logo rilis
PGPR untuk Pengendalian Penyakit Kuning Tanaman Cabai di Kabupaten Batang
Kontributor
Elvi R
17 Oktober 2019, 08:30 WIB
PGPR untuk Pengendalian Penyakit Kuning Tanaman Cabai di Kabupaten Batang
FOTO: Humas Balitbangtan

RILIS.ID, Jakarta— Berawal dari keprihatinan petani cabai di wilayah Kecamatan Bandar Kabupaten Batang dan sekitarnya, yang mengalami kerugian karena gagal panen cabai akibat serangan virus kuning (gemini), menjadi perhatian serius dari Dinas Pertanian Kabupaten Batang. Berbagai upaya pengendalian yang telah dilakukan hingga saat ini, belum dirasakan hasil yang memuaskan petani cabai. Sehingga Dinas Pertanian Kabupaten Batang menginisiasi dilakukannya bimbingan teknis pengendalian penyakit yang disebabkan virus kuning bagi penyuluh lapang yang mendampingi petani di wilayah pengembangan cabai di Kabupaten Batang.

Dengan menggandeng Balitbangtan, BPTP Jateng Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementerian Pertanian sebagai narasumber, Dinas Pertanian Kabupaten Batang menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan pertanian dengan tema pengendalian penyakit kuning tanaman cabai. Pelatihan diberikan kepada penyuluh dari BPP Batang, BPP Warungasem, BPP Pecalungan, BPP Wonotunggal, BPP Bandar, BPP Blado, BPP Kandeman, dan BPP Tulis Kabupaten Batang.

Penggunaan pestisida sudah membuat serangga vektor virus kuning (kutu kebul) resisten, sedangkan hampir semua varietas yang digunakan tidak memiliki ketahanan terhadap kutu kebul dan virus kuning. Sebagai alternatif pengendalian, diusulkan melalui perlakuan benih cabai dengan Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR). Aplikasi PGPR pada benih cabai dan bibit cabai saat dipindah tanam ke lapangan, secara umum dapat meningkatkan tinggi tanaman, jumlah daun, dan hasil tanaman, dan dapat menginduksi ketahanan tanaman secara sistemik, yang dicirikan oleh akumulasi Asam Salisilat (SA) dan Pathogenesis Related-protein (PR-protein), seperti peroksidase. Induksi ketahanan sistemik dengan PGPR berspektrum luas, baik terhadap virus, bakteri, maupun cendawan.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa perlakuan PGPR mampu meningkatkan konsentrasi metabolit sekunder SA dan peroksidase sebagai respons ketahanan terhadap infeksi virus. Terbukti, benih cabai yang diberi PGPR dan diinokulasi dengan virus, kejadian penyakit lebih rendah dibandingkan benih cabai yang tidak diberi PGPR. Sehingga disimpulkan bahwa PGPR merupakan alternatif yang cukup baik digunakan dalam perlindungan tanaman dari virus kuning. PGPR dapat diaplikasikan pada biji, dicampurkan ke dalam tanah untuk pembibitan, atau saat pindah tanam.

Teknologi ini mudah dilakukan karena induksi ketahanan sistemik dapat dilakukan hanya sekali aplikasi, sedangkan mekanisme ketahanan alami bekerja untuk periode yang lama meskipun populasi bakteri penginduksi semakin lama semakin menurun.

Sumber: BPTP Jateng/Balitbangtan




Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID