logo rilis
Pimpinan MPR Harap Kemenag Bantu dan Lindungi Pesantren sesuai UU
Kontributor
Nailin In Saroh
12 Juli 2020, 09:09 WIB
Pimpinan MPR Harap Kemenag Bantu dan Lindungi Pesantren sesuai UU
Wakil ketua MPR Hidayat Nur Wahid. FOTO: Istimewa

RILIS.ID, Jakarta— Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid, meminta Kementerian Agama melaksanakan kewajibannya membantu dan melindungi Pesantren (baik lembaga maupun Kiyai dan Santri) dari COVID-19. Baik dari kelembagaan, kesehatan maupun menanggulangi dampak ekonomi, dengan secara konsekuen menjalankan ketentuan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren.

Menurut Hidayat, UU Pesantren dibuat dan diundangkan tentunya agar bisa bermanfaat untuk membantu Pesantren, baik yang tradisional, modern, mu’adalah maupun yang memadukan antara ilmu agama dengan umum. 

"Di era pandemi COVID-19, di mana ada banyak Pesantren yang terdampak, kehadiran UU ini makin relevan, dan karenanya penting secara konsekuen dilaksanakan oleh Pemerintah selaku pelaksana UU,” ujar Hidayat dalam keterangan tertulis yang dimuat, Minggu (12/7/2020).

HNW sapaan akrabnya menyebutkan bahwa Pasal 42 UU Pesantren mengamanatkan kepada Pemerintah pusat dan pemerintah daerah untuk memberikan dukungan pelaksanaan fungsi dakwah pesantren dalam bentuk kerja sama program, fasilitas kebijakan, dan pendanaan.

Selain itu, ada pula Pasal 46 ayat (1) dan ayat (2) yang menyebutkan bahwa pemerintah memberikan dukungan dan fasilitas ke pesantren dalam melaksanakan fungsi pemberdayaan masyarakat, dengan dukungan berupa: (a) bantuan keuangan; (b) bantuan sarana dan prasarana; (c) bantuan teknologi; dan/atau (d) pelatihan keterampilan.

“Dukungan-dukungan itu tentu perlu disesuaikan dengan kondisi pandemi COVID-19 yang saat ini juga berdampak bagi Pesantren," jelasnya.

Anggota Komisi VIII Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) ini mengungkapkan pihaknya sudah berulangkali menyampaikan agar Kementerian Agama memberikan perhatian yang serius kepada Pesantren saat pandemi COVID-19 ini.

Sejak Rapat Kerja pertama di masa COVID-19 dengan Kementerian Agama (8/4/2020), kata HNW, pihaknya sudah mengusulkan agar Kemenag juga memprioritaskan anggaran untuk mendukung pelaksanaan belajar mengajar di Pesantren baik yg langsung maupun jarak jauh khususnya untuk Pondok Pesantren dan madrasah. Bahkan pihaknya mengusulkan opsi penggunaan dana abadi pendidikan untuk tujuan itu, dan usulan tersebut telah disetujui oleh Menteri Agama.

“Menteri Agama telah menyepakati sejak 8 April 2020 untuk memprioritaskan anggaran bagi pesantren dan pendidikan keagamaan lainnya. Hal itu perlu segera direalisasikan sebagai tanggung jawab kepada DPR, konsekunsi konstitusional dari disahkannya UU Pesantren, serta apresiasi negara terhadap sumbangsih dan jasa Pesantren bagi Indonesia,” kata wakil ketua Dewan Majelis Syuro PKS itu. 

Hidayat menambahkan, pada raker terakhir Komisi VIII dengan Kemenag (26/6/2020), muncul usulan tambahan anggaran 2020 sebesar Rp 2,8 Triliun untuk fasilitasi kegiatan pesantren dan pendidikan keagamaan yang terdampak COVID-19. Namun, Kementerian Keuangan hanya menyetujui sebesar Rp 2,36 Triliun. 

HNW pun berharap Kementerian Keuangan segera mencairkan dana tersebut dan Kementerian Agama segera mendistribusikannya kepada Pesantren di seluruh Indonesia secara adil dan amanah.

Ia juga mendorong Kemenag mengalokasikan anggaran yang tidak terpakai/terealisasi di ditjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah sebesar Rp1,2 Triliun, karena Pemerintah tidak memberangkatkan haji tahun ini. Dukungan anggaran tersebut, kata dia, perlu segera direalokasikan dan direalisasikan kepada Pesantren dengan segala keragamannya, agar kegiatan pembelajaran di Pesantren bisa segera berjalan lancar sesuai dengan protokol COVID-19. 

"Termasuk untuk membantu para Santri dan Ustadz, terkait pembayaran test kesehatan maupun biaya kegiatan belajar dan kesehatan di Pesantren di era darurat kesehatan COVID-19," pungkas HNW.  

 


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)


2020 | WWW.RILIS.ID