
Sekarang gini pengaruh politik wanita masih kecil perwakilan di DPR saja masih kecil. Calon-calon yang berkontestasi masih dominan laki-laki. Pengaruh wanita masih kecil. Cuman kalau kita petakan pemilh wanita ini sebenarnya pemilih wanita lebih banyak dari pada wanita, secara demografis.

Komposisi penduduk wanita itu 54 persen dibanding pria. Kemungkian, emak-emak yang datang ke TPS lebih besar karena kadang laki-laki sibuk bisnis atau kerjaan. Tapi emak-emak lebih setia, pergi ke TPS. Makanya banyak kandiat-kandidat parpol sadar, kalau emak-emak faktor yang menentukan menangnya kandidat atau engga. Mereka memang penting.

Akmal Malik
Saya pikir itu strateginya masing-masing calon, bagaimana menarik segmen pemilih. Ada segmen pemilih muda, perempuan, tua dan berbasis agama. Tentunya kan kandidat harus menjaga karakter pemilih mereka. 

Kan wanita ini belum banyak melek politik, kenapa pengaruh mereka diperhitungkan?

Hamdi Muluk
Secara sosilogis, ada faktornya the power of mouth. Itu semacam gosip, emak-emak kan suka tukar omongan. Mulut ke mulutlah. Fenomena mulut artinya kampanye efektif mulut ke mulut. Emak ngomong kaya gini, makanya di lingkungan secara sadar praktisi politik atau konsultan politik cari strategi mendekati suara emak-emak. Karena the power of the mouth ini efektif. bapak-bapak kan berbeda.

Jadi, kalau ada gosip untuk mengajak pilih kandidat A, maka mereka sebagian besar akan memilih A semua. Malah perbincangan politik lebih intens di emak-emak di pengajian, emak-emak juga paling aktif di whatsapp. Jadi emak-emak faktor penentu pemilih, pada akhirnya.

Akmal Malik
Ya itu yang saya bilang, masing-masing kandidat harus bisa mengkreasikan segmen apa yang mau dijual. Kalau dia mau menjual ke segmen perempuan, dia harus mendapatkan simpati dari perempuan, maka hindarilah perbuatan-perbuatan yang seperti tadi (tercela) itu.

Artinya the power of emak-emak itu betulan punya pengaruh di politik yah?

Hamdi Muluk
Lihat struktur pemilih emak-emak ini masuk dalam lapisan cukup besar. Mereka menyasar ke pengajian-pengajian, biasanya tidak terlalu rasional, sulit kalkulasi visi-misi calon ini apa, programnya apa terlalu kompleks. 

Biasanya lebih ke faktor emosi lebih enak dilihat, kaya Emil (Emil Dardak) itu istrinya menyenangkan pasangan harmonis ini faktor psikologis ini lebih banyak bermain, itu bisa memengaruhi emak-emak itu. Faktor istri menentukan dan masuk ke istri-istri pemilih.

Akmal Malik
Saya pikir begini, akan sangat bergantung kepada siapa yang menggerakkan. Karena, terus terang saja, ibu-ibu rumah tangga, belum tentu mereka memiliki perhatian yang bagus terhadap pemimpin pilihan mereka. Bisa jadi mereka hanya mengikuti suaminya, ikut-ikutan ibu-ibu arisan, atau majelis taklim.

Siapa yang akan mendorong untuk care dalam memilih pemimpin? ya semua, baik keluarganya, teman-temannya, masyarakat dan pemerintah. Bagi saya untuk masalah seperti ini butuh pendidikan politik, untuk keberhasilan demokrasi butuh yang namanya pendidikan politik. Namun itu butuh waktu lama. (tamat).

Baca juga:
Jebakan Purba yang Mematikan (bag.1)
Mereka yang 'Kelar' Karena Perempuan (bag.2)
Ketika Perempuan Beredar di Balik Layar (bag.3)
'Power' Emak-emak Pengaruhi Pemilu (bag.4)

Penulis Sukma Alam
Editor Andi Mohammad Ikhbal

Tags:

Pilkada 2018Media sosialThe Power of Emak-emakPolitik