Home » Bisnis

Pesawat Rancangan Habibie Dibiayai Korea Selatan

print this page Jumat, 24/11/2017 | 18:33

BJ Habibie saat memperkenalkan pesawat rancangannya kepada perusahaan potensial. FOTO: RILIS.ID: regio-aviasi.co.id

RILIS.ID, Jakarta— Proyek pengembangan pesawat turboprop R80 rancangan Presiden Ketiga RI BJ Habibie segera mendapat pembiayaan dari perusahaan asal Korea Selatan, D-Raon Engineering, melalui skema Pembiayaan Infrastruktur Non-APBN (PINA).

Presiden Direktur PT Regio Aviasi Industri (RAI) Agung Nugroho saat penandatanganan nota kesepahaman (MoU) penjajakan investasi, belum mau menyebutkan nilai investasi dari kerja sama ini karena harus melalui tahap uji tuntas atau due dilligence selama tiga bulan.

"Soal besar investasinya, ini masih penjajakan. Kalau PINA fasilitasi, memang pasti diawali dengan proses due dilligence. Untuk tentukan nilainya, investor perlu uji tuntas," kata Agung di Kantor PT RAI, Jakarta, Jumat (24/11/2017).

Seperti dikutip Antara, Agung menjelaskan pengembangan pesawat R80 yang masuk dalam salah satu Proyek Strategis Nasional (PSN), ini membutuhkan total dana sebesar 1,6 miliar dolar AS.

Anggaran tersebut akan digunakan baik untuk detail desain pesawat, pembuatan manufaktur prototipe, pembelian barang komponen dari vendor dan supply chain Indonesia, biaya dan peralatan sertifikasi, peralatan desain, biaya operasi serta pengembangan pesawat.

Pada tahap pertama, pesawat R80 dengan kapasitas 80 penumpang, ini akan dibangun sebanyak 450 unit, 155 unit pesawat di antaranya sudah dipesan oleh sejumlah maskapai nasional, yakni dari NAM Air, Kalstar, Trigana Air dan Aviastar.

Agung merinci pesanan tersebut terdiri dari NAM Air sebanyak 100 unit, Kalstar 25 unit, Trigana Air 20 unit dan Aviastar 10 unit. Harga per unit pesawat sebesar 25 juta dolar AS.

Dari total dana yang dibutuhkan sebesar 1,6 miliar dolar untuk pengembangan R80, proyek ini tidak menggunakan dana APBN sama sekali. Melainkan dari swasta melalui PINA dan pembiayaan publik crowd funding yang saat ini sudah mencapai Rp6 miliar.

"Peran APBN tidak ada, jadi kami optimalkan dana dari luar negeri dan dalam negeri. Kita jajaki dari masyarakat juga kecil-kecil. Sekarang dari publik Rp6 miliar," kata CEO PINA Ekoputro Adijayanto.

Sementara itu, Chairman D-Raon Engineering C.S Lee mengatakan pihaknya tertarik untuk berinvestasi pada pesawat terbang rancangan Indonesia, terutama pesawat R80 bermesin twin-turboprop yang dinilai mampu menyaingi Boeing ATR-72.

"Kami tertarik dengan proyek pembuatan pesawat ini, terutama pada model R80. Kami sangat yakin proyek ini akan sangat menguntungkan tidak hanya bagi Indonesia tetapi juga dunia," ujar Lee.

Keunggulan pesawat R80 dari pesaing terdekatnya, yaitu ATR-72 yang digunakan Garuda Indonesia, antara lain lebih efisien, nyaman dan ekonomis terutama untuk jarak dekat dengan jarak tempuh 400-800 nautical mile atau sekitar 1.400-1.500 kilometer.

Pesawat ini juga dinilai cocok untuk penerbangan domestik antarpulau di Indonesia dan tidak membutuhkan landasan yang terlalu panjang sehingga bisa mendarat di bandara kecil.

 

Penulis Yayat R Cipasang

Tags:

r80 bj habibie korea selatan pesawat rai