logo rilis
Potensi Lahan Pengembangan Bawang Putih Lampaui Kebutuhan
Kontributor
Fatah H Sidik
03 Mei 2018, 16:44 WIB
Potensi Lahan Pengembangan Bawang Putih Lampaui Kebutuhan
Peneliti utama Balai Besar Sumber Daya Lahan Pertanian (BBSDLP) Balitbangtan, Ir. Anny Mulyani, MS (kiri), sela Rakor Pengembangan Bawang Putih di Semarang, Jawa Tengah, Kamis (3/5/2018). FOTO: RILIS.ID/Fatah Sidik

RILIS.ID, Semarang— Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementerian Pertanian (Balitbangtan Kementan) memastikan potensi lahan untuk pengembangan bawang putih melampaui kebutuhan untuk swasembada. Soalnya, dari 1,2 juta lahan potensial hortikultura, Indonesia cuma butuh 87 ribu hektare.

"Bawang putih hanya butuh lahan 78 ribu. Tapi, minta tanah bagus. Jadi, peluang-peluang (swasembada) itu ada," ujar peneliti utama Balai Besar Sumber Daya Lahan Pertanian (BBSDLP) Balitbangtan, Ir. Anny Mulyani, MS, kepada rilis.id sela Rakor Pengembangan Bawang Putih di Semarang, Jawa Tengah, Kamis (3/5/2018).

Seluas 1,2 juta hektare tersebut, katanya, berada di dataran tinggi beriklim kering berdasarkan hasil pemetaan skala 1:250.000 se-Indonesia. Dataran tinggi beriklim kering umumnya berada di wilayah timur, meski yang terluas di Pulau Jawa.

"Yang punya gunung api, yang bekas meletus ratusan tahun lalu, itu yang subur," jelasnya. Lahan sekitar gunung berapi subur, lantaran tanahnya andisol dengan tekstur mengandung pasir. Sehingga, layak untuk budi daya komoditas hortikultura.

Sebagian besar dari 1,2 juta hektare tersebut belum termanfaatkan dengan baik. Umumnya banyak semak belukar. Untuk menjadi lokasi pengembangan bawang putih, harus disiapkan dulu karena banyak syarat. Di antaranya, tanah, tekstur, dan hara. "Haranya harus tercukupi, karena itu umbi. Tanpa pupuk, takkan bisa (tumbuh)," jelas Anny.

Dia tak bisa memperkirakan berapa biaya mengolah lahan marginal yang ditumbuhi semak belukar ini, agar bisa menjadi lokasi budi daya bawang putih. Namun, diyakininya lebih murah daripada pemanfaatan lahan rawa.

"Tapi di lahan yang semak belukar, ditumbuhi rumput-rumput, tidak banyak pohonnya, tidak butuh banyak biaya," katanya.

Untuk membabat semak belukar, tambah Anny, cuma butuh ameloran untuk meningkatkan hara. Sedangkan pada lahan masam, perlu dikapur dulu sehingga mencapai pH ideal 6-7.

"Yang semak-semaknya dilapukan dulu, perlu waktu itu. Enggak bisa dibuang, langsung ditanam. biasanya masyarakat pakai herbisida, supaya rumput-rumputnya mati," urainya.

Anny mengingatkan potensi lahan 1,2 juta hektare tersebut cuma mencakup geofisiknya. Terkait kepemilikan, BBSDLP tak mengidentifikasinya lantaran bukan kewenangannya. Sehingga, perlu sinergi dengan pihak lain, seperti Badan Pertanahan Nasional (BPN), Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup (KLHK), serta pemerintah daerah (pemda).

Dia melanjutkan, banyak tantangan dalam pemanfaatan lahan marginal tersebut atau ekstensifikasi. Misalnya, kesiapan masyarakat, infrastruktur, dan sarana produksi. Karenanya, "Semua pihak haru berkoordinasi dengan berbagai bidang, aspek."

Editor: Andi Mohammad Ikhbal


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)