logo rilis
Polda Metro Jaya Ungkap Jaringan Narkoba, Modusnya Mesin Cuci
Kontributor
Afid Baroroh
12 Februari 2018, 16:22 WIB
Polda Metro Jaya Ungkap Jaringan Narkoba, Modusnya Mesin Cuci
Pengungkapan Narkoba dengan modus mesin cuci oleh Kapolri. FOTO: RILIS.ID/Afid Baroroh

RILIS.ID, Jakarta— Tim Satuan Petugas Khusus (Satgassus), Kepolisian Republik Indonesia bersama Ditresnarkoba, Ditreskrimum Polda Metro Jaya dan Polresta Tangerang Selatan berhasil mengungkap jaringan peredaran narkotika jenis sabu dengan jaringan Malaysia-Jakarta. 

"Modusnya menggunakan mesin cuci dan berhasil ditindak paksa," kata Kapolri, Jenderal Pol Tito Karnavian di Gedung Prometer, Jakarta, Senin (12/2/2018). 

Tito mengatakan, tim melakukan penindakan paksa pada pukul 21.00 WIB di Komplek Pergudangan Harapan Dadap Jaya, Nomor 36 Gedung E 12, Kelurahan Dadap, Kecamatan Kosambi, Kota Tangerang. 

Dalam penindakan tersebut, tim berhasil mengamankan sabu sebanyak 228 bungkus plastik berisi kristal metamfetamin. Berat seluruhnya, 239.785 kilogram. Tim juga berhasil mengamankan enam bungkus plastik berisi 30.000 butir ekstasi.

Kepolisian, kata Tito, juga berhasil mengamankan 12 mesin cuci yang digunakan untuk menyimpan barang tersebut. Tito mengaku, pelaku menggunakan mesin cuci sebagai modus baru dalam penindakan peredaran narkoba. 

“Modus ini relatif baru, karena menggunakan mesin cuci. Biasanya menggunakan tas. Ini menggunakan mesin cuci,” herannya. 

Pelaku yang berhasil diamankan terdiri dari tiga warga negara Indonesia dan satu warga negara Malaysia yang diduga kuat sebagai otak dari jaringan narkoba tersebut.

Warga Negara Malaysia tersebut bernama Lim Toh Hing alias Onglay alias Mono yang tertembak mati dalam perjalanan ke rumah sakit, karena sempat melakukan perlawanan. 

Sedangkan, tiga dari warga Negara Indonesia adalah Joni alias Marvin Tandiono, Andi alias Aket bin Liu Kim Liong dan Indrawan alias Alun (masih dalam lapas di bilangan Jakarta). 

“Primer pasal yang disangkakan adalah Pasal 114 ayat (2) juncto, Pasal 132 ayat (1) subsider, Pasal 112 ayat (2) juncto, Undang-undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Ancaman hukum pidana mati, pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat enam tahun dan paling lama 20 tahun,” pungkas Tito Karnavian. 

Editor: Kurniati


500
komentar (0)