Pesona Bambu untuk Pertanian dan Konservasi Lahan dan Air - RILIS.ID
Pesona Bambu untuk Pertanian dan Konservasi Lahan dan Air
Elvi R
Selasa | 28/01/2020 15.54 WIB
Pesona Bambu untuk Pertanian dan Konservasi Lahan dan Air
Pesona Bambu untuk Pertanian dan Konservasi Lahan dan Air. FOTO: Humas Balitbangtan

RILIS.ID, Jakarta – Bambu, ya Bambu. Siapa yang tak kenal bambu. Apa yang terbayang saat mendengar kata bambu, tentunya binatang Panda, kerajinan anyaman, pohon kecil tinggi dan tumbuh berumpun, tekstur lentur, dapat dikonsumsi dan masih banyak lainnya. Akan tetapi Bambu yang dimaksud disini adalah bambu yang mempunyai peran dalam bidang pertanian dan konservasi lahan serta air. 

Petani bambu di Desa Panglipuran, Bangli, Bali memiliki kebun bambu seluas 45 hektare. Apa yang dilakukan mereka dengan adanya luruhan daun bambu sebanyak itu? Kemudian diapakan sisa-sisa tebangan bambu yang tidak bisa dijual? Ternyata daun bambu bisa dipergunakan sebagai bahan baku pembuatan kompos. Suplai bahan kompos yang tersedia terus menerus, menjadi sumber yang tak ternilai. Pengomposan daun bambu sama dengan cara pengomposan bahan lainnya. Mengingat bahan daun bambu yang relatif kering maka perlu dilakukan pembasahan agar mikroba dapat berkembang baik. Setelah mengalami proses dekomposisi selama 1-2 bulan dan diayak, kompos siap dipergunakan. Kelompok tani di Desa Panglipuran telah belajar membuat kompos dari daun bambu sejak  2018.

Demikian juga sisa tebangan bambu, karena untuk memasak di rumah tangga telah menggunakan kompor gas, maka sisa bambu tersebut bila tidak dimanfaatkan akan menjadi sampah. Oleh karenanya pengenalan petani ke suatu produk bernama Biochar disambut sangat baik setelah mengetahui manfaatnya. Biochar adalah bahan padat kaya karbon hasil konversi dari limbah organik (biomas pertanian) melalui pembakaran tidak sempurna atau suplai oksigen terbatas (pyrolysis). Pembakaran tidak sempurna dapat dilakukan dengan alat pembakaran atau pirolisator dengan suhu 250-350 derajat selsius selama 1-3,5 jam, bergantung pada jenis biomas dan alat pembakaran yang digunakan.

Biochar hasil produksi tersebut dapat berfungsi sebagai campuran kompos dalam upaya untuk  meningkatkan kualitas kompos.  Aplikasi biochar ke lahan pertanian (lahan kering dan basah) dapat meningkatkan kemampuan tanah menyimpan air dan hara, memperbaiki kegemburan tanah, mengurangi penguapan air dari tanah dan menekan perkembangan penyakit tanaman tertentu serta menciptakan habitat yang baik untuk mikroorganisma simbiotik.

Menurut Kepala Balai Penelitian Tanah, Dr. Ladiyani Retno Widowati, yang mendapat kesempatan mengunjungi hutan bambu dan pemanfaatan sisa/sampah pertanian menyatakan optimalisasi sumberdaya pertanian dari pertanaman bambu dapat berfungsi dalam peningkatan produktivitas dan kualitas lahan.

"Serta mampu menahan air hingga 230 persen, juga mampu menekan perubahan iklim karena bambu adaptif pada lingkungan yang relatif kering dan di daerah berlereng," katanya.

Saat ini isu erosi dan tanah longsor sedang menghangat. Kejadian erosi dan longsor terjadi sangat cepat dan pada area yang cukup luas pada awal 2020 ini. Dengan dimilikinya sistem perakaran yang berkembang ke segala arah yaitu  ke samping dan ke bawah, bambu sangat cocok sebagai tanaman konservasi. Perakarannya yang melebar dan kuat mampu memegang air dan tanah dengan sangat baik. Kelebihan lain dari tanaman bambu adalah pertumbuhannya yang relatif cepat, dan mampu beradaptasi dari ketinggian 2 meter– 1.500 meter DPL. Dengan berbagai kelebihan tanaman bambu tersebut, diharapkan optimalisasi tanaman bambu dapat direalisasikan.

Sumber LRW/M.Is/Balitbangtan


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2020 | WWW.RILIS.ID