logo rilis

Polemik Anies-Ombudsman, Kemendagri Tak Akan Bersikap Berlebihan 
Kontributor

28 Maret 2018, 01:10 WIB
Polemik Anies-Ombudsman, Kemendagri Tak Akan Bersikap Berlebihan 
Kawasan Tanah Abang, DKI Jakarta. FOTO: RILIS.ID/Indra Kusuma

RILIS.ID, Jakarta— Direktur Jenderal Otonomi Daerah (Ditjen Otda) Kementerian Dalam Negeri, Sumarsono mengatakan, pihaknya tidak akan bersikap berlebihan, selama Ombudsman Republik Indonesia (ORI) tidak merekomendasikan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan terkait temuan malaadministrasi pemerintah provinsi itu dalam penataan Tanah Abang.

"Karena gak ada rekomendasi, jadi Kemendagri enggak ada tindakan. Tapi, kita selalu membuka ruang, jendela dan pintu. Kalau ada kepala daerah kita layani. Jadi kita tidak akan langsung action gara-gara sebuah laporan begini," katanya kepada rilis.id, di Jakarta, Selasa (27/3/2018). 

Menurutnya, konsekuensi pemberhentian kepala daerah itu ada proses politiknya, sekali pun kepala daerah dikenakan sanksi administratif, pemberhentian tersebut harus melewati beberapa tahap. 

"Maksimum satu dan dua dari teguran tersebut tidak dilaksanakan. Kemudian teguran ketiga baru diberikan sanksi berupa pemberhentian sementara. Itu pun prosesnya panjang," kata Sumarsono.

Ia juga tidak melihat ada fakta yang benar-benar kuat yang terkait rekomendasi dari ORI untuk Anies.

Kalau pun sampai ada rekomendasi, Sumarsono yakin, Anies Baswedan akan melaksanakan langkah korektif.  

"Pemprov DKI juga diberi kesempatan untuk mempelajari dan melakukan tindakan korektif serta melakukan langkah-langkah yang memang sepatutnya dilakukan oleh Pemda DKI Jakarta," pungkasnya sembari menegaskan rekomendasi bisa dilakukan atas wewenang ORI, bukan pada Ombudsman Jakarta Raya.

Namun, Pelaksana Tugas Kepala Perwakilan Ombudsman Republik Indonesia (ORI) Jakarta Raya, Dominikus Dalu, menyatakan akan meberi sanksi administratif terkait malaadministrasi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam penataan Tanah Abang.

Termasuk di dalamnya, pencopotan jabatan jika Anies tidak melakukan langkah korektif.


 

Editor: Kurnia Syahdan


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)