logo rilis
Politisi, Sontoloyo, Jokowi,...
kontributor kontributor
Yayat R Cipasang
31 Oktober 2018, 10:22 WIB
Penulis seorang kerani dan penyelia di RILIS.ID
Politisi, Sontoloyo, Jokowi,...
ILUSTRASI: Hafiz

DALAM Bulan Bahasa ini kita sebenarnya harus mengucap syukur karena Presiden Jokowi telah memperkenalkan kepada publik kosakata atau lema yang selama ini sudah jarang digunakan. Baik itu di masyarakat bawah, sekalipun di kalangan elite bangsa ini.

Presiden Jokowi bahkan mungkin dalam Bulan Bahasa ini seharusnya mendapatkan anugerah sebagai pelopor penggunaan bahasa Indonesia yang baik (belum tentu benar) di tengah bangsa ini yang kadung merasa gagah menggunakan bahasa Inggris baik dalam bertutur atau untuk kepentingan bisnis. Misalnya, kompleks perumahan di pinggir kali saja menjadi 'riversside'. Katanya lebih keren(?).

Untuk ini Jokowi layak dipuji karena telah mempopulerkan sebuah kata sehingga editor, redaktur, penyelia bahasa dan juga politisi pun terpaksa harus membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia versi terbaru.

Sama seperti halnya di KBBI, dalam Tesaurus Bahasa Indonesia karya Eko Endarmoko (Gramedia, cetakan ke-3 Desember 2009), kata sontoloyo juga bermakna makian yang memiliki sinonim brengsek atawa konyol.

Jokowi telah memulai penggunaan kata sontoloyo, di ruang publik. Kata itu terasa sangat pasaran dan sangat enak diucapkan. Karena memang fungsinya untuk menghardik dalam bahasa percakapan. Ketika kita berteriak sontoloyo di depan publik interpretasi pun bisa beragam. Walaupun sontoloyo yang dimaksudkan Jokowi diarahkan kepada politisi Senayan yang rese, nyebelin dan kecentilan.

Tetapi apapun tujuan atau motif Jokowi menggunakan kata sontoloyo di depan rakyatnya, pasti sudah dipikirkan dampaknya. Jokowi sebagai figur publik tahu betul ucapannya bakal mewabah (viral) dan tidak hanya didengar oleh orang dewasa yang brengsek tetapi juga didengar anak-anak yang lugu.

Harus diingat Jokowi bukan hanya sebagai presiden dan juga politisi tetapi juga sebagai figur publik. Seharusnya menjadi sosok yang tidak hanya menjadi penutur atau pengguna bahasa yang baik tetapi juga harus benar.

Di mana tempatnya seorang presiden menggunakan bahasa preman dan pasaran dan di mana pula menggunakan bahasa tinggi atau bahasa resmi. Kalau seorang presiden saja tidak bisa membedakan ruang dan waktu dalam berbahasa bagaimana dengan rakyatnya yang saling hujat tiap hari di media sosial.

Tentu, hak presiden untuk bertutur apa yang menjadi kegundahan hatinya. Apalagi Presiden Jokowi juga sekaligus sebagai Capres Jokowi. Dua status yang berkelindan yang memiliki konsekuensi berbeda. Status Presiden sebagai milik bangsa sementara status Cawapres hanya milik kelompok dan partai.

Dua status ini tentu akan melahirkan anomali akhir-akhir ini. Lantaran dua perbedaan dalam satu tubuh itu, maka  kita tinggal tunggu saja, lema atau kata apalagi yang akan kembali diperkenalkan Jokowi kepada masyarakat dalam enam bulan ke depan.

Andaikan hasil temuan KNKT misalnya membuktikan manajemen Lion Air bersalah dalam kecelakaan pesawat di perairan Tanjung Karawang atau mungkin permasalahan ada di pabrikan Boeing, akankah Jokowi mengatakan kata sontoloyo, kutukupret, brengsek atau cukup dengan kata prihatin atau mengapresiasi?

Kita tunggu saja.




Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID