logo rilis
Potensi Tanaman Sorgum sebagai Sumber Pangan, Pakan dan Bioenergi
Kontributor
Elvi R
18 September 2020, 19:30 WIB
Potensi Tanaman Sorgum sebagai Sumber Pangan, Pakan dan Bioenergi
FOTO: Humas Balitbangtan

RILIS.ID, Jakarta— Peningkatan suhu global berpotensi mempengaruhi produksi pertanian sehingga berdampak pada kemampuan dunia dalam memenuhi kebutuhan pangan. Strategi adaptasi yang paling mendesak dilakukan adalah menanam varietas yang memiliki daya adaptasi tinggi, khususnya terhadap berbagai cekaman biotik dan abiotik. Salah satunya, tanaman sorgum.

Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Gorontalo, Amin Nur mengatakan perubahan iklim merupakan hal yang alami karena adanya keragaman proses kosmologi dan geologi. Dampak utama dari perubahan iklim global adalah peningkatan kandungan CO2, peningkatan suhu, dan perubahan iklim lokal yang berkaitan dengan anomali Iklim (banjir, kering, angin). 

“Hal ini akan berpengaruh pada pertumbuhan dan produksi tanaman,” kata Amin dalam Bincang Inovasi Seri Pangan Lokal pada Kamis (17/9/2020).

Lebih lanjut Amin menerangkan bahwa sorgum merupakan tanaman asli Afrika Timur di wilayah Abessinia, Ethiopia, dan sekitarnya, yang kemudian menyebar ke seluruh dunia. Indonesia sudah menanam sorgum sejak awal abad ke-4. Namun, Indonesia tidak tercantum pada daftar negara produsen sorgum FAO.

Sorgum merupakan tanaman dari family Graminae. Di Indonesia, sorgum lebih dikenal sebagai tanaman serealia dari golongan C4. “Jadi sorgum memiliki tanaman biomass tinggi dan di dalam siklus hidupnya tidak membutuhkan naungan karena membutuhkan sinar matahari penuh,” lanjutnya.

Tanaman sorgum berpotensi untuk mengantisipasi dampak perubahan iklim global karena memiliki daya adaptasi luas khususnya daerah marginal dan lahan kering dan tidak memerlukan input yang tinggi.

Sorgum juga memiliki produksi biji dan biomass jauh lebih tinggi dibanding tanaman tebu dan serealia lain. Kebutuhan air untuk tanaman  sorgum hanya 1/3 dari tebu dan 1/2 dari jagung. Sorgum juga memerlukan pupuk relatif lebih sedikit dan pemeliharaannya lebih mudah. Selain itu, umur panen sorgum lebih cepat  100 – 110 Hst (Hari Setelah Tanam) dan sekali tanam dapat diratun  2 – 3 dalam setahun.

Menurut Amin, sorgum merupakan tanaman serealia potensial karena semua bagian tanaman memiliki nilai ekonomi. Biji sorgum dapat menjadi sumber pangan karena memiliki kandungan gizi yang sangat tinggi dan sebagai subtitusi tepung terigu untuk berbagai produk olahan roti dan kue. 

Senada, Kepala Balitbangtan Fadjry Djufry pada sebuah acara di Bogor beberapa waktu yang lalu juga menyatakan bahwa sorgum merupakan komoditas yang dapat dimanfaatkan untuk pangan, pakan dan energi. "Kalau kita bisa mengembangkan lebih jauh saya pikir kebutuhan pangan dan pakan bisa kita penuhi dari sorgum," ujarnya.

Fadjry juga menegaskan Balitbangtan kedepan akan terus mengembangkan sorgum sesuai kebutuhan untuk pangan, pakan, dan energi.

"Jika ingin dijadikan pakan maka proteinnya ditingkatkan. Kalau butuh bioetanolnya kita bisa tingkatkan lagi brix-nya. Kita juga bisa modifikasi apa-apa saja yang dibutuhkan untuk pangan nantinya," sebut Fadjry.

Daun dan batang sorgum merupakan sumber pakan berfungsi meningkatkan bobot hewan ternak serta meningkatkan produksi daging dan susu. Batang sorgum yang manis merupakan sumber bioetanol, gula cair, gula kristal dan produk lain tergantung jenis usaha yang akan dikembangkan

“BPTP Gorontalo sudah menghasilkan gula dalam bentuk padat dan ini masih berproses. Kami juga sedang membuat gula semut,” kata Amin. 

Sorgum merupakan sumber pangan potensial karena memiliki biji 40-100 gram/malai. Rata – rata produksi biji 6.36 ton/hektare (ha) dengan potensi biji bisa mencapai 8-9 ton/hektare . Berat batang sorgum 400-800 gram/batang bisa dijadikan sebagai sumber pakan dan fuel. Menurut Amin, varietas terbaru dari Badan Litbang Pertanian yaitu Bioguma 1, Bioguma 2 dan Bioguma 3 biomassanya mencapai 45-50 ton/hektare.

Dari batang sorgum bisa didapatkan nira antara 0,10 – 0,15 liter/batang atau 7.143 - 10.714 liter/hektare  dengan kandungan gula Brix 12-17 persen. Kandungan gula brix pada tanaman sorgum ini sangat dipengaruhi oleh lingkungan.

“Ketika kita memanen tanaman sorgum saat musim hujam volume niranya meningkat tapi gula brixnya menurunnya. Namun saat memanen pada musim kemarau, kandungan gula brixnya bisa mencapai 17 persen,” kata Amin.

Ampas batang bisa diolah menjadi silase untuk pakan ternak. Seratnya juga bisa diolah menjadi etanol dengan bantuan enzim dengan potensi 4.286 – 6.428 liter/hektare etanol atau gula cair

Tanaman sorgum juga berpotensi untuk mengoptimalisasi pemanfaatan lahan kering, lahan marginal dan lahan yang tidak diusahakan, serta menambah pendapatan petani. “Tanaman ini luar biasa bandel. Di Gorontalo kami menanam tanaman sorgum di bekas tanah timbunan bercampur batu. Sampai sekarang pertumbuhannya sangat luar biasa,” terangnya.

Pada kesempatan tersebut, Amin memaparkan permasalahan/tantangan pengembangan tanaman sorgum di Indonesia antara lain jaminan pasar belum pasti; produkvitas dan produksi  masih  rendah; benih dalam jumlah besar masih terbatas; dan peralatan pasca panen belum banyak di tingkat petani. Selain itu, produk olahan sorgum belum banyak  dikenal masyarakat dan industri tepung skala  UMKM di daerah sentra  belum terbentuk sehingga  daya saing produk sorgum masih rendah.

Dalam pengembangan sorgum di Indonesia, perlu didorong petani milenial/penyuluh/praktisi dalam berusaha tani sorgum dan selalu berfikir inovatif serta penuh inspirasi. “Kita harus mengubah pola pikir, tidak selalu berpikir dimana saya pasarkan, dan siapa yang menampung. Namun selalu berpikir dengan menuangkan ide-ide kreatif untuk menciptakan pasar dan berkelanjutan,” tuturnya.

Pengembangan tanaman sorgum juga memerlukan identifikasi lokasi sesuai syarat pertumbuhan dan petani yang mau dan mampu melakukan; menciptakan varietas sorgum unggul baru adaptif pada lingkungan suboptimal termasuk penyediaan sumber benih tanaman sorgum; koordinasi kegiatan/roadmap pengembangan jangka pendek, menengah dan panjang; pengembangan integratif hulu – hilirisasi, khususnya terkait dengan produk dan pasar; menjalin kerjasama kemintraan sistem ABGM (Academician – Business – Community – Government – Media)  dan membangun model flagsip.


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)


2020 | WWW.RILIS.ID