logo rilis

Petani Merbabu Keluhkan Data Pertanian Belum Valid
Kontributor
Ainul Ghurri
26 Maret 2018, 08:10 WIB
Petani Merbabu Keluhkan Data Pertanian Belum Valid
Petani sedang memanen. FOTO: RILIS.ID/Fatah Sidik

RILIS.ID, Jakarta— Dewan Penasehat Paguyuban Petani Merbabu, Surame Hadi Sutikno, mengeluh dengan kondisi data pertanian saat ini. Pasalnya, data pertanian yang dianggap sebagai kekuatan kedaulatan pangan nasional masih banyak yang belum valid.

"Berbicara tentang kedaulatan pangan, ibaratnya bagaikan jauh api dari panggang, bila masalah data yang berkekuatan dengan pertanian kita belum valid. Maka, akan sulit lahir kebijakan yang tepat untuk memajukan pertanian kita," katanya dalam keterangan tertulis yang diterima rilis.id Jakarta, Minggu (25/3) kemarin.

Dia menjelaskan, bagaimana bisa merancang kebijakan yang tepat untuk memajukan, dan menyejahterakan petani Indonesia bila data pertanian tidak valid. Menurutnya, dengan data yang tidak valid, maka akan tidak tepat menentukan kapan harus impor dan ekspor.

"Wong kondisinya surplus kok (malah) impor. Juga bagaimana pula dengan peta cuaca, peta kemampuan air dan peta kemampuan tanah, ini masih tidak ada. Kondisi belum adanya data yang valid ini sangat disayangkan para petani," ujarnya.

Dia menuturkan, permintaan tentang data-data tersebut sudah sering diminta para petani. Namun selalu tidak diberi. Sehingga, dia menduga data yang valid tersebut tidak ada. 

"Diminta kapanpun pasti tidak bisa diberikan ke petani," ungkapnya.

Sutikno berharap, pemerintah bisa merancang kebijakan yang tepat untuk memajukan dan menyejahterakan petani. Karenanya, data pertanian sangatlah penting. 

Sebab, bila petani tak juga sejahtera, maka akan mempersulit regenerasi petani. Akibatnya, anak petani tidak ingin hidup susah dalam artian malas bekerja keras seperti sang ayahnya. 

"Saat ini faktanya regenerasi petani itu sulit. Ya karena petani banyak yang belum sejahtera. Dan di sisi lain, dengan bertani tidak bisa dapat duit instan. Bekerja dulu, menanam dulu, baru setelah panen bisa dapat uang. Kalau pas penen harga jatuh, ya petani malah merugi. Anak muda banyak yang ingin cepat dapat uang maka tidak tertarik berprofesi menjadi petani," pungkasnya.

Editor: Sukma Alam


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)