logo rilis

Pilpres Mengulang Sejarah?
Kontributor
Zulhamdi Yahmin
21 September 2018, 15:25 WIB
Pilpres Mengulang Sejarah?
ILUSTRASI: RILIS.ID/Dendi Supratman.

KATANYA Jatim adalah rumah santri. Rumahnya kiyai Ma'ruf Amin. Rumahnya sang capres petahana Jokowi. Kalau begitu, Prabowo cuma numpang ngontrak, dong?

Jokowi memang punya peluang menang di Jawa Timur. Daerah basis massa Nahdliyin. Kata Sekjen PKB, Daniel Johan, dorongan dari elite juga kuat di sana.

Misal, Gubernur Jatim terpilih, Khofifah Indar Parawansa, jelas mendukung Jokowi. Lalu, kompetitornya pas pilkada kemarin, Gus Ipul (Saifullah Yusuf) pun sama.

"Untuk Pilpres 2019 semuanya bersatu, baik Gus Ipul dan Mbak Khofifah," kata Daniel.

Kalau Khofifah, oke lah. Tapi, Gus Ipul belum tentu. Sikapnya masih mengambang. Tim Prabowo-Sandiaga terus berharap. Gus Ipul bisa bergabung.

"Politik itu semua serba memungkinkan," kata Gus Ipul belum lama ini.

Itulah politik. Gus Ipul Ketua PBNU (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama). Harusnya punya ikatan kuat dengan Ma'ruf Amin. Sang kiyai, tokoh besar di ormas tersebut.

Tak usah jauh-jauh Gus Ipul, Gubernur Jawa Timur Soekarwo (Pakde Karwo) saja sempat terang-terangan dukungan Jokowi. Lembutnya, dia mau fokus di Pileg 2019.

Tapi, kalau benar kata Daniel tadi. Khofifah dan Gus Ipul ke Jokowi, ditambah Pakde Karwo. Maka, Jatim sudah pasti digenggaman petahana. Jokowi bisa dua periode.

Baca juga: Enggak Lagi Nurut Kata Kiyai

Enggak cukup di situ. Kemarin sempat ada kabar bahwa belasan kepala daerah siap mendukung Jokowi-Ma'ruf.

Tercatat, belasan kepala daerah bergabung dalam tim kampanyenya. Ada Tri Risma Harini (Walikota Surabaya), Saiful Illah (Bupati idoarjo), Irsyad Yusuf (Bupati Pasuruan).

Lalu, Badrut Tamam (Bupati Pamekasan), Maryoto Birowo (Bupati Tulungagung), Azwar Anas (Bupati Banyuwangi), Rendra Kresna (Bupati Malang), Hj Faida (Bupati Jember).

Terus, ada juga Ipong Muchlisoni (Bupati Ponorogo), Sambari (Bupati Gresik), dan Kartika Hidayati (Wabup Lamongan).

12 Juta untuk Prabowo

Entah cuma klaim, atau benar-benar sudah dihitung. Politisi Gerindra, Bambang Haryo, sih yakin. Bahkan, ditarget Prabowo-Sandiaga memperoleh setidaknya 12 juta suara.

Hal ini dikatakan saat dirinya mendampingi Prabowo mengunjungi ke Jatim pada 6 September kemarin.

Optimistis serupa keluar dari pernyataan Nizar Zahro. Ketua DPP Gerindra ini bilang, potensi ketum partainya menang, sangat besar. Bukan cuma NU fokus mereka.

"Massa Muhammadiyah dan kaum milenial jadi penopang kemenangan," kata Nizar.

Pemilih rasional jadi pegangan. Isu yang digiring tim seberang ini adalah ekonomi. Bagaimana menyadarkan masyarakat. Kasih tau mereka bahwa hidup ini makin susah.

Perekonomian negara melemah. Utang luar negeri terus membengkak. Ini bisa membahayakan warga. Dan, Prabowo-Sandiaga punya solusinya.

Menjamin lapangan kerja adalah jualan mereka. Kata Nizar, ada juga jaminan subsidi. Lalu, swasembada pengan. Banyak cara akan diupayakan tim Gerindra CS.

Bukan Jaminan

Banyak kepala daerah dukung Jokowi. Wajar. Tapi, itu bukan jaminan. Karena, semua ditentukan oleh pasangan calon itu sendiri. Balik lagi ke Jokowi-Ma'ruf.

"Pilpres adalah petarungan masing-masing pasangan calon." begitu kata pengamat politik dari Universitas Trunojoyo Madura, Mochtar W Oetomo saat dikonfirmasi rilis.id.

Memang, pasti punya nilai positif kalau elite kasih dukungan. Mereka jadi mobilisator. Bukan cuma menggerakan massa, tapi juga ada dana untuk pengaruh politik.

Tapi, mobilisasi bukan faktor utama. Narasi dari kandidat lah yang memegang kuncinya. Paling penting itu, bagaimana massa yakin siapa yang dipilihnya.

Kalau kata Surokim, pengamat politik dari kampus yang sama dengan Mochtar, dukungan masyarakat Jatim kayaknya masih cair. Prabowo atau Jokowi? Lihat nanti.

Ini karena tingginya swing voters di sana. Jokowi dan Prabowo, kata Surokim, sama-sama punya peluang menggaet hati warga. Khususnya, Nadhliyin kultural.

Kalau mau menang, Prabowo bisa menggandeng masyarakat konvensional. Ini untuk menyaingi pengaruh kiyai struktural yang sekarang dirangkul pihak Jokowi.

"Faktor literasi media juga dianggap munculnya pemahaman politik dari warga NU kultural," ujar dia.

Inilah yang jadi rujukan politik. Kewajiban patuh pada kiyai dalam urusan politik, bergeser. Terpaan dari berita-berita media massa dan media sosial punya pengaruh signifikan.

Jadi, Jokowi lagi yang bakal menang, atau Prabowo bisa kembalikan keadaan? Karena, Jatim yang jadi taruhan.

Kenapa bukan Jawa Barat? Karena patner duel daerah tersebut adalah Jawa Tengah. Misal, Jawa Barat sudah diambil alih Prabowo, dan Jawa Tengah digenggaman Jokowi, pasti Jatim jadi taruhannya.

Suara Jatim memang tak pernah bulat ke satu pasang calon. Diprediski bakal pecah. Begitu kata pengamat politik dari Universitas Trunojoyo Madura, Surokim Abdussalam. Ini sama kayak di 2014 silam.

Jokowi hanya menang selisih sekitar 1,4 juta suara di Jatim. Mantan Wali Kota Solo ini kalah telak di Jabar. Tapi, menang banyak di Jateng. Andai saja kalah tipis di Jatim, Prabowo lah Presiden RI sekarang.

Begitulah kultur di daerah lumbung suara Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini. Menurut Surokim, dukungan kiyai struktural tak selalu diikuti oleh kader-kader di bawah.

"Tidak sekuat dulu. Karena meningkatnya pemilih rasional yang kritis," kata dia kepada rilis.id.

Editor: Andi Mohammad Ikhbal


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)