logo rilis
Populisme Ketonggeng
kontributor kontributor
M. Alfan Alfian
03 Januari 2018, 19:15 WIB
Doktor Ilmu Politik, Direktur Pascasarjana Ilmu Politik Universitas Nasional, Kepala Sekolah Kepemimpinan Politik Bangsa Akbar Tandjung Institute, dan Pengurus Himpunan Indonesia untuk Pengembangan Ilmu-ilmu Sosial (HIPIIS).
Populisme Ketonggeng

Sekarang semakin tidak jelas yang mana, apa, dan siapa ketonggeng.”
—Emha Ainun Nadjib

MULAI minggu ini dan seterusnya, saya mengupayakan mengulas buku-buku bertajuk populisme politik. Kolom kali ini baru pra-prolog atau mungkin pra-pra-prolog alias awal-awal pemanasan, hidangan sepintas lalu, belum makanan yang kelas berat.

Baca Juga

Masalah populisme ini, definisi alias pengertiannya bisa meluas ke mana-mana, ke kiri ke kanan, ke sana kemari, tetapi juga bisa menyempit dan terbatas, atau malah kabur, sehingga mengingatkan kita pada makhluk yang bernama ketonggeng pada kolom Emha Ainun Nadjib di majalah Tempo pertengahan 1980-an.

Emha menulis “Ketonggeng” diawali dengan kalimat, “Sekarang semakin tidak jelas yang mana, apa, dan siapa ketonggeng.” Dan, setelah kita diayun-ayunkan ke sana kemari berputar-putar tak keruan, kolom ini kembali ke kalimat awalnya, “Sekarang semakin tidak jelas yang mana, apa, dan siapa ketonggeng.”

Masalah populisme, kita bahas nanti. Kita baca dulu ketonggeng Emha, mana, apa, dan siapa sesungguhnya ia?

Dalam kolom Emha, mana, apa, dan siapa sesungguhnya ketonggeng semakin tidak jelas, justru karena “terlalu banyak disebut-sebut”.

“Mula-mula, seperti binatang lainnya, nama ketonggeng dihafal sejak sekolah taman kanak-kanak. Dideklamasikan, ditulis di setiap buku, dipasang di dinding kelas, bahkan akhirnya ada mata pelajaran khusus mengenai ketonggeng. Semua itu berlangsung sedemikian rupa sehingga menggeser kedudukan binatang besar seperti kambing, lembu, bahkan unta.”

“Di luar sekolah, nama ketonggeng bukan main harus dan terkenal. Tidak hanya dipasang di spanduk atau papan poster di sepanjang jalan, tetapi juga berkat namanya dikutip terus dalam pidato siapa pun. Dari pidato-pidato pekan olahraga, peresmian pabrik tas kulit buaya, sampai khotbah di masjid dan gereja. Tajuk rencana koran pun rajin menulis ketonggeng.”

“Diumumkan suatu undang-undang perlindungan ketonggeng, yang pendeknya berisikan siapa saja yang melawan ketonggeng bakal menemui kehancuran sendiri.”

“Para politisi, sosiolog, antropolog, ahli kimia, sarjana anggrek, doktor sikat gigi, sampai alim ulama, tak ada yang lupa dan ketinggalan menyitir pakde ketonggeng. Beliau bahkan sering menjadi tema pentas-pentas drama, dibuat lukisan, dibuat syair lagu yang manis, gagah mendayu-dayu.”

“Ketonggeng menggema di seantero negeri. Meskipun dia asli desa, sekarang ada Ketonggeng Masuk Desa (KMD). Ada sepak bola ketonggeng, ayam goreng ketonggeng, padi ketonggeng. Alhasil, apa saja manunggal dengan ketonggeng. Puncak dari kesemarakan ini ialah penobatan seorang Tuan Ketonggeng Nasional.”

Akhirnya “… disepakati untuk menyelenggarakan seminar ketonggeng ... Cuma yang menjadi puncak acara ialah kenyataan bahwa para ahli itu tak seorang pun yang tahu apa sesungguhnya ketonggeng. Seminar macet. Diputuskan untuk terlebih dahulu mengadakan survei. Didahului prasurvei, pra-prasurvei, re-resurvei, re-re-resurvei.”

“Namun karena para ahli itu kesibukannya bukan main luar biasa, maka survei itu dilimpahkan kepada wakilnya, dan oleh wakilnya dilimpahkan lagi kepada wakilnya, dan lagi! Namun itu tidak penting, juga tidak menarik berapa biaya yang dihabiskan. Yang mengejutkan ialah kesimpulan survei, bahwa yang namanya ketonggeng ternyata tak lain dan tak bukan justru para pakar itu sendiri. Ini komedi, tapi juga tragedi.”

Ada juga “yang terang-terangan menumbuhkan bakat keketonggengan. Yakni dengan sengaja menjadi ketonggeng, mengakomodasi dan bahkan menciptakan jaringan sistem model ketonggeng, menciptakan program ala ketonggeng, menyebarkan obat ketonggeng, serta melakukan eksplorasi sistematis tipe ketonggeng.”

“Pasukan ketonggeng menjadi begitu kuat, yang formal maupun non-formal. Seluruh negeri dikendalikan oleh elite-elite ketonggeng. Sumber dana tersedia dan diperebutkan. Kreativitas sandiwara ketonggeng sedemikian indah dan cerdas serta lewat media komunikasi yang bermacam bentuknya ….”

“Yang menyedihkan, atau malah mungkin menggembirakan, yaitu kepergian ketonggeng yang asli yang tanpa pamit. Kabarnya mereka menghilang ke hutan, tempat asal-usul mereka.”

“Lenyapnya ketonggeng ini malah kurang mendapat perhatian orang. Sebab mereka kini diam-diam sibuk bertanya dalam hati: Lho, saya ini ketonggeng apa bukan, ya? Sekarang makin tidak jelas yang mana, apa dan siapa ketonggeng.”

Yang hidup sezaman dengan Orde Baru bisa lebih kreatif menafsirkan, apa kira-kira kritik sosial Emha melalui ketonggengnya. Ada sesuatu yang dikeramatkan, diseminarkan, diindoktrinasikan, diklaim-klaim sebagai jimat sakti, dan seterusnya, tetapi sesungguhnya itu tak jauh dari konteks penguatan kekuasaan negara. Sehingga ujung pangkalnya semakin tak jelas, apa sesungguhnya “ketonggeng” itu.

Tapi, apa kira-kira hubungan kolom itu dengan perlakuan Pancasila di masa itu?

Kini, bagaimana duduk soalnya dengan populisme? Sudah disinggung di atas, nanti kita juga mungkin akan mengatakan, “Sekarang semakin tidak jelas yang mana, apa, dan siapa populisme itu.”

Sebagai ancang-ancang, bacalah dulu buku ringkas Cas Mudde and Cristóbal Rovira Kaltwasser, Populism, A Very Short Introduction (Oxford University Press, 2017).

Di kolom berikutnya, akan kita ulas.


#Populisme
#Ketonggeng
#Emha Ainun Nadjib
#Kolom
#Jendela
#Alfan Alfian
500
komentar (0)