logo rilis

Petani Garut Sambut Antusias Teknologi Proliga Cabai Balitbangtan
Kontributor
Elvi R
20 November 2018, 14:05 WIB
Petani Garut Sambut Antusias Teknologi Proliga Cabai Balitbangtan
FOTO: Humas Balitbangtan

RILIS.ID, Garut— Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) memperkenalkan teknologi produksi lipat ganda (proliga) cabai merah kepada petani di Taman Teknologi Pertanian Cikajang, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Acara ini diikuti oleh 100 peserta yang tergabung dalam 15 kelompok tani dari tiga kecamatan yakni Cikajang, Pasirwangi, dan Sukaresmi.

Kegiatan yang diselenggarakan oleh BPTP Jawa Barat dan Balitsa ini bertujuan untuk memperkenalkan teknologi budidaya cabai yang mampu melipatgandakan produktivitas cabai petani. Sementara jenis cabai yang dikenalkan adalah varietas unggul cabai Carvi Agrihorti yang dirakit Balitbangtan melalui Balitsa dan BB Biogen.

Carvi agrihorti merupakan satu-satunya varietas cabai yang tahan virus belang, oleh karena itu petani mengaku senang saat menerima benih carvi agrihorti untuk dikembangkan menggunakan teknologi proliga.

“Dari 15 kelompok tani, masing-masingnya mendapat 10 gram benih kelas breeder seed. Benih tersebut dapat dikembangkan lebih lanjut untuk memenuhi kebutuhan benih petani lainnya,” ujar peneliti BB Biogen, Dr. Ifa Manzila.

Menurut Ifa, carvi agrihorti adalah jenis cabai inbrida yang benihnya dapat diperbanyak oleh petani dalam beberapa generasi untuk tujuan kemandirian benih. Dengan beberapa keunggulannya, cabai ini akan diminati oleh konsumen, terutama dari sisi kualitas buah dan rasa pedasnya.

Penerapan proliga cabai merah di Garut sendiri sudah dilaksanakan sejak Mei 2018 untuk mendukung capaian produksi cabai 20 ton per hektare di Jawa Barat, yang merupakan penyumbang terbesar produksi cabai merah besar nasional dengan konstribusi mencapai 45,21 persen.

Menurut peneliti Balitsa Tony Moekasan MS, target proliga cabai 20 ton per hektare sangat mungkin dicapai oleh petani melalui budidaya yang baik, karena potensi hasil cabai merah di Indonesia rata-rata di atas 25 ton per hektare, namun rata-rata produktivitas cabai nasional baru mencapai 8,65 ton per hektare. Artinya ada kesenjangan produktivitas yang besar antara potensi dan realitas di lapang.

“Hal ini yang harus sama-sama diperbaiki dalam budidaya cabai merah di tingkat petani. Varietas unggul cabai sudah banyak tersedia di pasaran. Berbagai jenis pupuk dan pestisida juga mudah diperoleh petani. Informasi terkait hal tersebut sangat mudah diperoleh melalui aplikasi My Agri yang dapat diakses dengan telepon pintar,” papar Tony.

“Yang menjadi tantangan adalah bagaimana petani mau mengadopsi teknologi budidaya cabai yang sudah tersedia dengan mudah untuk meningkatkan produktivitas cabai. Pendampingan yang intensif juga perlu agar teknologi yang sudah tersedia dapat diadopsi oleh petani,” tambahnya. 

Wakil Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Garut, Didin Moh Nurdin, MP mengapresiasi kegiatan pendampingan yang dilakukan oleh Balitbangtan. Menurutnya, program ini sangat membantu petani dalam meningkatkan usaha tani warga.

“Dengan mengadopsi teknologi proliga, petani cabai di Garut diharapkan akan meningkat kesejahteraannya, karena peningkatan produksi akibat penerapan teknologi,” ungkap Didin.

Sumber: Ifa Manzila/Andika Bakti/Balitbangtan


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)