logo rilis

'Petani Beri Makan Masyarakat, tapi Haknya Sering Dilanggar'
Kontributor
Ainul Ghurri
27 Maret 2018, 22:35 WIB
'Petani Beri Makan Masyarakat, tapi Haknya Sering Dilanggar'
Petani Kendeng, Rembang, Jawa Tengah, mengepalkan tangan saat menggelar konferensi pers di Gedung LBH Jakarta, Selasa (21/3/2017). Konferensi pers digelar terkait kematian Patmi (48), peserta aksi semen kaki yang meninggal karena serangan jantung. FOTO: RILIS.ID/Indra Kusuma

RILIS.ID, Jakarta— Ketua Umum Serikat Petani Indonesia (SPI), Henry Saragih, menyatakan, masyarakat dunia tengah menghadapi permasalahan mendasar, seperti migrasi, kelaparan, krisis pangan, hingga perubahan iklim. Sayangnya, petani selaku produsen pangan kerap terabaikan hak-haknya.

"Petani yang memberi makan masyarakat dunia, yang memberi solusi bagi permasalahan-permasalahan pangan, sedangkan hak asasinya kerap dilanggar," ujarnya di Jakarta, acara Konsultasi Regional, Pelatihan, dan Pertemuan La Via Campesina tentang Hak Asasi Petani di Jakarta, Selasa (27/3/2018).

Karenanya, SPI menggelar konsultasi regional dan pelatihan dengan La Via Campesina tentang hak asasi petani. Tujuannya, memperkokoh masukan terkait beberapa hak mendasar petani.

Di antaranya, hak atas tanah dan teritori, benih, pengetahuan dan praktik tradisional, keanekaragaman hayati, serta kewajiban negara. "Ini penting untuk menjaga posisi pemerintah-pemerintah kita untuk mendukung proses di Dewan Hak Asasi Manusia PBB, Jenewa nanti," jelasnya.

SPI bersama La Via Campesina, imbuh Henry, berusaha memperjuangkan lahirnya Deklarasi PBB tentang Hak Asasi Petani. Sebab, kini memasuki masa-masa krusial.

"Lebih jauh lagi, peran pemerintah Indonesia sangat krusial. Karena, selama ini perwakilan tetap RI di Jenewa terus mendukung proses deklarasi. Untuk itu, kerja-kerja untuk terus memastikan dukungan pemerintah Indonesia juga sangat penting," tutupnya.

Editor:


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)