logo rilis
Pilkada: Konflik dan Relaksasi Sosial
kontributor kontributor
Arif Budiman
15 Januari 2018, 16:54 WIB
Pemerhati sosial, penikmat kopi, bekerja sebagai pegiat kepemiluan
Pilkada: Konflik dan Relaksasi Sosial

POLITIK lekat dengan konflik. Konsekuensi dari keterbatasan sumberdaya kekuasaan yang tak sebanding dengan besarnya volume harapan. Aneka motif telah mencatatkan dirinya dalam hall of fame sejarah. Sebagai pemantik konflik dengan tampilan yang beraneka ragam. Profan maupun transenden, duniawi maupun ukhrowi, pragmatis maupun ideologis. Mengibarkan nama besar, meluaskan akses ke sumber-sumber ekonomi, atau memulihkan trauma dendam adalah beberapa di antaranya.

Pilkada merupakan wujud dari politik yang paling nyata. Sejak reformasi, ia dekat dengan warga. Setia menemani kehidupan masyarakat secara berkala. Membiasakan pemilih untuk menerima konflik sebagai fitrah yang mendarah daging di dalamnya. Termasuk peluang resolusi yang akan mengakhirinya.

Baca Juga

Pilkada memiliki kepribadian ganda. Satu ketika ia tampil dengan wajah garang yang menebar ketegangan, namun di saat yang lain ia hadir layaknya rohaniwan yang menabur kedamaian.

Belum hilang dari ingatan bagaimana Pilkada DKI Jakarta 2017 mengaduk-aduk emosi warga, membelah masyarakat menjadi dua, dan menaikkan tingkat ketegangan sosial tidak hanya di wilayah ibu kota, tetapi juga meluas ke beberapa daerah di Indonesia.

Mungkin sedikit yang bisa mengira bahwa ketegangan tersebut tidak berlangsung sama. Siapa bisa menduga jika pragmatisme politik yang sering dicela itu justru membantu peredaan emosi warga. Dinamika sikap partai politik di Pilkada Jawa Barat dan fleksibilitas kekuatan politik dalam membangun koalisi seperti yang terjadi di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Sumatera Utara telah menempatkan ideologi pada posisi yang tak berarti. 

Bagaimana tidak? Di tengah ketegangan sosial yang mengancam sendi-sendi kehidupan warga negara, pragmatisme partai politik seolah menjadi berkah. Dengan kelenturan yang menjadi ciri khasnya, pragmatisme telah membuat para pelibat opini dan pemimpin wacana baik di dunia nyata maupun dunia maya menjadi serba salah. Canggung dalam bertindak. Gagap dalam melangkah. Api konflik pun tak semangat lagi menyala. 

Pilkada di sejumlah daerah baik level provinsi maupun kabupaten/kota menunjukkan realitas yang ironik sekaligus sarkastik. Pilkada menimbulkan ketegangan sosial, tetapi ia pula yang meredakannya. Ia yang merobek kohesi sosial, ia pula yang merekatkannya. Ia yang memicu naiknya tensi, ia pula yang melakukan relaksasi. Sialnya, pragmatisme lah yang menjadi kunci. Variabel celaka itu yang memungkinkan semuanya terjadi. Meninggalkan kita dengan seringai tanya. Apakah harus mencela ataukah sebaliknya? Memujanya dengan kesadaran yang tak biasa.


Tags
#pilkada
#semburat
#arif budiman
#politik
500
komentar (0)