logo rilis
Pilkada dan Rasionalitas Pragmatis Partai
kontributor kontributor
Arif Budiman
22 Februari 2018, 09:11 WIB
Pemerhati sosial, penikmat kopi, bekerja sebagai pegiat kepemiluan
Pilkada dan Rasionalitas Pragmatis Partai
ILUSTRASI: Hafiz

PARTAI politik bersatu. Seluruh pemilik kursi legislatif setuju. Mengusung satu pasang nama untuk didukung sebagai kandidat dalam Pilkada. Para pemegang otoritas partai di Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang, Kabupaten Lebak, Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Deliserdang, Kota Prabumulih, Kabupaten Enrekang, Kabupaten Mamasa, Kabupaten Tapin, Kabupaten Kapuas, Kabupaten Minahasa Tenggara, dan Kabupaten Jayawijaya tak memiliki cukup alasan dan amunisi. Untuk bisa menyediakan lebih dari satu opsi, bagi masyarakat untuk memilih pemimpin daerahnya.

Kekuasaan menjanjikan kenikmatan. Pemiliknya dapat dengan mudah menggunakan akses sosial, politik, ekonomi, juga budaya. Status sosialnya meningkat, tampil gagah dalam pergaulan politik, percaya diri dalam kompetisi ekonomi, dan dominan dalam warna kebudayaan. Dalam kenduri, para penguasa mendapat meja utama. Pada rapat pembahasan kebijakan, pendapat mereka menjadi rujukan. Di tengah persaingan ekonomi, orang ini mendapat preferensi. Dalam berpakaian dan berpembawaan, yang melekat padanya menjadi pembicaraan. 

Keberlangsungan hidup partai ditentukan oleh banyak hal. Karisma pemimpin, kematangan organisasi, keandalan sistem kaderisasi, dan kemampuan dalam eksploitasi, mobilisasi dan distribusi sumberdaya. Pada konteks Pilkada, sikap politik partai yang tidak berani berbeda lebih banyak dipengaruhi oleh variabel yang disebut paling akhir. Meski secara ideologi nyata berbeda, pada Pilkada di tingkat kabupaten/kota, kepentingan taktis memungkinkan partai-partai mengambil sikap yang sama. Mendukung petahana.

Langkah zig-zag partai yang semarak pada Pilkada 2018 boleh saja disebut sebagai pragmatisme cara lama. Sekadar mencari aman demi kepentingan partai dan keuntungan para pegiatnya. Meski justifikasi semacam itu tak sepenuhnya keliru, langkah pragmatis tidak serta-merta oportunis. Dalam banyak hal, langkah taktis diperlukan dalam proses menuju pencapaian tujuan strategis. Visi ideologis. 

Pragmatisme tidak sama dengan oportunisme. Jika yang kedua mewakili avonturisme ala playboy cap kuota, maka yang pertama merupakan fleksibilitas yang diperlukan dalam perjuangan mewujudkan idealitas politik. Rekayasa lingkungan yang lazim dilakukan. Kelenturan yang dibutuhkan untuk meredam serangan dan memberi ruang bagi persemaian gagasan-gagasan ideologis dan visioner. 

Pragmatisme yang demikian itu telah disabdakan Muhammad. Lakukan perubahan dengan kekuasaan. Jika tidak mampu, lakukan dengan kampanye lisan. Jika masih tak mampu juga, berdoalah untuk kemenangan kebaikan.

Hal serupa juga diajarkan Sun Tzu. Ketika sepuluh lawan satu, kepunglah. Ketika lima lawan satu, seranglah. Ketika dua lawan satu, seranglah dari dua arah. Ketika seimbang, pecah-belah musuh lalu seranglah. Ketika lebih sedikit, bertahanlah. Ketika tidak memadai, hindarilah. 

Sikap taktis-pragmatis dapat dipahami sebagai bagian dari strategi. Sebagai tindaklanjut atas hasil analisa kondisi lingkungan yang melingkupi. Sepanjang fokus pada tujuan strategis tidak teralihkan maka pragmatisme partai tidak lebih dari kelenturan yang diperlukan.




Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID