logo rilis
Pesan Cinta dari Shawwir
Kontributor

22 Maret 2018, 16:48 WIB
Pesan Cinta dari Shawwir
Shawwir menerima Penghargaan di Kongres Anak Maros 2018 oleh Kadis DP3A Drs  Idrus M.Si

TAK ada yang meragukan Ludwig van Beethoven untuk memainkan piano dengan sepuluh jarinya. Karyanya tetap membumi, melambai dari telinga ke telinga, bercak nada menggema merdu, hingga pada satu titik Beethoven tak bisa mendengar suara benda yang di tekan oleh tangannya. Beethoven jadi tuli, Tuhan menegurnya dengan perlahan, membuat dirinya terus menjadi tegar, tanpa harus berhenti. Beethoven tak mau kalah.

Ini juga terjadi pada Helen Adams Keller, wanita tangguh dan juga kuat. Dirinya penulis buku, sebuah kesederhanaan yang tak boleh tertinggal kepada siapun nantinya yang bernasib ibu. Bukunya menjadi literatur klasik dan dapat dinikmati oleh lima puluh bahasa di dunia.

Helen menghabiskan hidup di Alabama, hingga pada 1880 dia juga menjadi pemenang dari Honorary University Degrees Women’s Hall of Fame, The Presidential Medal of Freedom. Piala oscar di raihnya sebanyak dua kali. Bahkan tak jarang dirinya di undang langsung oleh Presiden untuk melihat sosok yang hebat itu.

Orang-orang tak begitu yakin, soal Helen. Tapi sesungguhnya ia bukan manusia biasa. Ia bisu,tuli, juga buta. Sebuah konteks yang tidak mungkin menghantarkannya mencapai sebuah karya maha besar, menjadi penulis dan karyanya diterjemahkan ke manca negara.

Helen telah melampaui batasnya. Dalam sejarah dirinya menggertak dunia, Bahwa sesungguhnya dunia sangat mudah untuk kita raih. Baginya yang punya kemauan akan mendapat yang ia impikan.

Helen tak merasa sendiri. Dirinya lebih paham bahwa setiap manusia memiliki kekurangan. Dari benua ke benua ia mengumpulkan dana untuk anak-anak yang memiliki panca yang terbatas. Pada pengabdian besar Helen mendirikan American Foundation for the Blind dan American Foundation for the Overseas Blind. Sebuah pembuktian bahwa orang-orang yang senasib dengannya dapat melakukan lompatan besar dan dia membuktikannya.

Beethoven dan Helen mengahantarkan kita pada keyakinan dan harapan. Jauh-jauh hari saya membayangkannya dengan khidmat.Tentang sebuah kekurangan dan rencana Tuhan.

Sahabat saya, dirinya duduk di bangku sekolah, Namanya Shawwir. Shawwir bersyukur karena mendapat penghargaan di Kongres Anak. Kita disadarkan oleh sebuah petunjuk yang masih buram selama ini, tentang nikmat dan karunia yang Maha kuasa.

Pegawai di Rumah sakit mungkin muram melihat pasien yang tak lengkap Administrasinya, atau seorang Bos yang marah kepada bawahannya. Shawwir mengingatkan soal keyakinan dan garis tangan yang akan berjejak. Dirinya menyimpan semangat itu dalam-dalam, mencoba mengenal Tuhan dengan benar dan perlahan.

Saya begitu yakin dengan semangatnya, di sebagian kalangan. Anak-anak melenial berlagak memiliki duit yang banyak namun masih pemberian orang tua, memiliki kendaraan, dan smartphone super canggih, tapi sayang Tuhan tak memberinya tanda-tanda untuk semangat bersekolah. Ia bolos dan berselewaran di warkop-warkop.

Shawwir paham bahwa orang-orang di sekitarnya adalah harapan yang tiada banding. Ia melihat cahaya di antara kegelapan yang meredam juga cinta yang bersahaja. Hingga akhirnya, Shawwir lah menyimpan cinta di lubuk hati bagi orang-orang yang melihat semangatnya.

Mungkin dirinya adalah authis dan tak bisa berbicara dengan fasih. Tapi Shawwir memiliki keyakinan yang menampar bagi siapa saja yang belum pandai bersyukur. Orang-orang di sekitar kita menyimpan cinta. Tuhan tak pilih-pilih untuk membuat hambannya tunduk dan patuh. Maka,jangan sekali-kali meninggalkannya dan lupa kepadaNya

Saya haturkan banyak terimah kasih kepada Shawwir, harapan itu selalu ada sepeti hujan di sore ini, ia sendu dan juga tulus.

Kassi, 22 Maret 2017


##shawwir #AspirasiTA #disabilitas
Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)