logo rilis
Poros Ketiga Sulit Terbentuk, PKB dan Demokrat Cari Perhatian Jokowi?
Kontributor
Nailin In Saroh
06 April 2018, 20:21 WIB
Poros Ketiga Sulit Terbentuk, PKB dan Demokrat Cari Perhatian Jokowi?
Ilustrasi Jokowi. RILIS.ID/Hafidz Faza

RILIS.ID, Jakarta— Pengamat Politik dari Universitas Indonesia, Panji Anugerah Permana, menilai kecil kemungkinan terbentuknya poros ketiga, seperti yang direncanakan Demokrat, PKB, dan PAN.

Menurutnya, ada beberapa pertimbangan mengapa poros ketiga sulit terbentuk. Pertama, syarat ambang batas atau presidential threshold.

"Ini bukan hal yang gampang untuk mencapai 20 persen prasyarat untuk maju atau memajukan calon presiden. Jadi prasyarat itu saja sudah berat," ujar Panji saat berbincang dengan rilis.id di Jakarta, Jumat (6/4/2018). 

Kedua, kata dia, dilihat dari popularitas elektabilitas masing-masing calon. Dari partai yang akan membentuk poros ketiga, elektabilitasnya belum ada yang menyaingi partai yang sudah mendeklarasikan capresnya.

"Saya sih skeptis terbentuknya poros ketiga. Walaupun kemungkinan selalu terbuka," katanya.

Di luar hal tersebut, lanjut Panji, yang paling berpengaruh signifikan terhadap munculnya poros ketiga, yakni sumber daya finansial untuk maju sebagai capres. Tentu, tidak sedikit biaya yang diperlukan untuk mengusung capres alternatif dari poros ketiga. 

"Saya lihat structural constraints sebagai batasan yang terstruktur itu menghambat terjadinya kesepakatan poros ketiga. Yang berpengaruh adalah partai-partai yang ingin mengajukan ini kan tentu harus mencapai kesepakatan. Siapa yabg akan diusung bukan hal sederhana," jelasnya.

Kendati demikian, sebut Panji, kemungkinan poros ketiga bisa jadi terbentuk dari koalisi yang belum solid. Serta koalisi tidak mampu mengakomodir kepentingan salah satu parpol.

Karenanya, menurut Panji, adalah lumrah jika Demokrat dan PKB saling tuding tidak serius dalam pembentukan poros ketiga. Sebab bisa jadi,keduanya tak menemukan kesepakatan. 

Bahkan bisa saja salah satunya hanya bergaining agar dilirik poros yang sudah kuat, agar ditawari posisi penting. Apalagi, dinamika politik masih sangat cair.

"Saling lempar tudingan ya biasa. Politisi enggak mau ngaku siapa yang enggak tanggung jawab. Jadi mereka masih cari celah, apakah masuk ke poros pertama Jokowi? Bisa jadi juga merupakan instrumen untuk menaikkan bergaining mereka atas exisiting kandidat dengan menaikkan isu poros ketiga. Karena dengan menaikkan isu ini bisa aja bergain mereka untuk diakomodir kepentingannya," beber Panji.

"Apakah Demokrat menerima jika Imin jadi capres atau cawapres? Demikian sebaliknya. Tapi poros ketiga terlalu kecil,” tandasnya.

 

Editor: Taufiqurrohman


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)