logo rilis
Politik Putin di Piala Dunia
Kontributor

21 Juni 2018, 08:39 WIB
Politik Putin di Piala Dunia
Presiden Rusia Vladimir Putin. FOTO: Reuters

RILIS.ID, Moskow— Berlabel tim tuan rumah, Rusia memastikan melaju ke babak sistem gugur untuk pertama kalinya sejak keruntuhan Uni Soviet. 

Terisolasi di panggung global, Piala Dunia telah membantu Presiden Rusia Vladimir Putin mengirim pesan menantang kepada lawan-lawannya, bahwa Rusia berhasil meski ada upaya Barat untuk menahannya.

Bahkan, Putin menilai Piala Dunia Rusia lebih baik daripada yang diperkirakan.

Putin menegaskan, seruan boikot beberapa politisi Barat dianggap gagal, karena semua komitmen dan infrastruktur Moskow telah dipenuhi, dan 11 kota tuan rumah Rusia telah dibanjiri fans internasional dengan minum, bernyanyi dan menari di jalanan.

Tak hanya itu, kepuasan Putin atas keberhasilan Rusia di atas lapangan juga diungkapkan, ia mengibaratkan lapisan gula pada kue.

Setelah menghancurkan Arab Saudi 5-0 dalam pertandingan pembukaan mereka dan mengamankan kemenangan mengejutkan 3-1 atas Mesir di St Petersburg pada Selasa (19/6/2018), Rusia dijamin mendapat tiket melaju ke tahap akhir turnamen.

"Saya pikir keberhasilan ini sangat penting, dan terlebih lagi karena tidak ada yang benar-benar mengharapkannya," kata Maxim Trudolyubov, mitra senior di Kennan Institute dan editor dari harian terbesar Rusia Vedomosti.

Menurut Maxim, Putin adalah tipe politisi yang menginginkan kemenangan, Bagi Putin, politik adalah pertarungan, permainan, pertaruhan, kemenangan dan tentang Rusia sesuatu berarti di dunia.

Rusia memasuki Piala Dunia dengan peringkat FIFA sebagai tim terlemah turnamen dan tanpa kemenangan di lapangan dalam lebih dari tujuh bulan.

"Begitu rendahnya harapan, maka ada banyak suara mengejek tim nasional dan mempertanyakan keuntungan finansial menjadi tuan rumah Piala Dunia 2018 yang viral secara online, mengumpulkan lebih dari 9 juta tampilan di YouTube," ungkap komika Rusia Semyon Slepakov dalam syair lagunya.

Bahkan Putin tampak tidak memfokuskan perhatiannya pada kemenangan lebih jauh di lapangan, dan berujar bahwa para pemenang akan menjadi penyelenggara" ketika ditanya di sebuah forum ekonomi bulan lalu tentang siapa yang akan memenangkan Piala Dunia.

Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, mengatakan Putin tak bisa menyaksikan pertandingan Rusia menghadapi Mesir ketika ia masih berada di pesawat sepulang dari perjalanan ke Belarus, tetapi ia diberitahu tentang hasilnya oleh stafnya segera setelah ia mendarat.

Peskov mengatakan, dia bereaksi sama seperti seluruh rakyat negaranya, sangat positif. 

"Ini adalah kemenangan yang sangat manis untuk semua orang, sangat membahagiakan, dan jadi presiden juga merasa senang," tutur Peskov dalam konferensi dengan para wartawan 

Sementara itu, beberapa pengamat Kremlin, menegaskan bagaimana pun dividen politik yang diterima Putin dari keberhasilan Rusia di turnamen akan terbatas.

Andrei Kolesnikov, seorang rekan senior di lembaga kajian Carnegie Moscow Center, mengatakan, Piala Dunia tidak mungkin untuk menghasilkan sejenis demam nasionalis Putin yang sebelumnya dia gunakan untuk meningkatkan popularitasnya, seperti setelah aneksasi Rusia atas Crimea dari Ukraina pada 2014.

"Tidak ada yang mengharapkan sesuatu dari tim sepak bola nasional kami," katanya. 

Jadi, sambungnya, tak ada alasan untuk histeria patriotik. Yang terbaik bagi Putin dapat melakukan soft power dengan suksesi turnamen berlangsung baik tanpa episode yang tidak menyenangkan, terutama dalam hal keamanan, dan hanya menikmati olahraga. 

"Saya tidak berpikir bahwa semua hal ini berarti apa pun di dalam negeri," tegasnya.

Sementara turnamen Piala Dunia telah membantu Kremlin mengalihkan perhatian dari beberapa hal luput dari perhatian -- seperti keputusan tidak populer untuk menaikkan pajak dan meningkatkan usia pensiun di dalam negeri, atau peran Moskow yang tampaknya berkurang dalam krisis Korea Utara -- pada akhirnya tidak mungkin cukup.

Ned Pendleton, seorang fans Inggris berusia 32 tahun dari London, mengatakan, turnamen yang diselenggarakan sangat baik dan ramah tidak akan membantu merehabilitasi bayangan Moskow di Inggris, di mana Kremlin dituduh meracuni mantan mata-mata Rusia dalam serangan gas saraf sebelumnya pada tahun ini. Moskow menyangkal terlibat.

"Mereka ingin mencoba meningkatkan citra dengan menjadi tuan rumah turnamen ini, dan mereka akan membuatnya sebagai penyambutan bagi para fans seperti biasa," katanya ketika mengunjungi Lapangan Merah Moskow pada Rabu (20/6/2018).

"Tapi itu tidak ada hubungannya dengan hubungan internasional, seperti menyerang Crimea dan meracuni orang di Inggris," tukasnya. 

Sumber: ANTARA


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)