M. Alfan Alfian

Doktor Ilmu Politik, Direktur Pascasarjana Ilmu Politik Universitas Nasional. Juga Kepala Sekolah Kepemimpinan Politik Bangsa Akbar Tandjung Institute.

Politik, di Antara Surga dan Neraka

Selasa, 17/10/2017 | 18:06

BUKU itu tipis saja. Saya menemukannya di kios buku sebuah bandara. Sudah menjadi kebiasaan, ketika di bandara, kalau waktunya agak longgar, menujulah saya ke kios buku. Baru warung kopi. Tentu kios-kios buku di bandara dipenuhi buku-buku sekadarnya. Fiksi mendominasi. Nonfiksi menyusul. Baru majalah-majalah. Pengunjung selintas mencari, apa yang baru, kalau bukan yang menarik.

Nah, kali ini, buku tipis itu menarik perhatian. Ia bicara soal politik. Sebagai orang yang jalan hidupnya “kesampar kesandung”, dan akhirnya terdampar di tepian ilmu politik, itu buku menarik perhatian. Yang menulis profesor ilmu politik kenamaan. Tampaknya, dia diminta saja oleh penerbitnya, menjelaskan tetek bengek politik untuk segmen pembaca yang luas. Apa kira-kira yang hendak disampaikannya?

Profesor David Runciman tak muluk-muluk menjelaskan tema serius dan menantang ini: politik. Secara ekstrinsik, dia juga dikenal sebagai penulis, kolumnis, sehingga kalimat-kalimat yang dipakainya mengalir saja, lentur. Penjelasan-penjelasannya sederhana, mengajak pembaca ikut bergerak ke alur logika yang disusunnya.

The Guardian melabeli sang kolumnis, “David Runciman is professor of politics at Cambridge University and the author of several books, including The Politics of Good Intentions (2006), Political Hypocrisy (2008) and The Confidence Trap (2013).”

Buku Runciman yang dimaksud kali ini, Politics, Idea in Profile (2014). Idea in Profile merupakan serial isu-isu penting yang dihadirkan penerbitnya, Profile Book Ltd, London. Dalam bukunya itu, Runciman mencantolkan politik dengan isu mutakhir seraya menarik garis ekstrem. Titik-titik ujung dari garis itu: Suriah dan Denmark.

FOTO: allenandunwin.com


“Kalau kamu hidup di Suriah sekarang,” catatnya, “kamu terjebak di kondisi mirip neraka: hidup penuh ketakutan, kekerasan, ketidakpastian, kesengsaraan, dan… kebingungan.” Perang sipil di sana telah menyengsarakan jutaan orang. Banyak yang meninggal akibat kekerasan dan perang. Gelombang besar pengungsi menandai salah satu peristiwa sangat menyedihkan di abad ini.

Sebaliknya, “Kalau kamu beruntung tinggal di Denmark,” catatnya, “kamu ada di apa yang ditentukan oleh standar sejarah suatu versi surga: hidup nyaman, sejahtera, terlindungi dan beradab, dan hal-hal sejenis.” Maka, siapa pun kalau disuruh memilih mau tinggal di mana antara dua negara itu, Denmarklah kiranya.

Masalahnya, bagaimana Denmark bisa seperti surga, Suriah neraka? Secara sumber daya alam, Denmark dibanding Suriah, Denmark lebih sedikit. Secara posisi geostrategis, Suriah lebih penting, demikian pula dari kekayaan warisan sejarah peradabannya. 

“Yang membedakan Suriah dan Denmark adalah politik,” catat Runciman lugas. “Politiklah yang membuat Suriah seperti apa adanya sekarang.” Demikian pula, “Politiklah yang telah menolong Denmark untuk menjadi seperti apa adanya sekarang.”

Dengan mengajukan dua ekstrem itu, Runciman mengajak pembacanya untuk, secara tak langsung, melihat politik sebagai sesuatu yang netral. Dia bisa membelok ke “malaikat” (angel), juga “setan” (devil). Soal malaikat dan setan ini, kendatipun tak ada di buku Runciman, kecuali metafor “surga” dan “neraka”, segera mengingatkan kita pada pepatah, “Better the devil you know, than the angel you don’t.”

Pepatah itu menyemprit secara moral ke kita, betapa seringnya kita justru lebih memilih berteman dengan “setan”, ketimbang “malaikat” alias orang-orang baik. Padahal, tembang yang hadir dari khazanah para Wali tempo dulu jelas berpesan, “Wong kang saleh kumpulono.” Berteman dengan orang-orang baik, orang-orang saleh (devout people), itulah salah satu resep cespleng pengobat hati yang lara (“tombo ati”).

Tapi, masalahnya ialah, apakah bisa dalam politik seperti itu? Apakah partai politik dapat didefinisikan sebagai “perkumpulan orang-orang yang baik-baik saja”, di mana AD/ART-nya terdapat klausul penting, “orang jahat, orang “nylekutis” alias “nguris”, orang yang suka “nyopet dipasar” tak boleh ikut. Atau, “partai ini diperuntukkan buat orang-orang yang saleh saja”. Tidak begitu, kan? 

Tak ada satu pun definisi partai politik dalam buku karangan Miriam Budiardjo, Dasar-Dasar Ilmu Politik, yang mengatakan begitu, kan?
Lacak juga di bukunya Andrew Heywood, Politics, yang memang diperuntukkan bagi para mahasiswa ilmu politik, tak ada juga definisi seperti di atas. 

Nyaris semua penulis buku ilmu politik mendefinisikan partai politik sebagai mereka yang berhimpun dalam organisasi (yang diformalkan) dan punya tujuan politik.

Memang, partai politik punya niat, punya nilai-nilai dasar, kalau bukan ideologi ataupun platform yang menghendaki para anggotanya “orang-orang baik”. Tapi kenyataannya, susah untuk menjamin semua kader “orang-orang baik”. 

Maka, dalam konteks “the devil” dan “the angel”, jelaslah maksudnya, kalau kamu politisi, kamu punya jabatan dan pengaruh, akan lebih menguntungkan manakala yang kamu temani “the devil” yang sudah kau kenal, sehingga mudah kamu setir dan manfaatkan untuk mempertahankan, apa yang dikonsepsikan Jeffrey Winters dalam bukunya, Oligarchy, sebagai “wealth defense” (pertahanan kekayaan)-mu.

Dalam kacamata Winters, politik itu kontestasi antar-oligark yang sama-sama berkepentingan mempertahankan “wealth defense” masing-masing. Tentu kita segera ingat Machiavelli. Sebenarnya, dia tak sekadar berurusan dengan “menghalalkan segala cara”. Dia juga bicara politik kesejahteraan, kerakyatan. 

Namun, memang bapak “realisme politik” ini lebih mementingkan bagaimana kekuasaan itu diraih dulu (nyaris dengan segala cara). Setelah berkuasa, “raja” harus bertanggung jawab pula untuk kesejahteraan: supaya rakyatnya tidak melawan.

Jadi, politik bisa mengarahkan ke kebaikan, ya. Ke kejahatan, ya. Maka, syair Iwan Fals, “tidak selamanya politik itu kejam” itu “paten kali” rupanya! Persepsi tentang “politik itu kejam”, memang lazim menyeruak dalam obrolan di warung-warung kopi. Praktik pemerintahan atau rezim yang otoriter semakin memperkuat persepsi tersebut.

Pada masa lalu, bayang-bayang represivitas Orde Baru membingkai persepsi “politik itu kejam”. Pada masa kini, “politik itu kejam”, tampaknya telah bergeser ke urusan-urusan kontestasi politik. Para politisi yang berkontestasi dalam pemilu bahkan sering menggerundel, “Oh, betapa kejamnya politik, karena aku sudah banyak keluar uang, eh tak kepilih juga! Mbelgedhes!”

Kembali ke politik “surga” dan “neraka”, bagaimana duduk soalnya dalam buku Runciman? Supaya pembaca penasaran, dan mungkin juga lekas mencari bukunya, saya hentikan dulu kolom kali ini, untuk dibahas di kolom berikutnya. Namanya juga serial. 

Kolom ini kan seperti sinetron serial. Begitu adegan sedang tegang-tegangnya, tiba-tiba nongol tulisan: bersambung!