logo rilis
Perusahaan yang Terlibat Kontroversi Data Facebook, Tutup
Kontributor
Andi Mohammad Ikhbal
03 Mei 2018, 16:48 WIB
Perusahaan yang Terlibat Kontroversi Data Facebook, Tutup
Ilustrasi Facebook. FOTO: RILIS.ID/Intan Nirmala Sari

RILIS.ID, New York— Cambridge Analytica, perusahaan yang terlibat dalam kontroversi atas penanganan data pengguna Facebook, dan perusahaan induknya, SCL Elections, segera tutup setelah mengalami penurunan tajam dalam bisnis.

Dikatakan bahwa perusahaan itu memulai proses kepailitan, setelah kehilangan klien dan menghadapi biaya hukum yang meningkat, akibat skandal laporan perusahaan mengambil data pribadi jutaan pengguna Facebook mulai 2014.

"Kepungan pemberitaan media telah menjauhkan secara virtual hampir semua pelanggan dan pemasok," demikian dalam pernyataan Cambridge Analytica, kemarin.

Tuduhan penggunaan data yang tidak tepat pada 87 juta pengguna Facebook oleh Cambridge Analytica, yang disewa oleh pihak kampanye pemilihan Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada 2016, telah merugikan saham jaringan sosial terbesar di dunia tersebut dan mendorong beberapa penyelidikan resmi di Amerika Serikat dan Eropa.

"Selama beberapa bulan terakhir, Cambridge Analytica telah menjadi subyek banyak tuduhan tidak berdasar dan, di samping upaya perusahaan untuk memperbaiki catatan, perusahaan telah difitnah untuk kegiatan yang tidak hanya legal, tetapi juga diterima secara luas sebagai komponen standar iklan berjejaring di arena politik dan komersial."

Perusahaan itu tutup pada Rabu (2/5/2018) kemarin, dan karyawan telah diberitahu untuk menyerahkan komputer mereka, demikian laporan awal Wall Street Journal.

Setelah pengumuman itu, regulator data Inggris mengatakan akan melanjutkan penyelidikan sipil dan kriminal pada perusahaan itu dan akan mengejar individu dan direksi yang bersangkutan di samping adanya penutupan kantor.

"Kami juga akan memantau dengan seksama setiap perusahaan penerus yang menggunakan kekuatan kami untuk mengaudit dan memeriksa, untuk menjamin publik terlindungi," kata juru bicara Kantor Komisi Informasi dalam sebuah pernyataan.

"Cambridge Analytica" dibangun sekitar 2013 pada awalnya dengan fokus pada pemilihan AS, dengan 15 juta dolar AS dukungan dari miliarder pendonor Republik Robert Mercer dan sebuah nama dipilih oleh penasihat Gedung Putih Trump masa depan, Steve Bannon, demikian laporan New York Times.

Sumber: ANTARA


500
komentar (0)