logo rilis
Peta Pertarungan Pemilihan Gubernur Sumatera Barat 2020, Bagaimana Jalannya?
Kontributor
Elvi R
16 Februari 2020, 20:30 WIB
Peta Pertarungan Pemilihan Gubernur Sumatera Barat 2020, Bagaimana Jalannya?
ILUSTRASI: RILIS.ID/Dendi Supratman

RILIS.ID, Jakarta— Pada Minggu, 12 Januari 2020, Komisi Pemilihan Umum Provinsi Sumatera Barat resmi menabuh tambur pertanda mulainya tahapan Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Sumbar, 23 September mendatang.

Setelah kursi nomor satu di Kantor Gubernur Sumbar sejak dua periode terakhir diduduki oleh politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Irwan Prayitno sejumlah kandidat mulai bersaing mengadu nasib menjadi penggantinya.

Irwan merupakan gubernur kedua di Sumbar yang berhasil terpilih lewat pilkada langsung setelah pada Pilkada 2005 dikalahkan oleh Gamawan Fauzi.

Ia juga merupakan Gubernur Sumbar ke-10 yang menjabat dan merupakan kandidat pertama dari kalangan politisi yang terpilih memimpin Ranah Minang dua periode berturut-turut.

Pada Pilkada 2010 Irwan berpasangan dengan Muslim Kasim yang diusung oleh PKS, Partai Hanura, dan PBR, kemudian pada Pilkada 2015 Irwan maju dengan Nasrul Abit yang diusung PKS dan Partai Gerindra.

Sebagai daerah berpenduduk 5,4 juta jiwa dengan 19 kabupaten/kota, Sumbar memiliki APBD Rp7,3 triliun pada 2020.

Dengan pertumbuhan ekonomi 5,16 persen, persentase penduduk miskin hingga Maret 2019 sebesar 6,42 persen, tingkat pengangguran terbuka pada bulan Agustus 2019 sebesar 5,33 persen Sumbar memiliki angka indeks pembangunan manusia 71,73 atau berstatus tinggi.

Berdasarkan data yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS) Sumbar kualitas kehidupan warga Sumatera Barat meliputi aspek kesehatan, pendidikan, hingga pemenuhan kebutuhan hidup terus meningkat.

Untuk angka harapan hidup saat lahir di Sumbar telah mencapai 69,01 tahun yang artinya setiap bayi lahir punya harapan hidup hingga usia 69 tahun.

Harapan lama sekolah di Sumbar telah mencapai 13,95 yang artinya anak-anak di Sumbar berpeluang menamatkan pendidikan hingga lulus diploma dan rata-rata lama sekolah mencapai 8,76 tahun atau setara dengan kelas II SMP.

Pengeluaran per kapita warga Sumbar mencapai Rp10,63 juta per tahun.

Kendati pelaksanaan pilkada masih 7 bulan lagi, sejumlah nama telah mulai melakukan sosialisasi, yaitu Wakil Gubernur Sumbar Nasrul Abit, mantan Kapolda Sumbar Irjen Pol. Fakhrizal, Wali Kota Padang Mahyeldi, dan Wali Kota Payakumbuh Riza Falepi.

Selain itu, anggota DPR RI Dapil Sumbar II Mulyadi, Bupati Padang Pariaman Ali Mukhni, Bupati Agam Indra Catri, mantan Bupati Tanah Datar Shadik Pasadigoe, Sekjen DPD RI Reydonnyzar Moenek, politikus Gerinda Edriana, hingga pengusaha Minang Asril Das.

Menyongsong Pilgub Sumbar 2020, Partai Keadilan Sejahtera selaku pengusung Irwan Prayitno tentu tidak ingin kehilangan kursi strategis yang sejak 2010 telah diduduki oleh kadernya.

Ketua DPP PKS Bidang Wilayah Tifatul Sembiring pada pembekalan anggota DPRD terpilih PKS di Sumbar menyatakan bahwa pihaknya siap berkompetisi pada Pilgub Sumbar.

"Untuk Pilgub Sumbar, PKS targetnya mempertahankan kursi gubernur karena dua periode sebelumnya kami sudah mendapatkan kursi Sumbar satu," kata dia.

Hingga saat ini dua nama yang mengapung kuat untuk diusung PKS Sumbar adalah Wali Kota Padang Mahyeldi dan Wali Kota Payakumbuh Riza Falepi.

Mahyeldi cukup intensif melakukan sosialisasi ke kabupaten/kota di Sumbar dengan bersilaturahmi dan memberikan pengajian.

Sementara itu, Riza Falepi pun menyatakan kesiapannya maju sebagai calon gubernur dan menegaskan siap diusung PKS sebagai orang nomor satu.

Tifatul memastikan pihaknya juga siap berkoalisi dengan partai lain pada Pilgub Sumbar.

"Prinsipnya selama visi dan misinya sama, yaitu membangun Sumatera Barat menjadi lebih baik ke depan kami siap berkoalisi," katanya.

Sementara itu, Wakil Gubernur Sumbar Nasrul Abit yang sebelumnya menjabat sebagai Ketua DPD Gerindra Sumbar telah mendaftarkan dirinya ke Partai Golkar Sumbar untuk maju dalam Pilgub Sumbar 2020.

Nasrul mengaku terus menjalin komunikasi politik dengan beberapa partai yang akan menjadi kendaraannya dalam pilgub nanti.

"Sejauh ini saya sudah mendaftarkan diri ke beberapa partai di luar Gerindra," kata dia.

Nasrul telah mendaftarkan untuk maju sebagai bakal calon gubernur dalam pilgub ke PKB, Nasdem, dan PDI Perjuangan.

Selain itu, untuk Partai Gerindra sendiri, dia mengaku penguatan terus dilakukan untuk mendukung dirinya maju.

"Dukungan untuk maju dari partai cukup kuat dan saya diminta terus komunikasi dengan partai lain," katanya.

Bupati Padang Pariaman Ali Mukhni yang juga Ketua DPW Partai Amanat Nasional (PAN) Sumbar mengatakan bahwa hingga saat ini masih mencari pasangan untuk maju dalam Pilgub Sumbar 2020.

"Saya akan maju menjadi calon Gubernur Sumatera Barat dalam pilgub dan untuk pasangan kami masih mencarinya," kata Ali.

DPW PAN telah membuka pintu bagi seluruh pihak baik kader maupun nonkader yang ingin mendaftarkan diri maju dalam Pilgub Sumbar.

Pada Pemilu 2019 PAN meraih 10 kursi DPRD Sumbar. Untuk mengusung pasangan calon gubernur dan wakil gubernur, harus memiliki minimal 13 kursi.

Berbeda dengan calon lainnya, mantan Kapolda Sumbar Irjen Pol. Fakhrizal sejak awal memilih maju bersama Wali Kota Pariaman Genius Umar.

Fakhrizal mendapat dukungan dari Forum Sumbar Bersatu (FSB) yang terdiri atas ulama dan tokoh di daerah itu untuk memimpin Sumbar.

Ketua FSB Mahyusil Rahmat menyatakan salah satu bentuk dukungan yang dilakukan adalah membuat baliho atau papan reklame Irjen Pol. Fakhrizal di seluruh kota/kabupaten di Sumbar.

Dukungan berupa baliho itu murni dari swadaya ulama dan tokoh masyarakat yang tersebar di 18 kabupaten dan kota di Sumbar.

Kejutan juga datang dari aktor Aldi Taher yang menyatakan keinginan mencalonkan diri sebagai calon wakil gubernur dengan mendatangi KPU Provinsi Sumbar untuk mengetahui persyaratan maju sebagai bakal calon gubernur dan wakil gubernur pada hari Senin.

Mantan suami pendangdut Dewi Persir itu menyampaikan akan berpasangan dengan Mayjen (Purn.) Syamsu Jalal melalui jalur independen.

"Nama pasangan kita Jalal-Aldi (Jadi ) dan akan ikut di Pilgub Sumbar," katanya

Peta Politik

Berdasarkan hasil Pemilu 2019, Partai Gerindra tampil sebagai pemenang dengan 14 kursi atau mampu mengusung calon sendiri tanpa harus berkoalisi karena jumlah kursi yang dibutuhkan untuk Pilgub Sumbar minimal 13.

Sementara itu, PKS, Demokrat, dan PAN sama-sama memperoleh 10 kursi, Golkar 8 kursi, PPP 4 kursi, Nasdem, PDI Perjuangan dan PKB 3 kursi.

Akan tetapi, berdasarkan pengalaman sebelumnya, partai pemenang pemilu di Sumbar selalu gagal memenangkan calonnya pada pilkada: 2005, 2010, dan dan 2015.

Pada Pilgub 2005, partai pemenang pemilu adalah Golkar yang mengusung Leonardy Harmaini dan Rusdi Lubis. Pada Plkada 2010 pemilu dimenangkan oleh Demokrat yang mengusung Endang Irzal dan Asrul Syukur.

Berikutnya pada Pilkada 2015, pemilu dimenangi kembali oleh Golkar yang mengusung Muslim Kasim-Fauzi Bahar.

Tidak hanya itu, fakta menarik lainnya setiap wakil gubernur yang maju jadi calon gubernur pada pilkada langsung selalu mengalami kekalahan, mulai dari Marlis Rahman hingga Muslim Kasim.

Kandidat yang menang pilkada sejak 2005, 2010, dan 2015 selalu memiliki calon wakil yang usianya lebih tua dari gubernur.

Wakil Menentukan

Pengamat politik Universitas Andalas (Unand) Padang Dr. Asrinaldi menilai pemilihan wakil yang tepat oleh kandidat akan menentukan pemenang pada Pilgub Sumbar 2020.

Mengacu pada hasil survei yang beredar, saat ini elektabilitas para calon gubernur masih berada di bawah 20 persen atau belum aman. Oleh sebab itu, calon yang bisa memilih wakil yang tepat akan mendapatkan tambahan suara sehingga bisa memenangi pilkada.

Kemenangan seorang calon kepala daerah yang saat ini berada dalam kelompok lima besar memiliki elektabilitas tertinggi akan ditentukan oleh seberapa besar wakilnya dapat membawa suara tambahan.

Apalagi dalam perilaku memilih masyarakat Minangkabau, kata dia, figur calon kepala daerah dan wakil kepala daerah sering dihubungkan dengan representasi daerah asal.

Ia melihat isu kedaerahan ini walaupun tidak begitu kuat mesti menjadi pertimbangan seorang calon kepala daerah untuk bisa mendapatkan dukungan maksimal dari masyarakat dalam pilkada mendatang

Sumber: ANTARA




Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID