logo rilis
Pesawat Lion Air Tergelincir di Gorontalo, Begini Cerita Penumpang 
Kontributor
Sukma Alam
30 April 2018, 01:46 WIB
Pesawat Lion Air Tergelincir di Gorontalo, Begini Cerita Penumpang 
Ilustrasi: RILIS.ID/Hafidz Faza

RILIS.ID, Gorontalo— Pesawat Lion Air JT 892 tergelincir di Bandara Jalaludin, saat mendarat di Bandar Udara (Bandara) Jalaludin Gorontalo, Provinsi Gorontalo, Minggu (29/4/2018) sekitar pukul 18.00 WITA.

Salah seorang penumpang, Harris Zakaria, menduga pilot pesawat itu memaksa landing saat curah hujan tinggi.

"Anggapan saya bahwa pilot memaksakan landing," katanya, Minggu (29/4/2018) malam.

Ia mengakui, setelah mendarat pesawat oleng dan tiba-tiba ada guncangan keras, kemudian pesawat berhenti.

"Saya lihat roda pesawat depan patah dan beberapa penumpang pingsan dalam pesawat," katanya.

Kemudian di landasan juga langsung dievakuasi, namun Harris yang juga wartawan TVRI itu mengaku kesal hanya ada dua mobil yang di bandara.

"Penumpang dibiarkan beberapa saat di landasan dan kondisi masih hujan," katanya.

Sebelumnya, sebanyak 174 penumpang dan tujuh orang kru selamat dari kecelakaan tergelincirnya pesawat Lion Air di Bandara Jalaludin, Kabupaten Gorontalo, Provisi Gorontalo.

Kepala Bandara Jalaludin, Power Silaholo, mengatakan, ada beberapa penumpang yang sempat pingsan karena kejadian itu.

"Ada sekitar empat orang penumpang yang pingsan, mungkin karena kaget, namun sudah sehat kembali," ujarnya.

Ia menjelaskan, penumpang yang pingsan saat ini sudah kembali ke rumah mereka.

"Saat ini bagasi penumpang masig berada di pesawat dan belum bisa diambil, hanya penumpang dan barang bawaan saja yang bisa dibawa," katanya.

Sebelumnya, penerbangan nomor JT 892, lepas landas pukul 17.29 WITA dari Bandar Udara Internasional Sultan Hasanuddin, Makassar, Sulawesi Selatan (UPG) dan mendarat di Bandar Udara Djalaluddin, Gorontalo (GTO) pada 18.35 WITA.

Penerbangan itu menggunakan pesawat Boeing 737-800 registrasi PK-LOO mengalami keluar landas pacu sesaat setelah mendarat, situasi ini terjadi ketika hujan deras. 

Sumber: ANTARA


500
komentar (0)