logo rilis
Pidi Baiq: Saya Lahir ke Dunia untuk Jumatan
Kontributor

21 Februari 2018, 16:09 WIB
Pidi Baiq: Saya Lahir ke Dunia untuk Jumatan
Pidi Baiq bersama penulis di Planet Hollywood, Jakarta. FOTO: RILIS.ID/Yayat R Cipasang

NAMA Pidi Baiq hampir sebulan terakhir menjadi perbincangan yang tiada henti menyusul kesuksesan film pertamanya Dilan 1990. Belum satu bulan sejak diluncurkan ke publik, tepatnnya 25 Januri 2018, film yang diangkat langsung dari buku pertama dari Trilogi Dilan ini sudah ditonton lebih dari 6 juta orang. Kemungkinan besar, film ini bakal memecahkan rekor penonton Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss Part 1 yang sudah ditonton 6,5 juta orang.

Dalam acara nonton bareng film Dilan 1990 bersama Ketua MPR Zulkifli Hasan di Planet Hollywood, Jakarta Selatan, Selasa (20/2), redaktur rilis.idYayat  R Cipasang, berbincang-bincang dengan Pidi Baiq yang juga sutradara dan penulis skenario film yang diproduksi MAX Film ini. 

Cara bicara dan sikap Pidi Baiq yang juga penulis buku Drunken Monster Cacatnya Harian Pidi Baiq ternyata tidak ada bedanya dengan karya-karyanya. Lucu, kocak dan gelo pisan, merujuk istilah anak Bandung. Sepanjang wawancara tak henti-hentinya melempar guyonan yang segar dan bikin sakit perut. Berikut ini hasil perbincangannya.

Film Dilan 1990 sukses besar, sudah disiapkan sekuel berikutnya?

Belum, belum kepikiran sama sekali.

Skenarionya sudah disiapkan?

Semuanya sudah ada di buku. Nggak bakal jauh dari buku karena saya kan terlibat.

Apakah sebelumnya sudah  menduga Dilan 1990 bakal sukses di pasaran?

Sebenarnya itu mudah ditebak. Bila bukunya best seller, biasanya filmnya juga best seller.

Serial Dilan sudah tiga buku, kemungkinan bisa bertambah? Sampai sejauh mana?

Saya sih maunya sampai alam barzah, sampai padang mahsyar. Hehehe...

Anda tidak hanya menulis Trilogi Dilan ada juga serial Drunken yang juga tak kalau kocak. Serial ini juga ada rencana difilmkan?

Sangat mungkin. Saya sudah memiliki empat seri Drunken mulai dari Drunken Monster, Drunken Mama, Drunken Marmut dan Drunken Molen. Sangat mungkin difilmkan karena itu kenyataan sehari-hari di masyarakat yang saya alami langsung.

Sudah ada tawaran dari produser film?

Banyak. Sudah banyak tawaran. Nggak ada yang cocok. Nanti saya akan pilih yang terbaik dari yang terburuk. Hehehe...

Buku dan film Dilan itu kan kisah nyata. Kenapa sampai sekarang para pelakunya masih dirahasiakan? Apakah ini strategi bisnis?

Karena pelakunya minta dirahasiakan. Semua pelakunya minta dirahasiakan. Karena ini kan menyangkut orang-orang yang hidup dengan mereka sekarang. Takut cemburu dan seperti itulah. 

Bagaimana respons para pelaku setelah melihat kesuksesan film Dilan 1990? Apakah mereka kaget?

Nggak, biasa saja. Mereka masih sering ketemu dengan saya. 

Film Dilan 1990 kan bercerita tentang kehidupan remaja tahun 90-an, kenapa bisa begitu kompatibel dengan remaja kiwari dan mereka histeris?

Ya, bahkan ada yang sampai nonton sepuluh kali. Saya juga tiidak tahu. Hanya mereka yang tahu alasannya kenapa film itu disukai. Dan saya pun tak memikirkan hal seperti itu. Kalau saya mah hanya nulis aja. Saya nggak mikirin buku atau film ini bakal laku atau tidak.

Kenapa buku Anda seluruhnya berdasarkan kisah nyata, baik orang lain atau pengalaman keseharian?

Karena saya tidak tertarik dengan tulisan yang mengarang-ngarang. Saya menulis apa yang menjadi kenyataan dan memang benar-benar terjadi. 

Kenapa seorang Pidi Baiq memilih menjadi orang yang multitalenta, mulai jadi penulis, ilustrator, dosen, pemusik dan terakhir menjadi sutradara? Apa sebenarnya tujuan hidup Anda?

Tujuan saya lahir ke bumi ini sebenarnya untuk (shalat) jumatan yah. Dari Senin sampai Kamis persiapan kemudian Sabtu dan Minggu evaluasi. Nah sisa-sisa di antara waktu itu untuk melakukan berbagai kegiatan. Hahaha...

Anda itu dalam kehidupan sehari-hari memang lucu dan kocak seperti dalam buku-buku itu ya?

Hahaha... Itu dulu. Sekarang mah sudah tobat. Sekarang lebih banyak di mushola memperbanyak wirid. 

Kenapa kelompok musik Anda disebut The Panasdalam?

The Panasdalam itu akronim. The (Atheis), Pa (paganisme), Nas (Nasrani), Da (Hindu/Budha) dan Lam (Islam). Islam itu paling ujung sebagai penyempurna dari semua agama. Karena itu saya juga kan Ketua Front Pembela Islam, Kristen, Hindu dan Budha. Hahahaha.




Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID