logo rilis
Pestisida Nabati untuk Pangan yang Lebih Sehat
Kontributor
Elvi R
23 April 2018, 13:52 WIB
Pestisida Nabati untuk Pangan yang Lebih Sehat
Petani sedang membuat pestisida nabati. FOTO: Humas Balitbangtan

RILIS.ID, Pati— Penggunaan pestisida kimia secara berlebihan tentu saja menimbulkan dampak negatif pada lingkungan, maka perlu adanya solusi lain. Salah satu solusi pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT) adalah dengan penggunaan pestisida nabati yang berasal dari bahan alami seperti tumbuh-tumbuhan. Pestisida alami lainnya adalah Biopestisida yang merupakan pemanfaatan mikroorganisme seperti bakteri dan jamur untuk pengendalian OPT.

Masyarakat sekarang mulai mengerti pentingnya penggunaan pestisida nabati. Dengan beralihnya penggunaan pestisida kimia ke pestisida nabati, tentu keamanan pangan akan lebih meningkat. Kondisi lingkungan akan terbebas dari cemaran pestisida kimia. Walaupun pertisida nabati efeknya lebih lambat, namun pestisida nabati lebih aman karena hanya mengendalikan hama sasaran. 

“Dengan pemakaian pestitida nabati, pencemaran akibat penggunaan pestisida kimia dapat dihindari sehingga produk yang dihasilkan lebih sehat dan aman bagi kesehatan,” ungkap Karsono, pengamat OPT Laboratorium Hama Penyakit Tanaman Kabupaten Pati, di Pati, Senin (23/4/2018).

Peneliti Balingtan, Sri Wahyuni, SP, M.Si menyapaikan, pestisida nabati tidak beracun pada makhluk hidup nontarget tidak seperti pestisida kimia sehingga aman untuk lingkungan. Pestisida mikroba (biopestisida) mengandalkan senyawa biokimia potensial yang disintesis oleh mikroba, hanya dibutuhkan dalam jumlah terbatas. 

Penggunaan pestisida nabati mempunyai keuntungan dan manfaatnya antara lain, menjaga daya tahan tanaman, spesies tertentu yang digunakan aman baik sebagai musuh alami dan organisme nontarget, murah dan mudah didapat, serta tidak menimbulkan residu pada tanaman. 

"Produk pertanian yang dihasilkan lebih sehat, tidak mudah menyebabkan resistensi hama, kesehatan tanah lebih terjaga dan dapat meningkatkan bahan organik tanah," katanya.

Badan Penelitian Lingkungan Pertanian (Balingtan) mengembangkan pestisida nabati yang diberi nama Segartan-PB (Sehat, Bugar Tanaman-Pesnab Balingtan). Pestisida nabati Balingtan mempunyai sifat multifungsi yang ramah lingkungan pertanian yang terdiri dari daun mahoni, daun mimba, urin sapi, air, dan asap cair. Pesnab ini sudah di contoh petani Kecamatan Batangan dan Kecamatan Kayen.

Pendampingan pemakaian pestisida nabati yang dilaksanakan oleh Balingtan di Kecamatan Batangan disambut baik oleh petani sekitar. Dari semula hanya diterapkan oleh 4 petani, kini mulai berkembang hingga 5 petani di satu hamparan yang sama. Petani menjadi termotivasi setelah melihat keberhasilan sebelumnya yang menghasilkan nasi yang lebih putih, lebih awet, dan aman untuk dikonsumsi. Selain itu, petani dapat membuat sendiri pestisida nabati untuk diaplikasikan ke lahan masing-masing.

“Dengan pestisida nabati, padiku jadi lebih berisi dan produksinya lebih tinggi karena tidak terserang wereng coklat,” kata Pak Sadani, petani Kecamatan Batangan. “Penggunaan pestisida nabati itu sangat membantu kami sebagai petani, karena ternyata selain pembuatannya mudah juga rasa nasinya menjadi lebih enak,” ujar Lasno petani Desa Batursari, Kecamatan Batangan.

Cara aplikasinya disemprotkan merata pada tanaman mulai tanaman umur 14 hari setelah tanam (HST) sampai 1 minggu menjelang panen dan dosisnya 5-10 cc per liter air. Aplikasi pestisida nabati meningkatkan ketahanan tanaman terhadap serangan wereng coklat dan efektif meningkatkan produksi tanaman padi varietas ciherang, Situbagendit, maupum mekongga.  Hasil kajian di wilayah Kecamatan Batangan Kabupaten Pati 2017,  padi varietas Ciherang dengan penyemprotan pestisida nabati 1 minggu sekali panen dapat meningkatkan produksi padi dari 6,76 ton per hektare menjadi 10 ton per hektare gabah kering panen (GKP). 

“Petani jadi lebih bersemangat dengan adanya pendampingan pemakaian pestisida nabati ini, beras yang dihasilkan juga dijual dengan harga yang lebih tinggi karena tidak menggunakan pestisida kimia sama sekali dalam budidayanya,” kata Kholis, PPL Kecamatan Batangan. 

Sumber: (Nunik Rachmadiyanti/Balitbangtan)


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)