Dadang Rhs

Dewan Guru Institut Publik Inisiatif, Redaktur Senior RILIS.ID

Petaka Tanaka, Korupsi Setelah Malari

Minggu, 14/1/2018 | 11:58

MALARI. Malapetaka Lima Belas Januari. Kekuasaan saat itu menyebut aksi antimodal asing ini sebagai malapetaka. Peristiwa ini berpuncak pada 15 Januari 1974, saat Kakuei Tanaka, Perdana Menteri Jepang saat itu, berkunjung ke Indonesia. Jakarta terbakar. Tokoh utamanya adalah mahasiswa. Barisan "the angry young men" ini dipimpin Hariman Siregar. Tokoh lainnya adalah Jenderal Ali Moertopo, Asisten Pribadi (Aspri) Presiden Soeharto dan Jenderal Soemitro, Pangkopkamtib saat itu.

Malapetaka adalah stigma. Bahwa aksi kaum muda terdidik menolak modal asing itu adalah musibah. Sebuah kemalangan. Apa yang dianggap malapetaka? Protes. Kritik. Kemarahan mahasiswa atas sikap dan laku kekuasaan Orde Baru yang mengundang modal asing. Aksi ini adalah reaksi. Aksi protes ini digerakkan oleh kekecewaan mahasiswa kala itu terhadap kekuasaan Jenderal Soeharto dan kroninya yang mulai menyimpang.

Penyalahgunaan wewenang publik untuk kepentingan privat oleh Orde Baru adalah pangkal dari gerakan 15 Januari 1974 itu. Kedatangan Tanaka hanya pemantik. Picu. Aksi besar ini digerakkan oleh sikap korup kekuasaan. Inilah malapetaka itu. Musibah bagi penguasa korup yang ditelanjangi aibnya. Sebuah orde yang mengklaim diri sebagai gerakan pemurnian, ternyata membawa air kotor yang penuh lumpur.

Malari adalah kemalangan bagi lumpur kekuasaan yang menempel pada kekuasaan Orde Baru. Kotoran yang disucikan dengan atribut dan kemewahan oleh kekuasaan Jenderal Soeharto. Orang-orang dekat yang lekat dan kuat. Mereka anak kandung Orde Baru. Mereka bergerombol di sekitar kekuasaan, dan mendapatkan segenap kemuliaan. Mereka adalah para asisten yang menjadi kepanjangan tangan Orde Baru.

Petaka itu menerjang Tanaka. Tamu terhormat, dari negeri yang pernah menjajah tanah ini, harus lari dan diterbangkan dengan helikopter. Seorang perdana menteri dipaksa tunggang-langgang. Toko-toko di Proyek Senen terbakar amarah. Kemarahan memang kadang membara. Huru-hara melanda ibu kota. Asisten Pribadi Presiden dibubarkan. Jenderal Soemitro diberhentikan. Dan, Hariman Siregar, sang pemimpin barisan protes, ditangkap.

Penyelewengan itu hanya menarik nafas sejenak. Korupsi tak mau berhenti. Bergerak deras seiring arus modal yang diundang. Arus itu mengelombang menjadi petaka. Korupsi menjadi bandang yang membawa air bah. Lumpur dan kotoran kekuasaan yang bernama korupsi itu menerjang dan meluluh-lantakkan daratan cita-cita republik ini, hingga kini. 

Lumpur dan kotor itu, korupsi yang menjadi-jadi, kini menyesaki hari-hari republik ini. Koran pagi dan televisi dijejali kabar kejahatan abadi ini. Keserakahan yang tak ingin berhenti. Bergerak menyelusup ke tiap-tiap pikiran, dan hati kaum pemuja modal. Menjadi berhala. Tegak kokoh dan perkasa. Korupsi adalah mantra dalam puja-puji yang menenggelamkan hajat hidup orang banyak. 

Inilah petaka itu. Nestapa bagi amanat penderitaan rakyat. Kemalangan yang ditukangi para pemuja kapital. Segolongan tuan-tuan yang hidup dari riba kuasa modal. Setelah Tanaka. Setelah Malari korupsi menjadi-jadi. Dan, setelah korupsi, akankah kembali Malari? Wallahualam.